Pemerintah Indonesia –  terus mendorong percepatan penggunaan kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya menekan konsumsi bahan bakar fosil sekaligus mengurangi emisi karbon. Kendaraan listrik di proyeksikan menjadi salah satu pilar utama dalam transisi energi nasional. Meski demikian, dinamika pasar dan tingkat adopsi masyarakat membuat target pengembangan kendaraan listrik mengalami penyesuaian.

Melalui kebijakan terbaru, pemerintah merevisi sasaran jumlah kendaraan listrik yang di harapkan beroperasi pada tahun 2030. Perubahan tersebut di nilai sebagai langkah yang lebih realistis dengan mempertimbangkan perkembangan industri, kesiapan infrastruktur, serta daya beli masyarakat.

Di sisi lain, pelaku industri, termasuk PT Astra Honda Motor (AHM), menilai bahwa pencapaian target baru tetap membutuhkan kerja sama berbagai pihak agar proses elektrifikasi kendaraan dapat berjalan sesuai harapan.

Pemerintah Menyesuaikan Target Kendaraan Listrik Nasional

Pada 2024, pemerintah menetapkan target ambisius dengan harapan terdapat sekitar 2 juta mobil listrik dan 13 juta sepeda motor listrik yang beroperasi di Indonesia pada 2030. Sasaran tersebut di harapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap penghematan energi hingga 29,79 Million Barrel Oil Equivalent (MBOE) serta menurunkan emisi karbon sekitar 7,23 juta ton CO2.

Namun, target tersebut kemudian mengalami revisi melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 85.K/TL.01/MEM.L/2025 tentang Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).

Dalam dokumen tersebut, pemerintah menyesuaikan proyeksi penetrasi kendaraan listrik hingga tahun 2030 menjadi sekitar 400 ribu hingga 600 ribu unit mobil listrik, 2,9 juta hingga 3,8 juta sepeda motor listrik, 4.500 hingga 6.000 unit bus listrik, serta 81 ribu sampai 107 ribu unit truk listrik.

Meski jumlah tersebut lebih rendah di bandingkan target sebelumnya, pencapaiannya tetap di pandang sebagai tantangan besar mengingat waktu menuju 2030 kini semakin terbatas.

AHM Menilai Seluruh Pihak Memiliki Tanggung Jawab

Direktur Marketing PT Astra Honda Motor (AHM), Octavianus Dwi Putro, menilai target pemerintah tetap membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan agar dapat di realisasikan.

Menurutnya, target nasional memang penting sebagai arah pembangunan industri kendaraan listrik. Namun, proses menuju sasaran tersebut harus di sesuaikan dengan kondisi nyata di lapangan.

Ia mengibaratkan target tersebut sebagai sebuah bendera yang telah di pasang di puncak gunung. Semua pihak memiliki tujuan yang sama, tetapi kemampuan dan kecepatan untuk mencapainya tidak selalu seragam. Oleh karena itu, di perlukan penyesuaian strategi agar target dapat di capai secara bertahap dan realistis.

Pendekatan tersebut di nilai lebih sesuai dengan kondisi pasar kendaraan listrik Indonesia yang hingga kini masih berada dalam tahap perkembangan awal.

Diskon Besar Belum Menjadi Solusi Jangka Panjang

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan minat masyarakat, AHM sempat menawarkan potongan harga besar untuk sejumlah motor listrik Honda pada pertengahan 2025.

Program promosi tersebut mencakup beberapa model seperti Honda CUV e:, EM1 e:, dan ICON e:. Besaran potongan harga yang di berikan bahkan mencapai lebih dari separuh harga normal sehingga mendapat respons positif dari konsumen. Persediaan unit promo pun di kabarkan habis dalam waktu singkat.

Walaupun demikian, perusahaan menilai strategi diskon bukanlah solusi permanen untuk membangun pasar kendaraan listrik.

Menurut AHM, program promosi memang mampu meningkatkan penjualan dalam jangka pendek. Akan tetapi, pertumbuhan pasar yang sehat tetap harus di topang oleh meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan listrik, bukan semata karena adanya potongan harga.

Motor listrik Honda dipamerkan sebagai bagian dari upaya mendukung target kendaraan listrik Indonesia hingga 2030.

