Industri – Peternakan ayam petelur kembali menghadapi tantangan besar pada pertengahan 2026. Harga telur di tingkat peternak terus melemah dan membuat banyak pelaku usaha kesulitan menjaga keseimbangan biaya produksi. Kondisi ini terutama dirasakan oleh peternak rakyat yang bergantung pada penjualan harian untuk menjalankan operasional usaha mereka.

Di sejumlah sentra produksi telur, harga jual saat ini berada jauh di bawah harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah. Situasi tersebut membuat keuntungan peternak menipis bahkan berpotensi berubah menjadi kerugian. Sementara itu, biaya pakan dan kebutuhan produksi lainnya masih berada pada level yang cukup tinggi.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk membantu menstabilkan harga. Salah satu upaya yang menjadi fokus utama adalah meningkatkan penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini berjalan di berbagai daerah.

Program MBG Menjadi Solusi untuk Menyerap Surplus Produksi

Pemerintah menilai program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar untuk membantu peternak ayam petelur. Program ini membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari. Karena itu, telur menjadi salah satu komoditas yang dapat mendukung kebutuhan gizi sekaligus membantu pasar peternakan.

Kementerian Perdagangan bersama Badan Gizi Nasional terus memperkuat koordinasi agar satuan pelaksana program MBG di daerah sentra produksi lebih banyak membeli telur dari peternak lokal. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan permintaan secara langsung di wilayah yang mengalami kelebihan pasokan.

Dengan meningkatnya pembelian dari program MBG, peternak memiliki peluang untuk menjual hasil produksinya dengan lebih stabil. Selain itu, distribusi telur juga menjadi lebih efisien karena pasokan dapat terserap di daerah yang sama tanpa harus menunggu permintaan dari luar wilayah.

Strategi tersebut tidak hanya membantu peternak. Masyarakat penerima manfaat program MBG juga memperoleh asupan protein berkualitas yang penting untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan.

Harga Telur Masih Berada di Bawah Harga Acuan

Saat ini harga telur di tingkat peternak berada pada kisaran Rp20.600 hingga Rp22.000 per kilogram. Angka tersebut masih terpaut cukup jauh dari Harga Acuan Pembelian (HAP) yang berada di rentang Rp24.500 hingga Rp26.500 per kilogram.

Perbedaan harga ini memberikan dampak langsung terhadap pendapatan peternak. Banyak pelaku usaha harus menjual telur dengan harga yang lebih rendah dibandingkan biaya yang mereka keluarkan selama proses produksi.

Ketika kondisi seperti ini berlangsung dalam waktu lama, kemampuan peternak untuk mempertahankan usaha menjadi semakin terbatas. Mereka harus tetap membeli pakan, membayar tenaga kerja, dan memenuhi berbagai kebutuhan operasional lainnya meskipun pendapatan terus menurun.

Karena itu, peningkatan serapan melalui program pemerintah menjadi langkah penting untuk membantu mengembalikan keseimbangan pasar.

Harga Telur Anjlok

Pekerja memilah telur ayam di kandang ternak ayam telur di Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (30/11). Peternakan ayam tersebut memproduksi telur ayam mencapai satu ton telur per hari dari 20 ribu ekor ayam.

Bantuan Pangan Bisa Menggunakan Telur

Selain mengoptimalkan program MBG, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan telur dalam program bantuan pangan nasional. Selama ini masyarakat lebih sering menerima bantuan berupa beras atau minyak goreng. Namun, pemerintah melihat peluang untuk menyesuaikan jenis bantuan dengan kondisi pasar yang sedang terjadi.

Ketika harga telur mengalami penurunan tajam, pemerintah dapat membeli produk peternak untuk kemudian menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Dengan cara ini, pemerintah mampu menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu membantu peternak dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

Langkah tersebut juga memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan bantuan sosial. Pemerintah dapat memilih komoditas yang paling membutuhkan dukungan sehingga intervensi menjadi lebih tepat sasaran.

Surplus Produksi Menekan Harga di Pasaran

Salah satu penyebab utama turunnya harga telur adalah meningkatnya produksi nasional. Saat ini pasokan telur tercatat lebih tinggi dibandingkan kebutuhan pasar. Ketidakseimbangan antara produksi dan konsumsi membuat harga bergerak turun dalam beberapa bulan terakhir.

Ketika pasokan terus bertambah sementara permintaan tidak mengalami peningkatan yang sebanding, pasar akan mengalami tekanan. Kondisi inilah yang saat ini dirasakan oleh peternak di berbagai daerah.

Pemerintah sebenarnya melihat peluang di balik surplus tersebut. Jika mampu mengelola distribusi dan penyerapan dengan baik, kelebihan produksi dapat mendukung berbagai program pangan nasional. Oleh karena itu, pemerintah memilih fokus pada peningkatan permintaan daripada membatasi produksi peternak.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena tetap menjaga keberlangsungan usaha peternakan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

Peternak Blitar Berjuang di Tengah Kenaikan Biaya Produksi

Blitar sebagai salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia menjadi daerah yang paling merasakan dampak penurunan harga. Banyak peternak mengeluhkan kondisi pasar yang belum menunjukkan perbaikan meskipun mereka terus memproduksi telur setiap hari.

Di sisi lain, harga pakan ayam mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan tersebut langsung memengaruhi biaya operasional peternakan karena pakan menjadi komponen terbesar dalam struktur biaya produksi.

Selain pakan, harga jagung sebagai bahan baku utama juga masih berada pada level yang tinggi. Situasi ini membuat peternak menghadapi tekanan ganda. Mereka harus menanggung biaya produksi yang meningkat, tetapi menjual telur dengan harga yang lebih rendah.

Sebagian peternak bahkan harus menggunakan tabungan pribadi untuk mempertahankan usaha mereka. Ada pula yang menunda ekspansi usaha karena khawatir kondisi pasar belum stabil.

Pemerintah Berupaya Menjaga Keberlangsungan Peternak Rakyat

Peternak rakyat memiliki peran penting dalam menjaga pasokan telur nasional. Karena itu, pemerintah berupaya menghadirkan berbagai kebijakan yang dapat membantu mereka bertahan di tengah tekanan pasar.

Melalui optimalisasi program Makan Bergizi Gratis dan bantuan pangan, pemerintah berharap permintaan telur dapat meningkat secara bertahap. Jika serapan terus bertambah, harga telur berpotensi kembali mendekati harga acuan yang memberikan keuntungan lebih sehat bagi peternak.

Selain itu, langkah ini juga menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara sektor peternakan dan program pangan nasional.

Kesimpulan

Penurunan harga telur menjadi tantangan besar bagi peternak ayam petelur di berbagai daerah. Surplus produksi dan tingginya biaya pakan membuat banyak pelaku usaha menghadapi tekanan yang tidak ringan.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah mendorong penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis dan bantuan pangan. Strategi ini bertujuan meningkatkan permintaan, menjaga stabilitas harga, serta melindungi pendapatan peternak rakyat.

Apabila langkah tersebut berjalan optimal, peternak dapat memperoleh harga yang lebih layak, sementara masyarakat mendapatkan akses yang lebih luas terhadap sumber protein berkualitas. Dengan demikian, sektor peternakan dan program pangan nasional dapat tumbuh secara berkelanjutan.