Banjir Bandang Nepal-Tibet menyebabkan lebih dari 4.700 orang masuk dalam daftar korban hilang setelah arus air, lumpur, dan material longsor menerjang kawasan perbatasan kedua wilayah. Tim penyelamat Nepal dan China terus menyisir daerah terdampak untuk menemukan warga, wisatawan, serta peziarah yang belum diketahui keberadaannya.

Data terbaru dari otoritas penanggulangan bencana Nepal menunjukkan lonjakan signifikan dalam jumlah orang hilang. Sebelumnya, petugas mencatat sekitar 2.500 orang belum ditemukan. Namun, angka tersebut kemudian meningkat hingga mendekati 4.000 orang setelah pemerintah memperbarui pendataan dari berbagai wilayah terdampak.

Situasi serupa terjadi di Tibet. Media pemerintah China melaporkan 546 orang masih hilang di wilayah Gyirong. Bencana tersebut juga telah menyebabkan lebih dari 900 orang meninggal dunia di Nepal dan 16 korban jiwa di Tibet.

Selain menimbulkan korban dalam jumlah besar, arus banjir menghancurkan infrastruktur penting di sepanjang jalur yang terdampak. Air berkecepatan tinggi merusak akses jalan sepanjang puluhan kilometer dan merobohkan lebih dari 40 jembatan. Banjir juga menghantam fasilitas pembangkit listrik tenaga air serta menghancurkan sejumlah permukiman di sepanjang lembah sungai.

Ratusan Warga Asing Masuk Daftar Korban Hilang

Bencana banjir bandang Nepal-Tibet tidak hanya berdampak terhadap penduduk lokal. Ratusan warga negara asing juga belum diketahui keberadaannya setelah bencana menerjang kawasan yang menjadi jalur wisata dan perjalanan keagamaan tersebut.

Badan penanggulangan bencana Nepal mencatat wisatawan dari sejumlah negara masuk dalam daftar orang hilang. Mereka antara lain berasal dari Australia, Inggris, Malaysia, dan Amerika Serikat.

Kementerian Luar Negeri China juga menyebut sekitar 100 warga negaranya belum ditemukan di Nepal. Sementara itu, media pemerintah China mencatat sekitar 260 warga asing hilang di wilayah Tibet.

Data tersebut mencakup 104 warga Nepal, 49 warga India, 33 warga Latvia, serta 18 warga Amerika Serikat.

India turut menghadapi situasi serius. Kementerian Luar Negeri India mencatat sekitar 300 warga negaranya hilang di Nepal. Banyak dari mereka merupakan peziarah yang melakukan perjalanan menuju atau kembali dari Gunung Kailash di Tibet.

Gunung Kailash menjadi tujuan penting bagi perjalanan spiritual karena masyarakat dari beberapa kepercayaan, termasuk umat Hindu, menganggap kawasan tersebut sebagai tempat suci.

Lembah Sungai Trishuli Mengalami Kerusakan Parah

Banjir bandang Nepal-Tibet menghantam kawasan Lembah Sungai Trishuli dengan dampak sangat besar. Wilayah bergunung terjal tersebut membentang di sekitar perbatasan Tibet dan Distrik Rasuwa di Nepal.

Rekaman kamera pengawas memperlihatkan warga dan wisatawan berusaha menyelamatkan diri ketika arus air bergerak cepat menuju kawasan permukiman. Dalam waktu singkat, banjir menghantam bangunan serta kendaraan di sekitar pos perbatasan Gyirong yang menghubungkan China dan Nepal.

Kantor berita Xinhua melaporkan kerusakan besar dan korban jiwa di Gyirong. Sementara itu, dokumentasi dari wilayah Nepal memperlihatkan Sungai Trishuli membawa material bangunan dalam jumlah besar.

Arus tersebut menghancurkan jembatan dan membawa puing menuju kawasan di bagian hilir. Endapan lumpur tebal juga memenuhi sejumlah permukiman kecil yang berada di sekitar aliran sungai.