Ilustrasi booth Honda di Jakarta Fair 2026 yang menampilkan motor listrik.

Konsumen Masih Menjadikan Motor Listrik Sebagai Kendaraan Tambahan

Salah satu tantangan utama dalam pengembangan kendaraan listrik adalah perubahan perilaku konsumen.

AHM menilai sebagian besar pembeli motor listrik saat ini belum benar-benar menggantikan sepeda motor berbahan bakar bensin yang di miliki sebelumnya. Sebaliknya, kendaraan listrik lebih sering di gunakan sebagai kendaraan kedua dalam rumah tangga.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses adopsi kendaraan listrik masih berada pada fase awal atau early adoption. Pada tahap ini, konsumen umumnya masih mencoba teknologi baru tanpa meninggalkan kendaraan konvensional sepenuhnya.

Padahal, menurut perusahaan, pilihan motor listrik yang tersedia saat ini sudah memiliki performa yang cukup memadai untuk kebutuhan mobilitas harian. Selain itu, harga sejumlah model juga semakin kompetitif di bandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Namun demikian, peningkatan kualitas produk dan harga yang lebih terjangkau belum sepenuhnya mampu mendorong lonjakan permintaan secara signifikan.

Roadmap Elektrifikasi Honda Tetap Berjalan

AHM sebelumnya telah memperkenalkan roadmap elektrifikasi yang menargetkan penjualan kumulatif satu juta unit motor listrik pada tahun 2030.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Honda berencana menghadirkan sedikitnya tujuh model motor listrik untuk pasar Indonesia.

Hingga pertengahan 2026, perusahaan telah meluncurkan empat model, yaitu EM1 e:, EM1 e: Plus, ICON e:, serta CUV e:.

Dengan demikian, masih terdapat peluang bagi Honda untuk menghadirkan tiga model tambahan sesuai rencana awal. Meski begitu, perusahaan belum memberikan rincian mengenai jadwal maupun spesifikasi produk yang akan di perkenalkan.

AHM juga memilih bersikap realistis terhadap target penjualannya. Perusahaan menegaskan bahwa keberhasilan program elektrifikasi tidak hanya di tentukan oleh ambisi produsen. Tetapi juga bergantung pada tingkat penerimaan konsumen terhadap kendaraan listrik.

Pertumbuhan Populasi Motor Listrik Terus Berlanjut

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa jumlah motor listrik di Indonesia mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2020, populasi motor listrik tercatat sekitar 3.357 unit. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 13.903 unit pada 2021 dan bertambah menjadi 31.101 unit pada 2022.

Pertumbuhan semakin pesat pada 2023 dengan jumlah mencapai 93.510 unit. Selanjutnya, populasi meningkat menjadi 170.588 unit pada 2024 dan mencapai 229.820 unit sepanjang 2025.

Sementara itu, hingga Februari 2026 jumlah kendaraan roda dua berbasis listrik telah bertambah menjadi sekitar 236.451 unit.

Lonjakan terbesar terjadi ketika pemerintah masih memberikan insentif pembelian motor listrik sebesar Rp7 juta per unit. Kebijakan tersebut berhasil meningkatkan minat masyarakat terhadap kendaraan listrik.

Namun, setelah program subsidi berakhir pada penghujung 2024, laju pertumbuhan pasar mulai melambat. Penambahan populasi motor listrik tetap terjadi, tetapi kecepatannya tidak sebesar ketika insentif masih di berlakukan.

Tantangan Elektrifikasi Masih Membutuhkan Kolaborasi

Perjalanan menuju target kendaraan listrik nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penerimaan masyarakat, pengembangan infrastruktur pengisian daya, hingga keberlanjutan kebijakan pemerintah.

Revisi target pemerintah menunjukkan adanya penyesuaian terhadap kondisi pasar yang berkembang. Meski demikian, peluang pertumbuhan industri kendaraan listrik di Indonesia tetap terbuka lebar apabila seluruh pemangku kepentingan mampu membangun ekosistem yang mendukung.

Kolaborasi antara pemerintah, produsen kendaraan, penyedia infrastruktur, serta masyarakat akan menjadi faktor penting dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik. Dengan strategi yang lebih realistis dan berkelanjutan, target elektrifikasi nasional di harapkan dapat tercapai secara bertahap sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dan transisi menuju energi yang lebih bersih.