Kementerian Sosial Republik Indonesia – Melalui Sentra Wasana Bahagia Ternate terus meningkatkan perhatian terhadap kehidupan masyarakat adat terpencil, termasuk komunitas Suku Togutil di kawasan hutan Tayawi, Tidore, Maluku Utara.
Program pendampingan tersebut mencakup pemberian bantuan nutrisi, edukasi pola hidup sehat, pemeriksaan kesehatan, hingga dukungan kebutuhan dasar lainnya. Pemerintah menjalankan langkah tersebut sebagai bentuk respons cepat terhadap kondisi kehidupan masyarakat adat yang masih tinggal di kawasan hutan dan mempertahankan tradisi leluhur.
Kepala Sentra Wasana Bahagia Ternate, Osep Mulyani, menjelaskan bahwa tim lapangan terlebih dahulu melakukan pemetaan kebutuhan masyarakat sebelum menyalurkan bantuan.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa warga Suku Togutil membutuhkan dukungan dalam bidang kesehatan, kebersihan diri, penguatan nutrisi, serta pemenuhan kebutuhan sandang. Karena itu, pemerintah menghadirkan program pendampingan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Suku Togutil Masih Menjaga Tradisi Leluhur
Suku Togutil di kenal sebagai salah satu komunitas adat terpencil di Maluku Utara yang masih menjaga pola hidup tradisional. Sebagian masyarakat sebelumnya menjalani kehidupan berpindah-pindah di kawasan hutan dengan mengandalkan berburu dan meramu sebagai sumber penghidupan utama.
Pola hidup tersebut membentuk karakter budaya yang kuat dan berbeda dari masyarakat perkotaan. Namun perkembangan zaman mulai mendorong perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat Togutil.
Pemerintah berupaya mendampingi proses perubahan tersebut tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat adat. Pendekatan yang di lakukan tidak bersifat memaksa, melainkan melalui edukasi dan pendampingan secara bertahap.
Sentra Wasana Bahagia Ternate secara rutin mengadakan penyuluhan sosial agar masyarakat dapat mengenal pola hidup sehat, pentingnya kebersihan lingkungan, serta cara berinteraksi dengan masyarakat luar tanpa kehilangan nilai tradisi yang mereka pegang.
Bantuan dan Edukasi Di berikan Langsung di Kawasan Hutan Tayawi
Penyaluran bantuan berlangsung di kawasan hutan Tayawi, Desa Coli, Kecamatan Oba Kota, Kepulauan Tidore. Kegiatan tersebut juga dihadiri langsung oleh Sherly Tjoanda sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap masyarakat adat di wilayah Maluku Utara.
Dalam kesempatan tersebut, Sherly Tjoanda menegaskan pentingnya pendampingan jangka panjang bagi Suku Togutil. Menurutnya, masyarakat adat memiliki potensi besar yang perlu di kembangkan agar mampu mengikuti perkembangan zaman.
Ia juga menekankan bahwa proses pemberdayaan harus tetap menghormati tradisi dan budaya lokal. Pemerintah ingin masyarakat adat berkembang tanpa kehilangan identitas leluhur yang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.
Kehadiran pemerintah pusat dan daerah di kawasan pemukiman Suku Togutil memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat. Warga merasa lebih di perhatikan dan mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Petugas dari Sentra Wasana Bahagia Ternate Kementerian Sosial memeriksa kondisi kesehatan perempuan dan anak Suku Togutil di kawasan hutan Tayawi, Desa Coli, Kecamatan Oba Kota, Kepulauan Tidore, Maluku Utara, Rabu (6/5/2026) .
Transformasi Sosial Mulai Terjadi di Kalangan Suku Togutil
Perubahan sosial perlahan mulai terlihat dalam kehidupan masyarakat Suku Togutil. Pemerhati adat di Ternate, Abdurahman Munim, menilai proses pendampingan yang berlangsung secara konsisten berhasil membuka akses masyarakat terhadap kehidupan sosial yang lebih luas.
Sebagian warga kini mulai berinteraksi aktif dengan masyarakat luar dan mengikuti perkembangan pendidikan maupun keagamaan. Banyak anggota komunitas juga mulai memeluk agama Islam maupun Kristen setelah mendapatkan pendampingan dari berbagai pihak.
Selain itu, pola tempat tinggal masyarakat juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya warga sering berpindah-pindah di kawasan hutan, kini sebagian masyarakat mulai menempati hunian yang lebih permanen.
Transformasi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan persuasif dan pendampingan berkelanjutan mampu membantu masyarakat adat menyesuaikan diri dengan perkembangan sosial tanpa menghilangkan akar budaya mereka.
Warga Suku Togutil Sambut Positif Pendampingan Pemerintah
Perwakilan warga Suku Togutil, Yosep, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terhadap komunitas mereka.
Menurut Yosep, pendampingan yang dilakukan secara rutin telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Warga kini memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat luar dan mulai menjalani kehidupan yang lebih stabil.
Ia juga mengungkapkan bahwa kunjungan gubernur ke kawasan pemukiman mereka menjadi momen bersejarah bagi komunitas Suku Togutil. Kehadiran pemerintah secara langsung memberikan semangat baru bagi masyarakat untuk terus berkembang.
Program pendampingan tersebut tidak hanya membantu masyarakat dalam bidang kesehatan dan kebutuhan dasar, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Pendampingan Berkelanjutan Jadi Kunci Pemberdayaan Masyarakat Adat
Pemerintah terus mendorong program pemberdayaan masyarakat adat melalui pendekatan yang humanis dan berkelanjutan. Langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan warga tanpa menghapus identitas budaya lokal.
Melalui bantuan nutrisi, edukasi kesehatan, penyuluhan sosial, dan pendampingan komunitas, pemerintah berharap masyarakat Suku Togutil dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat dan mandiri.
Pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat juga menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan program tersebut.
Upaya pendampingan yang konsisten menunjukkan bahwa pembangunan sosial tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup masyarakat adat yang selama ini tinggal di wilayah terpencil Indonesia.