Besarnya kerusakan infrastruktur membuat operasi penyelamatan menghadapi tantangan berat. Petugas harus menjangkau wilayah pegunungan ketika banyak akses transportasi utama tidak lagi dapat digunakan secara normal.

banjir bandang Nepal-Tibet

Area banjir Nepal yang menyisakan longsoran lumpur di perbatasan dengan China, saat di potret dengan drone pada Kamis (27/8/2026).

Runtuhan Gletser Diduga Menjadi Pemicu Utama

Para ilmuwan menganalisis citra satelit dan data seismik untuk mengidentifikasi penyebab bencana. Hasil analisis mengarah pada kombinasi longsoran batu berskala besar di wilayah pegunungan tinggi dan keruntuhan gletser.

Citra yang mereka pelajari menunjukkan sebagian besar batuan dasar di bawah gletser pada sisi utara Gunung Langtang Lirung mengalami keruntuhan. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari perbatasan Tibet pada ketinggian sekitar 17.000 kaki atau kurang lebih 5.180 meter.

Geomorfolog Université Grenoble Alpes di Perancis, Kristen Cook, menjelaskan bahwa batuan yang menopang bagian gletser mengalami keruntuhan. Kondisi itu kemudian memicu pergerakan material dalam skala sangat besar.

Jutaan ton batu dan es meluncur menuju lembah di bawahnya. Material tersebut bergerak dengan energi tinggi sebelum bergabung dengan air dan sedimen di jaringan sungai.

United States Geological Survey (USGS) mencatat energi dari peristiwa runtuhan tersebut setara dengan aktivitas seismik berkekuatan magnitudo 5,2.

Campuran es, batuan, air, dan sedimen kemudian membentuk aliran pekat yang bergerak cepat mengikuti sungai dan anak sungai. Arus inilah yang kemudian memperluas dampak banjir hingga puluhan mil dari lokasi awal keruntuhan.

Ancaman Bencana di Himalaya Semakin Kompleks

Menariknya, bencana besar tersebut terjadi ketika curah hujan Nepal pada musim monsun tahun ini berada di bawah rata-rata. Meski demikian, hujan lokal berintensitas tinggi tetap dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir bandang dan longsor di kawasan tertentu.

Nepal memang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi dan geologi. Bentang alam Himalaya yang curam membuat material tanah dan batu lebih mudah bergerak ketika kondisi lingkungan berubah secara ekstrem.

Pengalaman serupa terjadi pada 2024. Ketika itu, banjir dan longsor menewaskan ratusan orang di Nepal, termasuk korban di kawasan padat penduduk sekitar Katmandu.

Para ilmuwan juga terus menyoroti perubahan kondisi lingkungan pegunungan Himalaya. Kenaikan temperatur mempercepat pencairan es dan mengubah kestabilan sejumlah kawasan gletser.

Perubahan iklim dapat memperbesar ancaman karena mempercepat pencairan gletser sekaligus meningkatkan ketidakpastian pola cuaca ekstrem. Pada saat yang sama, pembangunan jalan, jembatan, pembangkit listrik, dan berbagai infrastruktur di kawasan pegunungan memerlukan perhitungan risiko lingkungan yang semakin ketat.

Bencana terbaru memperlihatkan bagaimana keruntuhan material di kawasan pegunungan tinggi dapat menghasilkan efek berantai hingga wilayah yang jauh di bawahnya. Karena itu, pemerintah dan para ilmuwan perlu memperkuat pemantauan gletser, sistem peringatan dini, pemetaan wilayah rawan, serta perencanaan pembangunan berbasis mitigasi bencana.

Sementara operasi pencarian berlanjut, ribuan keluarga masih menunggu kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga mereka. Besarnya jumlah korban hilang dan luasnya kerusakan membuat banjir bandang Nepal-Tibet menjadi salah satu bencana paling serius yang melanda kawasan Himalaya dalam beberapa tahun terakhir.