Yheni Aprilia Susanti – Menjadi seorang pesinden bukan hanya soal menyanyikan lagu-lagu tradisional Jawa di atas panggung. Profesi ini menuntut kedisiplinan, kemampuan vokal yang mumpuni, serta komitmen tinggi dalam menjaga kualitas seni budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hal inilah yang terus di jalani oleh Yheni Aprilia Susanti, pesinden muda asal Kabupaten Pati yang kini semakin dikenal berkat penampilannya di berbagai acara kesenian.
Perempuan berusia 26 tahun tersebut selalu berusaha memberikan penampilan terbaik di setiap kesempatan. Baginya, seorang pesinden harus mampu menempatkan profesionalisme di atas segala persoalan pribadi. Saat tampil di depan penonton, fokus utama adalah menyuguhkan hiburan dan menjaga kualitas pertunjukan.
Menurut Yheni, kondisi pribadi maupun berbagai persoalan di luar panggung tidak boleh memengaruhi performa saat bekerja. Penonton datang untuk menikmati pertunjukan, sehingga seorang pesinden harus tetap tampil energik dan penuh semangat selama acara berlangsung.
Menjadi Pesinden Membutuhkan Kemampuan Khusus
Yheni yang berasal dari Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati, menegaskan bahwa profesi pesinden tidak semudah yang di bayangkan banyak orang. Di balik penampilan yang terlihat anggun dan tenang, terdapat proses belajar panjang yang harus dilalui untuk menguasai berbagai teknik vokal khas Jawa.
Seorang pesinden harus memahami berbagai jenis gending Jawa, menguasai cengkok atau ornamentasi vokal tradisional, serta memiliki kemampuan mengontrol suara pada nada tinggi. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi utama dalam dunia sinden.
Lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta itu menjelaskan bahwa kesalahan kecil dalam teknik vokal dapat memengaruhi kualitas penampilan secara keseluruhan. Oleh karena itu, latihan rutin menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Yheni juga menyoroti fenomena yang berkembang saat ini, di mana sebagian masyarakat menganggap profesi sinden hanya sebatas tampil menggunakan busana tradisional. Menurutnya, tidak sedikit penampil yang mengaku sebagai sinden tetapi lebih banyak membawakan lagu-lagu populer atau dangdut daripada gending Jawa yang menjadi ciri khas profesi tersebut.
Karena itu, ia merasa bangga dapat menekuni profesi pesinden secara serius. Baginya, kemampuan nyinden membutuhkan proses belajar yang tidak singkat dan tidak semua orang dapat melakukannya dengan baik.
Jadwal Manggung Semakin Padat Sepanjang 2026
Popularitas Yheni sebagai pesinden profesional terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut terlihat dari jumlah undangan tampil yang terus bertambah sepanjang tahun 2026.
Ia mengungkapkan bahwa permintaan tampil mulai meningkat sejak memasuki bulan Syawal. Berbagai acara hajatan, pernikahan, hingga pertunjukan budaya memberikan banyak peluang bagi para pelaku seni tradisional untuk kembali aktif setelah periode yang relatif sepi.
Dalam catatannya, Yheni menerima 24 undangan tampil pada Januari 2026. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap pertunjukan seni tradisional Jawa.
Ketika memasuki Februari yang bertepatan dengan bulan Ramadan, jumlah pekerjaan memang mengalami penurunan menjadi sekitar 10 kali tampil. Namun situasi tersebut tidak berlangsung lama. Setelah Ramadan berakhir, aktivitas panggung kembali meningkat secara signifikan.
Pada Maret 2026, Yheni menerima sekitar 20 undangan tampil. Angka itu kembali bertambah pada April dengan total 23 pertunjukan. Dalam beberapa pekan tertentu, ia bahkan harus menjalani jadwal manggung hingga lima kali dalam seminggu.
Peningkatan jumlah pekerjaan tersebut menunjukkan bahwa seni tradisional Jawa masih memiliki tempat di tengah masyarakat, terutama dalam berbagai acara adat dan perayaan keluarga.

Yheni Aprilia Susanti, sinden muda asal Desa Tambahmulyo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati.
Menjaga Stamina di Tengah Aktivitas yang Padat
Padatnya jadwal pertunjukan membuat Yheni harus menjaga kondisi tubuh dan kualitas vokalnya dengan baik. Sebagai pesinden, kesehatan menjadi faktor penting yang menentukan kualitas penampilan.
Dalam satu acara, Yheni biasanya menghabiskan waktu antara tiga hingga lima jam di atas panggung. Selama pertunjukan berlangsung, ia membawakan beberapa lagu atau gending Jawa sesuai kebutuhan acara.
Durasi yang cukup panjang tersebut membutuhkan stamina yang prima. Selain menjaga pola makan dan istirahat, Yheni juga rutin melakukan latihan vokal agar kualitas suaranya tetap stabil.
Menurutnya, konsistensi dalam menjaga kesehatan menjadi investasi penting bagi seorang pelaku seni. Dengan kondisi fisik yang baik, seorang pesinden dapat memberikan penampilan maksimal tanpa mengalami gangguan selama pertunjukan berlangsung.
Profesi Pesinden Masih Menjanjikan
Selain menjadi sarana untuk melestarikan budaya, profesi pesinden juga memberikan peluang ekonomi yang cukup baik. Untuk setiap kali tampil, Yheni memperoleh honor yang bervariasi tergantung lokasi dan jarak tempuh menuju tempat acara.
Rata-rata pendapatan yang diterimanya berkisar antara Rp600 ribu hingga Rp750 ribu dalam satu pertunjukan. Besaran tersebut dapat berubah sesuai kebutuhan acara dan lokasi pelaksanaan.
Pendapatan itu menunjukkan bahwa profesi pesinden masih memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan dan reputasi yang baik di dunia seni tradisional.
Harapan untuk Generasi Muda Pecinta Seni Tradisional
Di tengah perkembangan teknologi dan tren hiburan modern, Yheni tetap optimistis terhadap masa depan seni sinden. Ia melihat masih banyak anak muda yang tertarik mempelajari kesenian Jawa dan berusaha menjaga keberlangsungannya.
Menurutnya, minat generasi muda menjadi faktor penting dalam upaya pelestarian budaya. Tanpa adanya regenerasi, kesenian tradisional berisiko kehilangan penerus yang mampu menjaga kualitas dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, Yheni berharap semakin banyak anak muda yang mempelajari seni sinden secara serius dan mendalam. Ia ingin generasi berikutnya tidak hanya mengikuti tren sesaat, tetapi benar-benar memahami esensi dan keindahan seni vokal tradisional Jawa.
Melalui dedikasi dan konsistensinya di dunia seni, Yheni Aprilia Susanti menjadi contoh bahwa profesi pesinden masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern. Di tengah perubahan zaman, ia terus berupaya menjaga warisan budaya Jawa agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.