Jamasan Pusaka Trenggalek menjadi salah satu rangkaian tradisi yang pemerintah daerah jalankan menjelang puncak peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek. Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin memimpin kegiatan perawatan berbagai pusaka piyandel kabupaten dengan membersihkan dan mencuci benda-benda bersejarah tersebut.

Pemerintah Kabupaten Trenggalek merawat puluhan pusaka dalam prosesi tersebut. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian hari jadi daerah, tetapi juga mencerminkan upaya menjaga peninggalan yang diwariskan para pendahulu kepada generasi sekarang.

Sejumlah pusaka yang menjalani prosesi jamasan antara lain Tombak Kyai Wignyo Murti dan Songsong Hayom Sih. Pemerintah daerah juga membersihkan empat Tombak Kyai Korowelang yang masing-masing bernama Tombak Kyai Korowelang 1 hingga Tombak Kyai Korowelang 4.

Selain itu, prosesi tersebut mencakup Tombak Biring Kamulan 1 dan Tombak Biring Kamulan 2. Petugas turut merawat Pataka Parasamya Praja Nugraha, Pataka Jwalita Praja Karana, Songsong Tunggul Naga, serta Songsong Tunggul Praja.

Puluhan Pusaka Trenggalek Menjalani Perawatan

Rangkaian jamasan tahun ini juga mencakup dua gong dari perangkat gamelan milik Pendopo Trenggalek. Pemerintah daerah turut merawat Prasasti Kamulan dan pusaka yang berasal dari pemberian Sultan Hamengkubuwono X.

Mochamad Nur Arifin menjelaskan bahwa jamasan kali ini mencakup berbagai pusaka yang Kabupaten Trenggalek miliki. Ia mengaitkan keberadaan benda-benda tersebut dengan tradisi pada masa Mataram maupun kerajaan terdahulu.

Pada masa tersebut, masyarakat mengenal pusaka dengan berbagai fungsi. Sebagian orang memanfaatkannya sebagai sarana pembelaan diri, sedangkan tradisi masyarakat juga mengenal pusaka yang memiliki fungsi penjagaan secara spiritual.

Melalui jamasan pusaka Trenggalek, pemerintah daerah berusaha menjaga peninggalan bersejarah agar tetap terawat. Tradisi tersebut sekaligus menjadi sarana untuk mengingat warisan para pendahulu yang memiliki hubungan dengan perjalanan panjang Kabupaten Trenggalek.

Nur Arifin berharap pemerintah dan masyarakat dapat terus menjaga pusaka-pusaka tersebut. Perawatan secara berkala menjadi bagian dari langkah pelestarian agar peninggalan bersejarah tetap bertahan dan generasi mendatang dapat mengenalnya.

Bupati Trenggalek Ziarahi Makam Para Pendahulu

Selain menggelar jamasan, Nur Arifin juga menjalankan tradisi ziarah menjelang Hari Jadi ke-832 Trenggalek. Bersama jajaran pimpinan daerah, ia mendatangi sejumlah makam tokoh dan mantan pemimpin yang memiliki peran dalam perjalanan sejarah kabupaten tersebut.

Rombongan mengawali rangkaian ziarah dengan mengunjungi makam Menak Sopal di Kelurahan Ngantru. Setelah itu, mereka mendatangi makam Mbah Kawak yang berada di pemakaman Setono Galek.

Bupati dan rombongan kemudian menuju kompleks pemakaman Setono Gedong di Kelurahan Ngantru. Kompleks tersebut menjadi tempat peristirahatan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Trenggalek.

Salah satu tokoh yang makamnya berada di lokasi tersebut ialah Raden Doemotaroen yang tercatat sebagai Bupati Trenggalek pertama.

Nur Arifin menjelaskan bahwa pemerintah daerah secara rutin menjalankan ziarah menjelang peringatan hari jadi. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap jasa para pemimpin terdahulu.

Ia menilai setiap bupati yang pernah memimpin Trenggalek telah memberikan kontribusi pada zamannya masing-masing. Karena itu, generasi pemimpin berikutnya perlu melanjutkan berbagai hal baik yang telah mereka kerjakan.

Jamasan Pusaka Trenggalek

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat mengecek pusaka.

Ziarah Berlanjut ke Sejumlah Makam Bersejarah

Rangkaian perjalanan kemudian berlanjut menuju makam Kanjeng Jimat atau Mangun Negoro. Makam tersebut berada di kompleks pemakaman Margo Ayu, Desa Ngulankulon, Kecamatan Pogalan.

Setelah mengunjungi lokasi itu, Nur Arifin bersama rombongan melanjutkan ziarah menuju makam Girilaya Kamulyan di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan.

Rombongan juga mendatangi makam Girimulyo di Desa Sumber, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek. Kompleks pemakaman tersebut menyimpan jejak salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan daerah.

Adipati Widjoyo Kusumo menjadi salah satu tokoh yang bersemayam di kompleks tersebut. Ia pernah memimpin Kabupaten Trenggalek sebagai bupati pada periode 1894 hingga 1904.

Nur Arifin menekankan pentingnya masyarakat untuk tidak melupakan sejarah. Menurutnya, perkembangan Kabupaten Trenggalek hingga mencapai usia 832 tahun tidak terlepas dari peran para tokoh serta pemimpin yang menjalankan pemerintahan pada masa sebelumnya.

Menjaga Sejarah dalam Momentum Hari Jadi Trenggalek

Jamasan pusaka dan ziarah makam menunjukkan bahwa peringatan Hari Jadi ke-832 Trenggalek tidak hanya berisi kegiatan seremonial. Pemerintah daerah juga memanfaatkan momentum tersebut untuk merawat hubungan antara masyarakat masa kini dengan sejarah daerahnya.

Melalui perawatan pusaka, pemerintah menjaga benda-benda yang menjadi bagian dari perjalanan budaya Trenggalek. Sementara melalui ziarah, jajaran pemerintah daerah mengenang jasa tokoh dan pemimpin terdahulu yang ikut membentuk perkembangan kabupaten.

Dua tradisi tersebut membawa pesan tentang pentingnya pelestarian sejarah. Pemerintah Kabupaten Trenggalek ingin warisan para pendahulu tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, melainkan tetap masyarakat kenal dan rawat dari generasi ke generasi.

Peringatan Hari Jadi ke-832 pun menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan panjang Trenggalek. Dengan menjaga pusaka sekaligus menghormati para pendahulu, pemerintah daerah berupaya mempertahankan nilai sejarah sebagai bagian dari identitas kabupaten tersebut.