Persaingan Militer AS-China kini tidak hanya berlangsung di darat, laut, dan udara. Washington dan Beijing terus memperkuat kemampuan mereka di luar angkasa melalui pengembangan satelit bermanuver, teknologi pengejar wahana antariksa, sistem pencegat orbital, hingga perangkat yang mampu mengganggu satelit lawan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa orbit Bumi semakin memiliki peran penting dalam strategi pertahanan modern.
Amerika Serikat bersama negara sekutunya mulai meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan konflik yang melibatkan aset antariksa. Sementara itu, China juga memperlihatkan kemajuan teknologi melalui sejumlah manuver satelit yang menarik perhatian pengamat pertahanan.
Perubahan situasi tersebut membuat negara-negara besar semakin memandang satelit bukan sekadar sarana komunikasi dan pengamatan. Militer modern kini menjadikan infrastruktur antariksa sebagai bagian penting dalam navigasi, intelijen, pengawasan, komunikasi, dan sistem pertahanan.
AS dan Inggris Perlihatkan Kemampuan Manuver Satelit
Salah satu perkembangan yang menarik perhatian terjadi ketika militer Amerika Serikat dan Inggris menjalankan operasi gabungan di antariksa. Kedua negara mengarahkan satelit militer mereka untuk melakukan manuver jarak dekat.
Pada saat operasi berlangsung, satelit Shiyan 12-01 milik China melintas sekitar 83 kilometer di bawah posisi kedua satelit tersebut.
Andrew Turner, mantan perwira tinggi Angkatan Udara Inggris yang kemudian bekerja sebagai konsultan antariksa, menilai langkah tersebut sebagai sinyal strategis kepada Beijing. Menurut penilaiannya, Washington dan London ingin memperlihatkan kekompakan sekutu sekaligus menunjukkan kemampuan mereka melindungi aset antariksa.
Mantan Kepala Komando Antariksa Inggris Mayor Jenderal Paul Tedman juga menyoroti perubahan fungsi ruang angkasa dalam peperangan modern. Militer tidak lagi hanya memakai teknologi antariksa untuk membantu operasi di permukaan Bumi. Kemampuan tersebut kini dapat menentukan keberhasilan suatu operasi.
Pandangan tersebut membuat militer mulai memperlakukan satelit sebagai aset yang harus mampu bergerak dan menghadapi berbagai ancaman di orbit.
China Tingkatkan Kemampuan Satelit Pemburu
Di tengah persaingan militer AS-China, Beijing terus memperlihatkan perkembangan teknologi antariksa yang signifikan. Pada Juni, sebuah wahana antariksa nirawak rahasia China melepaskan satelit kecil di kawasan orbit yang ramai.
Data perusahaan pemantau antariksa LeoLabs menunjukkan satelit kecil tersebut bergerak mengelilingi satelit China lainnya sebelum kembali mendekati wahana induknya.
Berbagai dokumen paten, pengadaan, dan penelitian akademis juga menunjukkan bahwa peneliti China yang memiliki hubungan dengan sektor militer mengembangkan teknologi untuk mengejar serta menangkap wahana antariksa lain. Mereka juga mempelajari kemampuan pengisian bahan bakar langsung di orbit.
China bahkan telah menunjukkan manuver yang menyerupai orbital dogfighting. Dalam manuver semacam ini, beberapa satelit bergerak secara terkoordinasi dalam jarak relatif dekat.
Selain itu, China telah memperlihatkan teknologi yang memungkinkan wahana antariksa menangkap satelit rusak kemudian memindahkannya menuju orbit berbeda.
PLA Daily pada 2022 menekankan pentingnya kemampuan menguasai ruang antariksa untuk menjaga keamanan nasional, mempertahankan inisiatif strategis, serta mendukung kemenangan dalam konflik.

Ilustrasi satelit GPS mengorbit bumi.
Pentagon Khawatir Serangan Satelit Bisa Mengganggu Operasi Militer
Amerika Serikat menaruh perhatian besar terhadap kemampuan yang dapat mengancam asetnya di orbit. Pentagon mengandalkan satelit untuk menjalankan berbagai fungsi penting dalam operasi militer modern.
