Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta – Menghadirkan suasana haru pada Minggu (24/5/2026) sore ketika keluarga, kerabat, dan relawan berkumpul untuk menyambut sembilan Warga Negara Indonesia yang baru kembali dari luar negeri. Mereka menyambut Rahendro Herubowo atau Heru bersama delapan aktivis lain yang kembali ke Indonesia setelah menjalani rangkaian kejadian berat dalam misi kemanusiaan.
Para keluarga langsung memeluk dan menyapa para aktivis saat mereka tiba di area kedatangan internasional. Tangis lega dan rasa syukur langsung muncul ketika para relawan kembali menginjakkan tanah air setelah perjalanan yang penuh tekanan.
Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla
Para aktivis Indonesia mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Mereka membawa bantuan makanan dan obat-obatan untuk warga Gaza, Palestina. Tim relawan mengarungi Laut Mediterania timur untuk mendekati wilayah tujuan dan menyalurkan bantuan kemanusiaan secara langsung.
Heru dan rekan-rekannya menganggap misi tersebut sebagai bagian dari aksi solidaritas global. Mereka menilai kondisi kemanusiaan di Gaza membutuhkan dukungan langsung dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Penangkapan di Laut Mediterania Timur
Militer Israel menghadang kapal yang membawa para relawan ketika mereka memasuki wilayah Laut Mediterania timur. Aparat Israel menghentikan perjalanan kapal dan langsung mengambil alih kendali atas seluruh penumpang.
Heru menceritakan bahwa tentara Israel mengarahkan seluruh relawan untuk mengikuti perintah mereka tanpa pengecualian. Mereka memisahkan para aktivis dari barang bawaan dan dokumen pribadi. Petugas juga mengamankan paspor seluruh peserta misi.
Situasi di atas kapal berubah tegang ketika militer Israel mengarahkan para relawan ke area tertentu dan membatasi gerakan mereka secara ketat. Para aktivis kehilangan kendali atas perjalanan yang mereka rencanakan sebelumnya.
Pengalaman Kekerasan dan Tekanan Selama Penahanan
Heru menjelaskan bahwa tentara Israel memperlakukan para relawan dengan kekerasan fisik dan tekanan psikologis selama proses penahanan. Para tentara memerintahkan mereka untuk berada dalam posisi telungkup dan menjaga kepala tetap menempel ke lantai kapal.
Heru juga menyampaikan bahwa tentara Israel mengarahkan air ke dalam area penahanan sehingga kondisi tubuh menjadi basah dan dingin. Situasi tersebut membuat para relawan kesulitan mempertahankan kondisi tubuh yang stabil.
Selain itu, Heru mengaku mengalami tindakan fisik seperti dorongan keras, pukulan, dan tekanan dengan alat tertentu. Ia berusaha bertahan sambil mengikuti instruksi yang diberikan agar menghindari cedera lebih parah.
Tekanan psikologis juga muncul secara terus-menerus. Tentara Israel menciptakan suasana intimidatif melalui teriakan, pengawasan ketat, dan pembatasan aktivitas dasar seperti makan dan istirahat.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menuai kecaman internasional setelah mengunggah video yang memperlihatkan perlakuan terhadap para aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan di Israel.
Pemindahan ke Fasilitas Penahanan dan Kondisi Berat
Militer Israel kemudian memindahkan para aktivis ke fasilitas penahanan dan kantor imigrasi. Petugas imigrasi Israel menempatkan mereka dalam posisi telungkup selama beberapa jam sambil menunggu proses administrasi.
Heru menjelaskan bahwa para petugas terus memberikan instruksi keras dengan nada tinggi. Mereka meminta para aktivis menjaga posisi kepala tetap menunduk dan melarang mereka bergerak tanpa izin.
Para relawan juga menghadapi kondisi lingkungan yang berat, termasuk paparan panas matahari dalam waktu lama. Situasi tersebut membuat kondisi fisik mereka semakin melemah selama proses penahanan berlangsung.
Kepulangan ke Indonesia dan Proses Pemulihan
Setelah menjalani penahanan selama beberapa hari, Heru dan delapan WNI lain akhirnya kembali ke Indonesia. Keluarga dan para pendukung langsung menyambut mereka di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta dengan penuh haru.
Meski kembali dengan selamat, Heru menyampaikan bahwa kondisi fisiknya masih membutuhkan pemulihan. Ia merencanakan pemeriksaan medis menyeluruh untuk memastikan kondisi tubuhnya setelah mengalami berbagai tekanan selama penahanan.
Tim medis dan keluarga memberikan perhatian khusus kepada para aktivis untuk membantu proses pemulihan fisik dan mental mereka.
Komitmen Melanjutkan Aksi Kemanusiaan
Heru menegaskan bahwa pengalaman tersebut tidak menghentikan komitmennya terhadap perjuangan kemanusiaan di Palestina. Ia menilai penderitaan warga Gaza masih jauh lebih berat dibandingkan pengalaman yang ia alami selama penahanan.
Ia juga menyampaikan bahwa aksi solidaritas tetap penting untuk menjaga perhatian dunia terhadap kondisi kemanusiaan di wilayah konflik. Para aktivis Indonesia berencana terus menyuarakan isu tersebut melalui berbagai jalur advokasi.
Kesimpulan
Kepulangan sembilan WNI dari misi Global Sumud Flotilla menutup rangkaian peristiwa yang penuh tekanan dan risiko tinggi. Perjalanan mereka menunjukkan tantangan besar dalam misi kemanusiaan di wilayah konflik internasional. Meski menghadapi pengalaman berat, para aktivis tetap membawa semangat solidaritas dan komitmen untuk melanjutkan perjuangan kemanusiaan di masa depan.