Indonesia – Menyimpan ragam kuliner yang luar biasa. Setiap hidangan tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan cerita, filosofi, dan nilai sejarah masyarakatnya. Web series dokumenter “Kuliner Indonesia Kaya” menyoroti kuliner khas dari tiga kota utama: Ternate, Palembang, dan Banten, dengan fokus pada tradisi, inovasi, dan akulturasi budaya yang membentuk setiap hidangan.
Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya, menegaskan bahwa kekuatan kuliner Nusantara muncul dari kemampuan masyarakat menjaga tradisi, mengolah bahan lokal, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi. “Kuliner Nusantara tidak sekadar soal rasa, tetapi juga mengandung sejarah, filosofi, dan akulturasi budaya,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta.
Ternate: Rimo-rimo dan Harmoni dengan Alam
Episode pertama membawa penonton ke Ternate, kota yang memegang peran penting dalam Jalur Rempah. Masyarakat Ternate mengembangkan kuliner melalui keseimbangan dengan alam sekitar. Salah satu tradisi yang di tampilkan adalah Rimo-rimo, metode memasak yang menggunakan bambu sebagai wadah alami tanpa alat dapur modern.
Menurut Kris Syamsudin, Founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, Rimo-rimo lahir dari kebutuhan bertahan hidup. Bambu memudahkan proses memasak, sedangkan bahan-bahan yang di pakai sederhana, mulai dari daging, ayam, sayuran, hingga umbi-umbian. Tradisi ini mengajarkan kesederhanaan dan pengetahuan leluhur yang tetap relevan hingga kini.
Di sisi lain, Gohu Ikan menunjukkan keterampilan masyarakat memanfaatkan ikan segar dari laut dengan proses pengolahan minimal. Hidangan ini menegaskan hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan laut, sekaligus menonjolkan kreativitas kuliner lokal.

Makanan khas Ternate, Rimo-rimo
Palembang: Sungai Musi dan Warisan Rasa Tradisional
Palembang, kota bersejarah di tepi Sungai Musi, menjadi fokus episode kedua. Penduduk setempat memanfaatkan kekayaan sungai melalui hidangan Pindang Ikan, menggunakan ikan seperti patin, gabus, dan baung. Perpaduan rasa asam dan pedas yang segar mencerminkan kedekatan masyarakat dengan alam serta cara mereka mengekspresikan identitas kuliner.
Selain hidangan utama, Palembang di kenal dengan kue tradisional yang unik. Kue Delapan Jam membutuhkan proses pematangan selama delapan jam untuk menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan. Kue ini menjadi simbol kesabaran dan ketelitian, yang mencerminkan nilai keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Maksuba, kue berlapis yang legit, menempati peran penting dalam perayaan Lebaran dan upacara pernikahan. Pembuatan kue ini menuntut keterampilan tinggi dan kesabaran, sekaligus menunjukkan bagaimana perempuan Palembang berperan dalam melestarikan tradisi kuliner sekaligus menekankan ketelitian dan kematangan.
Banten: Kreativitas Keraton dan Inovasi Sultan
Episode ketiga menyoroti Banten, kota dengan warisan kesultanan yang kental. Sate Bandeng menjadi hidangan khas karena juru masak keraton menciptakan versi bandeng tanpa duri, menghormati tamu kerajaan. Hidangan ini menampilkan kreativitas dan filosofi kesopanan yang melekat dalam tradisi kuliner keraton.
Selain itu, hidangan Rabeg berbahan daging kambing atau sapi muncul dari kisah sejarah Sultan Maulana Hasanuddin. Saat menunaikan ibadah haji di Kota Rabig, Laut Merah, Sultan menemukan olahan daging kambing yang kemudian di adaptasi kembali ke Banten. Rabeg menjadi simbol inovasi kuliner yang menghormati pengalaman budaya dan sejarah lokal.
Dokumenter Kuliner Nusantara: Menghubungkan Generasi
Sejak 2017, Indonesia Kaya rutin menghadirkan dokumenter kuliner Nusantara. Tayangan ini menyajikan visual yang menggugah selera, sekaligus merekam filosofi, pengetahuan, dan perjalanan budaya di balik setiap hidangan. Dengan durasi ringkas namun padat, web series ini menjembatani generasi muda untuk mengenal dan menghargai warisan gastronomi Indonesia.
Renitasari menekankan bahwa setiap rasa menyimpan cerita, identitas, dan sejarah yang membentuk karakter daerah. Web series ini menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar konsumsi harian, tetapi juga sarana melestarikan budaya, nilai, dan filosofi hidup. Generasi sekarang dapat memahami kuliner sebagai bagian penting dari identitas bangsa.