Konflik di Ukraina dan Timur Tengah menunjukkan besarnya peranan sistem berbasis antariksa. Satelit membantu militer menyediakan komunikasi, menentukan posisi, menjalankan navigasi, mengumpulkan intelijen, dan melakukan pengawasan.
Everett Dolman, mantan profesor di US Air Force’s Air War College, memperingatkan bahwa gangguan terhadap kemampuan antariksa Amerika dapat memengaruhi operasi militernya di Bumi secara luas. Dampaknya dapat menjangkau sistem pengawasan hingga pertahanan rudal.
Dolman juga menilai wahana antariksa yang memiliki kelincahan tinggi dan kemampuan menyebarkan satelit berpotensi membuat negara lawan melihatnya seperti pesawat tempur yang beroperasi di orbit.
Kepala Operasi Pasukan Antariksa AS Jenderal Chance Saltzman turut menyoroti peningkatan kemampuan China. Ia menyatakan Beijing bergerak cepat dalam mengembangkan teknologi berbasis darat maupun antariksa yang dapat mengganggu atau menghancurkan sasaran.
AS Bersiap Menghadapi Kemungkinan Konflik Antariksa
Kepala Komando Antariksa AS Jenderal Stephen Whiting mendorong Amerika untuk membangun posisi tempur yang lebih aktif. Strategi tersebut dapat mencakup pengembangan pencegat orbital dan kemampuan pertahanan lainnya.
Whiting menilai Washington perlu memiliki kesiapan tinggi apabila penangkalan tidak mampu mencegah konflik di ruang angkasa.
Persaingan ini berlangsung ketika jumlah objek di orbit Bumi terus meningkat. SpaceX mengoperasikan sekitar 11.000 satelit Starlink. Perusahaan tersebut juga merencanakan pengembangan konstelasi pusat data berbasis kecerdasan buatan di antariksa.
Pada saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump mendorong program pertahanan rudal Golden Dome. Konsep tersebut mencakup kemungkinan penggunaan pencegat berbasis antariksa sebagai bagian dari sistem pertahanan.
Pasukan Antariksa AS juga mengumumkan pengoperasian perangkat elektromagnetik berbasis darat buatan L3Harris Technologies pada Juni. Sistem tersebut memiliki kemampuan untuk mengganggu atau melumpuhkan fungsi satelit lawan.
Selain China, Washington menaruh perhatian terhadap Rusia. Amerika menuduh Moskwa mengembangkan kemampuan antisatelit yang berkaitan dengan senjata nuklir di luar angkasa. Pemerintah Rusia membantah tuduhan tersebut.
China Tolak Tuduhan Perlombaan Senjata Antariksa
China memberikan pandangan berbeda mengenai peningkatan aktivitas militer di orbit. Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak mengetahui secara terperinci operasi satelit gabungan Amerika Serikat dan Inggris.
Beijing menegaskan dukungannya terhadap pemanfaatan ruang angkasa secara damai dan menyatakan penolakan terhadap penempatan persenjataan di antariksa.
China justru menilai Amerika Serikat turut mendorong perlombaan senjata melalui sejumlah rencana pertahanan. Beijing menyoroti Golden Dome dan kemungkinan pengembangan persenjataan berbasis antariksa sebagai contoh kebijakan yang dapat meningkatkan ketegangan.
Mengenai satelit Shiyan 12-01 dan wahana eksperimental China, kementerian tersebut menyatakan tidak memiliki informasi lebih lanjut. Kantor berita Xinhua sebelumnya menyebut Shiyan 12-01 menjalankan fungsi survei lingkungan antariksa. Xinhua juga menggambarkan wahana eksperimental China sebagai bagian dari pengembangan teknologi untuk mendukung penggunaan ruang angkasa secara damai.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa persaingan militer AS-China memasuki wilayah strategis baru. Ketergantungan militer terhadap satelit membuat keamanan orbit semakin penting. Apabila rivalitas teknologi terus meningkat, kemampuan mempertahankan aset antariksa dapat menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keseimbangan kekuatan militer pada masa mendatang.