Seren Taun 2026 Sukabumi – Pelaksanaan upacara adat Seren Taun kembali menjadi momen penting bagi masyarakat adat di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada tahun 2026. Tradisi yang di wariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar seremoni budaya, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus wujud komitmen masyarakat dalam menjaga kelestarian adat dan ketahanan pangan lokal.

Rangkaian kegiatan Seren Taun tahun ini di pusatkan di tiga kasepuhan adat yang berada di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok. Selain menjadi agenda budaya tahunan, perayaan tersebut juga di harapkan mampu memperkuat daya tarik wisata berbasis budaya yang selama ini menjadi salah satu identitas Kabupaten Sukabumi.

Seren Taun Menjadi Simbol Syukur dan Pelestarian Tradisi

Seren Taun merupakan tradisi adat yang telah lama di jalankan oleh masyarakat kasepuhan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen padi selama satu tahun. Prosesi ini juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan masyarakat dengan alam sekaligus menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur.

Di tengah perkembangan zaman, masyarakat adat tetap mempertahankan berbagai aturan yang telah menjadi pedoman hidup mereka. Nilai tersebut di anggap sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan sumber pangan.

Pelaksanaan Seren Taun tidak hanya menarik perhatian masyarakat sekitar, tetapi juga wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat budaya lokal yang masih lestari hingga saat ini.

Kasepuhan Sukabumi Dukung Status UNESCO Global Geopark

Pemerintah Kabupaten Sukabumi menilai keberadaan komunitas adat memiliki kontribusi besar terhadap penguatan identitas budaya daerah. Keaslian tradisi yang masih di pertahankan menjadi salah satu nilai penting yang mendukung kawasan UNESCO Global Geopark (UGG) Ciletuh-Palabuhanratu.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menjelaskan bahwa Desa Sirnaresmi memiliki keunikan tersendiri karena menjadi rumah bagi tiga kasepuhan adat yang masih aktif melestarikan tradisi.

Ketiga komunitas tersebut adalah Kasepuhan Sinar Resmi, Kasepuhan Ciptamulia, dan Kasepuhan Gelaralam. Menurutnya, keberadaan tiga kasepuhan dalam satu wilayah menjadi kekayaan budaya yang memiliki nilai tinggi bagi pengembangan sektor pariwisata.

Ali juga berharap kawasan tersebut terus berkembang menjadi desa wisata berbasis budaya Nusantara tanpa kehilangan identitas adat yang telah di jaga selama bertahun-tahun.

Jadwal Pelaksanaan Seren Taun 2026

Prosesi Seren Taun tahun 2026 akan berlangsung secara bertahap di masing-masing kasepuhan. Berdasarkan agenda yang telah disusun, rangkaian pertama di gelar di Kasepuhan Sinar Resmi pada 5 Juli 2026.

Selanjutnya, kegiatan akan berlanjut di Kasepuhan Ciptamulia pada 12 Juli 2026. Sementara itu, penutupan rangkaian upacara adat di jadwalkan berlangsung di Kasepuhan Gelaralam pada bulan Agustus mendatang.

Pemerintah daerah mengajak masyarakat maupun wisatawan untuk hadir menyaksikan prosesi budaya tersebut sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan tradisi yang di miliki Kabupaten Sukabumi.

Selain menjadi atraksi wisata, kegiatan ini juga di harapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Prosesi Seren Taun 2026 di Kasepuhan Desa Sirnaresmi Sukabumi yang menampilkan tradisi adat, budaya leluhur, dan ritual syukur hasil panen.

Kasepuhan Adat Cipta Gelar

Ketahanan Pangan Menjadi Warisan Leluhur

Kepala Desa Sirnaresmi, Iwan Ruswandi atau yang lebih di kenal sebagai Jaro Iwan, menegaskan bahwa kehidupan masyarakat adat masih berpedoman pada aturan leluhur, terutama dalam bidang pertanian.

Menurutnya, padi merupakan komoditas yang memiliki nilai sakral sehingga tidak di perlakukan sebagai barang dagangan. Hasil panen hanya di manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga dan masyarakat adat.

Aturan tersebut telah di jalankan secara turun-temurun sebagai bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus menjaga ketersediaan pangan bagi generasi berikutnya.

Selain itu, masyarakat hanya melakukan panen padi satu kali dalam setahun. Sistem tersebut di percaya mampu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mempertahankan kualitas hasil pertanian.

Prinsip tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ketahanan pangan di lingkungan masyarakat adat tetap terjaga meski menghadapi berbagai perubahan zaman.

Busana Adat Menjadi Identitas Masyarakat Kasepuhan

Tidak hanya mempertahankan sistem pertanian tradisional, masyarakat adat di Desa Sirnaresmi juga konsisten menjaga identitas budaya melalui cara berpakaian sehari-hari.

Kaum perempuan masih mengenakan sinjang atau kain jarik sebagai busana tradisional. Sementara itu, kaum laki-laki menggunakan iket sebagai penutup kepala yang menjadi simbol identitas masyarakat kasepuhan.

Penggunaan pakaian adat tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah di wariskan oleh para leluhur.

Kebiasaan itu terus di ajarkan kepada generasi muda agar nilai-nilai budaya tetap hidup dan tidak tergerus modernisasi.

Empat Kasepuhan Jadi Kekayaan Budaya Sukabumi

Kabupaten Sukabumi memiliki empat komunitas kasepuhan yang masih aktif menjalankan adat istiadat hingga sekarang. Tiga di antaranya berada di Desa Sirnaresmi, yakni Kasepuhan Sinar Resmi, Kasepuhan Ciptamulia, dan Kasepuhan Gelaralam.

Sementara satu komunitas adat lainnya adalah Kasepuhan Giri Jaya yang berada di wilayah Cidahu.

Keberadaan empat kasepuhan tersebut menjadi aset budaya yang sangat berharga bagi Kabupaten Sukabumi. Pemerintah daerah berharap pelestarian adat dapat berjalan beriringan dengan pengembangan sektor pariwisata sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang telah di wariskan selama berabad-abad.

Melalui penyelenggaraan Seren Taun 2026, Kabupaten Sukabumi kembali menunjukkan bahwa tradisi, ketahanan pangan, dan pengembangan pariwisata dapat berjalan berdampingan. Sinergi tersebut di harapkan menjadi contoh bagaimana budaya lokal mampu menjadi kekuatan pembangunan sekaligus menjaga identitas masyarakat di tengah arus modernisasi.