Media internasional BBC – Kembali menyoroti destinasi bawah laut terbaik dunia melalui laporan yang dirilis pada 11 April 2026. Dalam daftar tersebut, Raja Ampat di Papua Barat Daya menempati posisi istimewa sebagai salah satu lokasi menyelam terbaik di dunia. Kawasan ini sering di juluki sebagai “surga terakhir di bumi” karena kekayaan ekosistem lautnya yang luar biasa.

BBC menilai Raja Ampat sebagai lokasi ideal untuk aktivitas menyelam dengan konsep liveaboard, yaitu perjalanan menggunakan kapal yang sekaligus menjadi tempat tinggal. Konsep ini memungkinkan penyelam menghabiskan lebih banyak waktu di laut tanpa harus kembali ke daratan, sehingga pengalaman eksplorasi menjadi lebih maksimal.

Keanekaragaman Hayati Laut Raja Ampat yang Mendunia

Raja Ampat berada di jantung Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), wilayah yang di kenal sebagai pusat keanekaragaman hayati laut dunia. Menurut data Oceanic Society, kawasan ini memiliki lebih dari 600 spesies karang keras dan sekitar 1.700 spesies ikan karang.

Kekayaan tersebut membuat Raja Ampat menjadi rumah bagi berbagai spesies laut ikonik. Penyelam dapat menemukan hiu paus, pari manta, penyu laut, lumba-lumba, hingga hiu wobbegong dalam satu perjalanan. Kondisi ini menjadikan Raja Ampat sebagai salah satu destinasi impian bagi penyelam profesional maupun wisatawan petualang.

BBC juga menyoroti keindahan lanskap lautnya yang terdiri dari pulau-pulau karst, perairan jernih, serta ekosistem yang masih sangat alami. Wilayah ini juga telah di tetapkan sebagai Geopark Global UNESCO dan Cagar Biosfer, memperkuat posisinya sebagai kawasan konservasi kelas dunia.

Wisata Liveaboard dan Kapal Phinisi Tradisional

Dalam rekomendasinya, BBC menyarankan wisatawan untuk menikmati pengalaman menyelam di Raja Ampat menggunakan kapal phinisi tradisional. Kapal kayu khas Indonesia ini di anggap lebih sesuai dengan karakter alam Raja Ampat di bandingkan kapal pesiar modern.

Perjalanan dengan kapal phinisi memungkinkan wisatawan menjelajahi berbagai titik selam secara fleksibel. Aktivitas ini biasanya berlangsung selama beberapa hari, sehingga wisatawan dapat menikmati pengalaman menyelam secara mendalam di berbagai lokasi.

Musim terbaik untuk menyelam di Raja Ampat berlangsung antara Oktober hingga April. Pada periode tersebut, kondisi laut relatif tenang dan visibilitas air berada pada tingkat optimal.

Menurut Kristin Valette Wirth dari PADI Worldwide, aktivitas menyelam tidak hanya sekadar olahraga, tetapi juga mengubah cara seseorang dalam memahami dan menikmati perjalanan wisata laut secara keseluruhan.

Raja Ampat

Perairan Polinesia Prancis dinobatkan sebagai tempat menyelam terbaik dengan hiu.

Polinesia Prancis dan Surga Hiu Dunia

Selain Raja Ampat, BBC juga memasukkan Polinesia Prancis sebagai salah satu destinasi menyelam terbaik dunia. Wilayah ini terkenal sebagai habitat berbagai spesies hiu yang hidup dalam jumlah besar dan dalam kondisi alami.

Di Bora Bora dan Moorea, penyelam dapat melihat hiu karang sirip hitam yang berenang di sekitar laguna. Sementara itu, Kepulauan Tuamotu menawarkan pengalaman menyelam tingkat lanjut dengan konsentrasi hiu karang abu-abu dalam jumlah besar.

Di Atol Fakarava, penyelam dapat menyaksikan fenomena langka berupa “dinding hiu” yang terbentuk dari ratusan hiu karang abu-abu yang bergerak mengikuti arus laut. Dalam kondisi tertentu, hiu martil besar juga dapat terlihat melintasi area tersebut.

Para ahli seperti Profesor Yannis Papastamatiou menjelaskan bahwa Polinesia Prancis memiliki kepadatan hiu yang sangat tinggi tanpa perlu penggunaan umpan, menjadikannya salah satu ekosistem predator laut paling alami di dunia.

Ancaman terhadap Kelestarian Raja Ampat

Di balik reputasinya sebagai destinasi wisata kelas dunia, Raja Ampat menghadapi berbagai tantangan lingkungan. Salah satu isu utama datang dari aktivitas pertambangan ilegal yang masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Papua Barat Daya.

Pemerintah menegaskan komitmennya untuk menindak tambang ilegal yang merusak lingkungan. Aktivitas tersebut tidak hanya mengancam ekosistem darat, tetapi juga berdampak pada ekosistem laut melalui sedimentasi dan pencemaran.

Selain itu, meningkatnya aktivitas wisata juga menimbulkan tekanan baru. Jumlah kapal wisata dan kapal pesiar di laporkan mengalami kenaikan signifikan setelah pandemi, dengan pertumbuhan mencapai 15–20 persen.

Kondisi ini meningkatkan risiko kerusakan terumbu karang akibat lalu lintas kapal yang tidak terkontrol. Insiden seperti kerusakan terumbu karang akibat kapal MV Caledonian Sky pada tahun 2017 menjadi peringatan serius bagi pengelolaan kawasan ini.

Tantangan Regulasi dan Keselamatan Maritim

Para pengamat maritim menilai bahwa perlindungan Raja Ampat masih menghadapi beberapa kendala teknis. Salah satunya adalah ketidakakuratan peta navigasi yang di gunakan oleh kapal asing.

Selain itu, keterbatasan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) juga menjadi perhatian. Beberapa jalur pelayaran penting masih kekurangan penanda navigasi yang memadai, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan kapal.

Isu lainnya adalah belum di tetapkannya Raja Ampat sebagai Particularly Sensitive Sea Area (PSSA) oleh Organisasi Maritim Internasional. Status ini di anggap penting untuk memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat terhadap kawasan laut yang rentan.

Upaya Perlindungan Melalui Kebijakan Daerah

Pemerintah daerah Papua Barat Daya mulai mengambil langkah konkret untuk menjaga kelestarian Raja Ampat. Salah satu kebijakan yang di terapkan adalah pemasangan mooring buoy atau tambat labuh kapal wisata.

Sistem ini menggantikan penggunaan jangkar tradisional yang dapat merusak terumbu karang. Selain itu, pemerintah juga menerbitkan aturan yang mewajibkan kapal wisata menggunakan fasilitas mooring di kawasan tertentu.

Langkah ini di perkuat dengan pemasangan fasilitas tambahan di beberapa titik strategis, termasuk di Kepulauan Fam dan perairan Friwen. Kebijakan ini bertujuan menekan dampak negatif aktivitas wisata terhadap ekosistem laut.

Kesimpulan

Raja Ampat kembali mengukuhkan dirinya sebagai salah satu destinasi menyelam terbaik dunia versi BBC. Keindahan alam bawah laut, kekayaan biodiversitas, serta pengalaman liveaboard menjadikannya magnet bagi wisatawan internasional.

Namun, di balik reputasi tersebut, Raja Ampat menghadapi tantangan serius dalam hal perlindungan lingkungan dan tata kelola wisata. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku industri menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan kawasan ini agar tetap lestari sebagai warisan dunia.