Gempa Bumi – Yang mengguncang wilayah Adonara, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), masih meninggalkan dampak yang signifikan hingga saat ini. Selain itu, gempa susulan yang terus terjadi membuat warga belum berani kembali ke rumah mereka. Akibatnya, banyak warga memilih bertahan di tenda darurat demi alasan keselamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur mencatat bahwa kondisi psikologis warga masih sangat terpengaruh. Oleh karena itu, mereka lebih memilih tidur di luar rumah meskipun beberapa rumah tidak mengalami kerusakan parah.
Ribuan Warga Masih Mengungsi di Titik-Titik Terpisah
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Flores Timur, Maria Goretty Nebo Tukan, menjelaskan bahwa hingga Minggu (12/4), jumlah pengungsi mencapai sekitar 1.383 jiwa. Selain itu, para pengungsi tersebar di beberapa titik di dua desa terdampak, yaitu Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya di Kecamatan Adonara Timur.
Di sisi lain, warga masih merasakan ketakutan akibat gempa susulan yang terus terjadi. Dengan demikian, mereka belum kembali menjalani aktivitas normal sepenuhnya. Bahkan, sebagian besar keluarga memilih tetap tinggal di lokasi pengungsian meskipun kondisi rumah mereka masih dapat ditempati.
Pola Pengungsian Menyebar Dekat Permukiman
BPBD Flores Timur tidak memusatkan pengungsian di satu lokasi besar. Sebaliknya, petugas mendirikan tenda di beberapa titik yang tersebar dan berada dekat dengan rumah warga.
Menurut Maria Goretty, langkah tersebut diambil karena sebagian besar warga masih harus tetap menjalankan aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, lokasi tenda ditempatkan dekat dengan permukiman agar warga tetap bisa memantau kondisi rumah dan lingkungan sekitar.
Selain itu, pendekatan ini juga membantu warga merasa lebih aman karena mereka tidak terlalu jauh dari rumah masing-masing. Meskipun demikian, kondisi psikologis warga masih menunjukkan tanda-tanda trauma.

Warga membuat tenda darurat di depan rumah untuk tidur malam.
Distribusi Bantuan Logistik untuk Korban Gempa
Selain mendirikan tenda pengungsian, BPBD juga menyalurkan bantuan logistik kepada para korban gempa. Bantuan tersebut mencakup kebutuhan dasar seperti makanan, termasuk beras yang di bagikan secara langsung kepada warga terdampak.
Di samping itu, pemerintah daerah bersama tim penanggulangan bencana terus memantau kebutuhan warga di lapangan. Dengan demikian, distribusi bantuan dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran sesuai kondisi di masing-masing titik pengungsian.
Warga Masih Trauma dan Memilih Tidur di Luar Rumah
Sementara itu, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa trauma masih membayangi warga. Josep, salah satu warga Desa Baniona di Kecamatan Wotan Ulumado, mengaku sudah empat malam tidur di teras rumahnya.
Walaupun desanya tidak mengalami kerusakan parah, ia tetap memilih tidur di luar rumah. Selain itu, ia juga mengajak beberapa warga lain untuk melakukan hal yang sama. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan yang lebih besar.
Dengan demikian, rasa aman menjadi alasan utama warga memilih bertahan di ruang terbuka atau tenda darurat di bandingkan kembali tidur di dalam rumah.
Kronologi Gempa Bumi di Adonara
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat bahwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 terjadi pada Jumat (9/4) pukul 00.30 WITA. Gempa tersebut mengguncang wilayah Adonara dan sekitarnya pada waktu dini hari ketika sebagian besar warga sedang beristirahat.
Selain itu, BMKG menjelaskan bahwa pusat gempa berada di koordinat 8,36 derajat Lintang Selatan (LS) dan 123,15 derajat Bujur Timur (BT). Lokasi episenter berada di darat sekitar 21 kilometer arah tenggara Larantuka dengan kedalaman sekitar lima kilometer.
Kedalaman yang relatif dangkal tersebut menyebabkan guncangan terasa cukup kuat di permukaan, sehingga berdampak pada kerusakan rumah warga di beberapa desa.
Dampak Kerusakan dan Respons Pemerintah
Gempa ini menyebabkan kerusakan pada ratusan rumah warga di Desa Terong dan Desa Lamahala Jaya. Selain itu, kondisi bangunan yang terdampak membuat sebagian warga kehilangan tempat tinggal yang aman untuk sementara waktu.
Oleh karena itu, pemerintah daerah bersama BPBD terus melakukan upaya tanggap darurat. Selain menyalurkan bantuan, tim juga melakukan pendataan kerusakan untuk menentukan langkah pemulihan berikutnya.
Di sisi lain, pemerintah berupaya memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa pengungsian berlangsung. Dengan demikian, proses pemulihan dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Gempa bumi di Adonara, Flores Timur, tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga dampak psikologis yang cukup besar bagi warga. Selain itu, gempa susulan yang masih terjadi membuat warga memilih bertahan di tenda atau ruang terbuka.
Walaupun bantuan logistik telah tersalurkan dan tenda pengungsian telah tersedia, rasa trauma masih menjadi tantangan utama di lapangan. Oleh karena itu, proses pemulihan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan kondisi mental masyarakat terdampak.