Kanjeng Gusti – Pangeran Adipati Arya Mangkunegoro X atau yang akrab di sapa Gusti Bhre kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Dalam kunjungannya ke kawasan Sub Daerah Aliran Sungai (Sub-DAS) Pusur di New Rivermoon, Klaten, Jawa Tengah, ia meninjau langsung berbagai kegiatan konservasi air dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan yang di jalankan bersama masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu contoh sinergi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Program binaan berbasis lingkungan itu tidak hanya menjaga kelestarian Sungai Pusur, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi melalui sektor wisata alam dan aktivitas kreatif masyarakat sekitar.
Kunjungan Gusti Bhre menarik perhatian karena menunjukkan pentingnya keterlibatan tokoh budaya dalam mendukung gerakan konservasi lingkungan yang berkelanjutan.
Konservasi Sungai dan Wisata Alam Berjalan Bersama
Saat berada di kawasan New Rivermoon, Gusti Bhre menyaksikan langsung aktivitas wisata susur sungai atau river tubing yang menjadi daya tarik utama di Sungai Pusur. Aktivitas tersebut berkembang menjadi sumber penghasilan masyarakat sekaligus sarana edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai.
Masyarakat setempat memanfaatkan potensi alam tanpa merusak ekosistem sungai. Mereka menjaga kualitas air tetap bersih agar wisata sungai terus berkembang dan memberi manfaat jangka panjang.
Menurut Gusti Bhre, pendekatan seperti ini menjadi contoh nyata bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Ia menilai pelestarian alam tidak harus menghambat perkembangan ekonomi, melainkan justru mampu menciptakan peluang baru yang berkelanjutan.
Keberadaan wisata berbasis lingkungan juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem sungai sebagai sumber kehidupan.
Gusti Bhre Sebut Menjaga Lingkungan Bagian dari Budaya
Dalam kunjungannya, Gusti Bhre menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian penting dari budaya masyarakat. Ia menilai kebiasaan melestarikan alam harus terus di bangun agar menjadi budaya yang di wariskan kepada generasi mendatang.
Menurutnya, air memiliki peran sangat vital dalam kehidupan manusia. Karena itu, upaya menjaga sumber air perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak.
Ia menjelaskan bahwa konservasi air tidak cukup di lakukan melalui program sesaat, tetapi harus menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat, komunitas, dunia usaha, dan berbagai elemen lainnya.
Gusti Bhre juga menilai budaya menjaga lingkungan perlu di perkuat melalui edukasi dan contoh nyata di lapangan. Dengan keterlibatan banyak pihak, gerakan pelestarian lingkungan akan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Sebagai bagian dari institusi budaya, Mangkunegaran berupaya ikut menghadirkan contoh positif dalam membangun kesadaran tentang keberlanjutan lingkungan.

Menjaga lingkungan bagian dari budaya. Gusti Bhre menyebut Mangkunegaran sebagai pusat budaya, berupaya jadi contoh untuk hari ini dan masa depan.
Pelepasan Benih Ikan Jadi Simbol Pelestarian Sungai
Salah satu kegiatan yang di lakukan Gusti Bhre dalam kunjungan tersebut yaitu melepas benih ikan di Sungai Pusur. Kegiatan itu menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan ekosistem sungai.
Dengan penuh antusias, ia melepaskan benih ikan langsung ke aliran sungai yang tampak jernih dan terawat. Momen tersebut sekaligus menggambarkan pentingnya menjaga habitat air agar tetap sehat bagi kehidupan berbagai jenis makhluk hidup.
Pelepasan benih ikan juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ekosistem sungai agar tetap produktif dan alami. Selain mendukung kelestarian lingkungan, kegiatan tersebut turut memperkuat daya tarik wisata berbasis alam di kawasan tersebut.
Masyarakat sekitar menyambut positif kegiatan konservasi yang melibatkan tokoh budaya dan berbagai pihak. Mereka berharap perhatian terhadap pelestarian sungai terus berlanjut sehingga manfaatnya dapat dirasakan generasi mendatang.
Kolaborasi Jadi Kunci Pelestarian Lingkungan
Gusti Bhre menilai kolaborasi menjadi faktor utama dalam menciptakan gerakan konservasi yang berhasil. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
Ia mengapresiasi program berbasis lingkungan yang melibatkan masyarakat lokal karena mampu menciptakan rasa memiliki terhadap alam sekitar. Ketika masyarakat ikut terlibat langsung, kesadaran menjaga lingkungan biasanya tumbuh lebih kuat.
Kolaborasi antara komunitas, perusahaan, tokoh budaya, dan masyarakat di nilai mampu mempercepat terciptanya ekosistem lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
Selain itu, pendekatan berbasis kolaborasi juga membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif yang ramah lingkungan. Program seperti wisata sungai, edukasi konservasi, hingga pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat dapat berkembang lebih optimal apabila di dukung bersama-sama.
Konservasi Lingkungan Perlu Dukungan Berkelanjutan
Perkembangan kawasan wisata berbasis konservasi seperti New Rivermoon menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat memberikan dampak ekonomi positif apabila dikelola secara tepat.
Masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat dari sektor wisata, tetapi juga memiliki kesadaran lebih tinggi dalam menjaga kualitas lingkungan di sekitar mereka.
Gusti Bhre berharap program konservasi air dan lingkungan seperti di Sub-DAS Pusur dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia. Ia percaya gerakan kecil yang di lakukan secara konsisten mampu menciptakan perubahan besar dalam jangka panjang.
Melalui pendekatan budaya, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor, pelestarian lingkungan di harapkan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.
Kunjungan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu, tetapi tanggung jawab bersama demi masa depan yang lebih berkelanjutan.