Menteri Kebudayaan Republik Indonesia – Fadli Zon, menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi Extended Reality (XR) sebagai strategi utama untuk memperkuat ekosistem perfilman nasional. Ia menilai perkembangan teknologi tersebut membuka peluang besar bagi industri kreatif Indonesia untuk berkembang lebih cepat dan lebih kompetitif di tingkat global.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengembangan konten film yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata. Lebih lanjut, ia mendorong hadirnya karya yang memiliki nilai edukatif dan inspiratif, khususnya yang mengangkat tema sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Dengan demikian, film Indonesia dapat berperan lebih luas dalam membangun literasi masyarakat.
Dorongan Karya Film Bertema STEM dan Penguatan Narasi Lokal
Dalam pernyataannya, Fadli Zon menegaskan bahwa industri film perlu melahirkan lebih banyak karya bertema STEM. Ia melihat tema tersebut mampu memberikan inspirasi kepada generasi muda sekaligus memperkuat daya saing budaya Indonesia di tingkat internasional.
Selanjutnya, ia juga menekankan pentingnya penguatan ide dan narasi dalam setiap karya film. Menurutnya, teknologi hanya berperan sebagai alat pendukung, sementara cerita tetap menjadi fondasi utama. Oleh karena itu, sineas perlu mengembangkan alur cerita yang kuat agar teknologi dapat memberikan dampak maksimal terhadap kualitas produksi.
Di sisi lain, ia juga menyoroti kekayaan sumber cerita yang dimiliki Indonesia. Ia menyebut bahwa sejarah panjang Nusantara serta kisah para ilmuwan lokal memiliki potensi besar untuk diangkat ke layar lebar. Dengan pendekatan yang tepat, industri film dapat mengubah kekayaan budaya tersebut menjadi karya bernilai tinggi.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Pengembangan Film “Pelangi di Mars” dan Inovasi XR
Dalam diskusi bersama produser dan sutradara Dendi Reynando serta Upie Guava, muncul pembahasan mengenai pengembangan film berjudul Pelangi di Mars. Film ini lahir dari kebutuhan akan hadirnya film anak Indonesia yang berkualitas dan mampu merangsang imajinasi generasi muda.
Selain itu, film ini mengusung genre fiksi ilmiah dengan dukungan teknologi XR yang telah dikembangkan secara mandiri di Indonesia selama kurang lebih tiga tahun. Dalam proses tersebut, tim produksi juga membangun infrastruktur studio serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia untuk mendukung penggunaan teknologi baru tersebut.
Dengan pendekatan ini, industri film Indonesia tidak hanya mengikuti tren global, tetapi juga membangun fondasi teknologi kreatif secara mandiri. Oleh karena itu, pengembangan Pelangi di Mars menjadi salah satu contoh nyata integrasi antara kreativitas dan teknologi modern.
Keunggulan Teknologi XR dalam Produksi Film
Upie Guava menjelaskan bahwa teknologi XR memberikan fleksibilitas tinggi dalam proses produksi film. Dengan teknologi ini, sutradara dapat menciptakan berbagai latar visual tanpa harus bergantung pada lokasi fisik.
Selain itu, penggunaan XR juga membantu menekan biaya produksi secara signifikan. Proses pengambilan gambar menjadi lebih efisien karena tim produksi tidak perlu membangun set fisik dalam skala besar. Dengan demikian, teknologi ini membuka peluang bagi sineas untuk bereksperimen secara lebih luas dalam menciptakan visual sinematik.
Selanjutnya, teknologi ini juga memungkinkan proses kreatif berjalan lebih cepat. Sutradara dapat langsung melihat hasil visual dalam waktu nyata, sehingga proses pengambilan keputusan menjadi lebih efektif.
Penguatan Intellectual Property dan Nilai Ekonomi Film
Dendi Reynando menegaskan bahwa Pelangi di Mars tidak hanya berfungsi sebagai karya film, tetapi juga sebagai bagian dari strategi pengembangan intellectual property (IP) lokal. Ia mendorong pengembangan karakter dalam film agar dapat berkembang menjadi produk turunan seperti merchandise, serial, atau konten digital lainnya.
Dengan strategi tersebut, film tidak hanya menghasilkan nilai artistik, tetapi juga memberikan kontribusi ekonomi yang berkelanjutan. Selain itu, pendekatan ini juga memperkuat daya saing industri kreatif Indonesia di pasar nasional maupun internasional.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa teknologi XR juga memiliki potensi besar dalam produksi film bertema sejarah. Teknologi ini memungkinkan rekonstruksi visual masa lalu tanpa perlu membangun set fisik yang mahal. Dengan demikian, produksi film sejarah dapat berjalan lebih efisien dan realistis.
Kesimpulan
Pemanfaatan teknologi XR membuka peluang besar bagi transformasi industri perfilman Indonesia. Dengan dukungan kebijakan dari Fadli Zon, serta inovasi dari kreator seperti Dendi Reynando dan Upie Guava, industri film nasional menunjukkan arah perkembangan yang semakin progresif.
Selain itu, integrasi antara teknologi, kreativitas, dan pengembangan IP lokal menciptakan fondasi yang kuat bagi masa depan perfilman Indonesia. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci utama dalam mendorong lahirnya karya-karya berkualitas tinggi yang mampu bersaing di tingkat global.