Kota Tidak Layak Huni di dunia kembali menjadi perhatian setelah Economist Intelligence Unit atau EIU menerbitkan Global Liveability Index 2026. Dari 173 kota yang di evaluasi, terdapat 10 wilayah perkotaan yang menempati posisi paling bawah karena menghadapi persoalan keamanan, kesehatan, lingkungan, pendidikan, dan infrastruktur.
Konflik bersenjata menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi peringkat tahun ini. Kondisi tersebut terlihat di sejumlah kota di Timur Tengah dan wilayah lain yang masih berhadapan dengan ketegangan politik maupun peperangan.
Lima Indikator Penilaian EIU
EIU menggunakan lebih dari 30 indikator yang di kelompokkan dalam lima kategori utama, yakni stabilitas, layanan kesehatan, budaya dan lingkungan, pendidikan, serta infrastruktur.
Setiap kota mendapatkan nilai antara 1 sampai 100. Skor yang semakin mendekati 100 menggambarkan kondisi kehidupan yang lebih ideal. Sebaliknya, perolehan nilai rendah menunjukkan masih banyaknya tantangan yang dapat memengaruhi kenyamanan dan keamanan penduduk.
Teheran Masuk Kelompok Terbawah
Teheran berada di peringkat ke-164 dengan skor keseluruhan 45. Ibu kota Iran tersebut menjadi pendatang baru dalam kelompok 10 terbawah setelah kondisi keamanannya memburuk akibat konflik yang terjadi sejak Februari 2026.
Harare menyusul pada posisi ke-165 dengan nilai yang sama, yakni 45. Ibu kota Zimbabwe ini masih menghadapi masalah pada sektor kesehatan dan infrastruktur publik.
Kyiv menduduki peringkat ke-166 dengan skor 45. Meskipun nilai pendidikannya mencapai 75, perang berkepanjangan membuat skor stabilitas dan infrastrukturnya tertinggal. Infrastruktur Kyiv hanya memperoleh nilai 27.

Sebanyak 10 dari 173 kota berada di peringkat terbawah Global Liveability Index 2026. Iran masuk dalam daftar.
Port Moresby hingga Aljir
Port Moresby menempati posisi ke-167 dengan nilai keseluruhan 44. Stabilitas menjadi kelemahan utama ibu kota Papua Nugini tersebut karena hanya memperoleh skor 30.
Pada urutan berikutnya terdapat Lagos, Nigeria, dengan nilai 44. Persoalan keamanan, termasuk ancaman penculikan dan kekerasan, masih menjadi tantangan yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
Aljir berada di peringkat ke-169 dengan skor 43. Kota ini mendapatkan nilai infrastruktur 30 dan stabilitas 35. Walaupun menjadi pusat pemerintahan serta aktivitas internasional Aljazair, kualitas sejumlah fasilitas kotanya masih perlu di tingkatkan.
Karachi dan Dhaka Hadapi Tantangan Serius
Karachi menduduki peringkat ke-170 dengan nilai 43. Skor stabilitasnya hanya mencapai 20, jauh lebih rendah di bandingkan nilai pendidikan yang berada pada angka 75. Situasi keamanan Pakistan turut memengaruhi penilaian kota tersebut.
Dhaka berada satu tingkat di bawahnya dengan skor keseluruhan 42. Ibu kota Bangladesh itu menghadapi tantangan pada bidang ekonomi, layanan kesehatan, lingkungan, dan infrastruktur. Nilai infrastrukturnya tercatat hanya 27.
Tripoli dan Damaskus Berada di Dasar Peringkat
Tripoli menempati posisi ke-172 dengan skor 41. Meskipun layanan kesehatannya mengalami perkembangan, risiko keamanan dan ketidakstabilan masih membatasi peningkatan kelayakhunian ibu kota Libya tersebut.
Damaskus kembali berada di posisi terakhir dengan nilai 32. Kota ini masih menjalani pemulihan setelah perang saudara yang berkepanjangan. Perbaikan mulai terlihat pada sektor kesehatan, tetapi keamanan, pendidikan, dan infrastruktur masih menjadi pekerjaan besar.
Konflik Menekan Kualitas Kehidupan Kota
Hasil Global Liveability Index 2026 memperlihatkan bahwa stabilitas mempunyai pengaruh besar terhadap kenyamanan hidup masyarakat. Konflik tidak hanya menghadirkan ancaman keamanan, tetapi juga merusak fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, dan pelayanan publik. Karena itu, pemulihan perdamaian serta pembangunan infrastruktur menjadi kunci untuk memperbaiki peringkat kota-kota tersebut.