Setiap Muslim – Menunaikan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan. Dari waktu imsak hingga azan Maghrib, umat Islam menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu serta meningkatkan kualitas spiritual. Beberapa orang kadang merasa lapar dan haus, sehingga muncul pertanyaan: apakah mengeluh saat lapar atau haus dapat menggugurkan pahala puasa?
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menegaskan bahwa mengeluh karena lapar atau haus tidak membatalkan puasa dan tidak mengurangi pahala ibadah. Dalam wawancara dengan Kompas.com pada Jumat, 27 Februari 2026, Anwar mengatakan, “Mengeluh lapar dan haus tidak masalah, kecuali jika keluhan itu diikuti dengan makan, maka puasa baru batal.” Ia menambahkan bahwa setiap ibadah yang diniatkan karena Allah SWT tetap bernilai pahala. Mengeluh saat berpuasa termasuk hal wajar karena hukum alam, dan Allah akan memberikan ganjaran sesuai niat masing-masing orang.
Anwar menyarankan agar umat Islam mengurangi keluhan, karena kesabaran meningkatkan kualitas puasa. Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Fatwa Metodologi MUI, Muhammad Ziyad, sependapat. Ia menjelaskan bahwa mengeluh lapar dan haus tetap termasuk puasa yang sah. Ziyad menjabarkan tiga tingkatan puasa:
-
Puasa orang awam – menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri.
-
Puasa khawas – menahan diri sambil menjalankan kegiatan ibadah dan kebaikan lainnya, meski masih memikirkan puasa.
-
Puasa tingkat akhir – menahan diri sepenuhnya dari urusan duniawi dan memusatkan perhatian pada ibadah.
Ziyad menekankan, orang yang mengeluh lapar dan haus masih termasuk kategori puasa orang awam. Proses ini melatih kesabaran dan menjadi tahap menuju puasa yang lebih sempurna.

Ilustrasi lapar
Perilaku yang Dapat Mengurangi Pahala Puasa
Selain menahan lapar dan haus, beberapa perilaku dapat mengurangi pahala puasa. Umat Islam harus menghindari hal-hal berikut:
-
Berdusta
Berbohong termasuk perilaku tercela yang dapat menghapus pahala puasa. Ketika seseorang sengaja menipu untuk merugikan orang lain, puasa tidak lagi bernilai maksimal. -
Bersumpah palsu
Memberikan sumpah palsu untuk menguntungkan diri sendiri atau pihak tertentu, sekaligus merugikan orang lain, merusak ibadah puasa. -
Mengadu domba
Memprovokasi perselisihan atau permusuhan antarindividu menyebabkan pahala puasa berkurang. Tindakan ini menimbulkan kerusakan sosial dan melanggar etika puasa. -
Bergosip
Membicarakan keburukan orang lain atau menyebarkan rumor yang dapat menyakiti hati orang lain mengurangi pahala puasa. Bahkan tanpa puasa, gosip tetap merupakan perbuatan tercela. -
Melihat dengan syahwat
Memusatkan pandangan pada hal-hal yang menimbulkan syahwat atau melihat lawan jenis dengan niat buruk dapat membatalkan pahala puasa. Perilaku ini mengganggu fokus ibadah dan melawan tujuan spiritual Ramadhan.
Tips Menjalankan Puasa dengan Sempurna
Untuk meningkatkan kualitas puasa, umat Islam dapat mengikuti beberapa langkah:
-
Fokus pada tujuan puasa, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT.
-
Isi waktu luang dengan kegiatan ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, dan sedekah.
-
Jaga perilaku sehari-hari, hindari gosip, kebohongan, atau perselisihan dengan orang lain.
-
Perkuat kesabaran saat lapar atau haus. Mengeluh sesekali wajar, tetapi menahan keluhan menunjukkan kualitas ibadah yang lebih baik.
-
Perhatikan pandangan mata, jangan terpancing hal-hal yang mengundang syahwat.
Dengan menerapkan langkah-langkah ini, puasa bukan hanya menahan diri dari lapar dan haus, tetapi juga melatih akhlak dan pengendalian diri. Umat Islam yang fokus menjaga ibadah dan perilaku sehari-hari akan merasakan manfaat spiritual yang lebih besar selama Ramadhan.
Kesimpulan
Puasa Ramadhan menuntut pengendalian fisik, emosi, dan perilaku. Mengeluh lapar atau haus merupakan hal wajar dan tidak menggugurkan pahala, selama tidak diikuti makan atau minum. Kesabaran dan pengendalian diri meningkatkan kualitas ibadah. Selain itu, menghindari perilaku berdusta, bersumpah palsu, mengadu domba, bergosip, dan melihat dengan syahwat sangat penting agar puasa tetap sah dan pahala tetap utuh. Dengan fokus pada ibadah dan menjaga akhlak, umat Islam memperoleh manfaat spiritual yang maksimal dari puasa Ramadhan.