Kastil Hirosaki di Prefektur Aomori, Jepang, menjalani proses pemindahan yang menarik perhatian karena masyarakat tidak membongkar bangunan bersejarah tersebut ataupun mengandalkan alat berat. Ribuan orang justru bekerja bersama untuk menarik struktur seberat sekitar 360 ton itu menggunakan tali sepanjang 30 meter.

Proses tersebut memanfaatkan teknik tradisional Jepang bernama hikiya. Metode ini memungkinkan pekerja memindahkan sebuah bangunan secara utuh dengan menempatkan struktur di atas rol atau rel. Teknik tersebut telah masyarakat Jepang gunakan selama ratusan tahun untuk memindahkan berbagai bangunan tanpa menghancurkan konstruksi utamanya.

Dalam kegiatan terbaru di Hirosaki, masyarakat membantu menggeser kastil setinggi lebih dari dua meter itu menuju lokasi asalnya. Proses penarikan berlangsung selama dua hari dan menjadi bagian penting dari upaya pelestarian salah satu bangunan bersejarah Jepang.

Mengenal Hikiya, Teknik Kuno Memindahkan Bangunan

Masyarakat Jepang telah mengenal hikiya sejak ratusan tahun lalu. Pada masa lalu, pekerja menggunakan metode tersebut ketika pembangunan kota membutuhkan ruang baru, termasuk untuk pelebaran jalan dan berbagai proyek konstruksi.

Berbeda dengan pembongkaran, hikiya mempertahankan bangunan dalam keadaan utuh. Pekerja terlebih dahulu menopang struktur, kemudian menempatkannya pada sistem rol atau rel agar bangunan dapat bergeser menuju titik yang mereka tentukan.

Perkembangan zaman memang menghadirkan teknologi konstruksi yang semakin modern. Namun, teknik tradisional tersebut tetap memiliki fungsi penting. Para ahli kini juga memanfaatkannya untuk membantu mempertahankan bangunan bersejarah yang berisiko mengalami pembongkaran atau penghancuran.

Kastil Hirosaki menjadi salah satu contoh penerapan metode tersebut dalam proyek konservasi berskala besar.

Kastil Hirosaki Pernah Bergeser pada 2015

Proyek pemindahan Kastil Hirosaki sebenarnya telah berlangsung sejak lebih dari satu dekade lalu. Pada 2015, pekerja menggeser bangunan dari lokasi aslinya agar mereka dapat memperbaiki dinding batu kastil yang mengalami kerusakan akibat gempa besar.

Tim restorasi kemudian memperbaiki tembok tersebut dan menyusunnya kembali menggunakan total 2.185 batu. Setelah pekerjaan perbaikan selesai, pengelola mulai mengembalikan Kastil Hirosaki menuju posisi semula.

Kali ini, masyarakat kembali mengambil bagian dalam proses tersebut. Sekitar 4.100 orang diperkirakan ikut membantu menggeser benteng sejauh lima meter secara manual.

Antusiasme masyarakat bahkan jauh melampaui jumlah peserta yang tersedia.

Sekitar 8.000 Orang Mendaftar untuk Ikut Menarik Kastil

Kepala Divisi Taman dan Ruang Hijau Kota Hirosaki, Kensuke Hayasaka, mengungkapkan bahwa panitia menerima sekitar 8.000 pendaftaran untuk kegiatan penarikan kastil.

Sementara itu, penyelenggara hanya menyediakan sekitar 1.800 tempat selama dua hari kegiatan. Jumlah pendaftar yang mencapai sekitar empat kali kapasitas membuat panitia tidak dapat mengikutsertakan seluruh peminat.

Ketertarikan terhadap kegiatan tersebut juga tidak hanya datang dari masyarakat Hirosaki. Menurut Hayasaka, warga dari berbagai wilayah Jepang hingga sejumlah negara turut mendaftar.

Peserta internasional antara lain datang dari kawasan Asia Tenggara, Eropa, dan Amerika Utara. Tingginya minat tersebut memperlihatkan bahwa proses pemindahan Kastil Hirosaki bukan sekadar proyek konstruksi, tetapi juga menjadi peristiwa budaya yang menarik perhatian luas.

Kastil Hirosaki

Sekitar 1.800 orang menarik Kastil Hirosaki seberat 360 ton di prefektur Aomori, Jepang, menggunakan tali.

Peserta Kembali Setelah Ikut Menarik Kastil 11 Tahun Lalu

Bagi sebagian peserta, kegiatan ini membawa kenangan tersendiri. Mei Umetsu menjadi salah seorang warga yang pernah ikut menarik kastil ketika pekerja memindahkannya dari posisi asli sekitar 11 tahun lalu.

Kini, Umetsu kembali mengambil bagian ketika masyarakat membantu menggeser bangunan tersebut menuju lokasi semula. Ia mengaku merasakan nostalgia sekaligus emosi karena kembali berpartisipasi dalam peristiwa yang sama setelah lebih dari satu dekade.

Keterlibatan masyarakat dalam dua tahap pemindahan tersebut menunjukkan hubungan kuat antara warga dan warisan sejarah daerah mereka. Selain membantu pekerjaan konservasi, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat langsung dalam perjalanan panjang pemeliharaan bangunan bersejarah.

Kastil Hirosaki Menjadi Warisan Penting dari Zaman Edo

Kastil Hirosaki memiliki posisi istimewa dalam sejarah Jepang. Bangunan tersebut termasuk satu dari hanya 12 menara kastil asli yang masih bertahan di negara itu.

Pemerintah Jepang juga mengakui menara kastil, tiga menara sudut, serta lima gerbang yang berada di halaman kedua sebagai properti budaya penting.

Menurut Organisasi Pariwisata Nasional Jepang atau JNTO, menara utama Kastil Hirosaki pada awalnya memiliki lima lantai. Sambaran petir menghancurkan bangunan tersebut pada 1627.

Pada 1811, pengelola membangun kembali menara dengan struktur tiga lantai yang masih dapat masyarakat lihat hingga sekarang.

Sejarah tersebut membuat Kastil Hirosaki berbeda dari banyak benteng lain di Jepang. Setelah kekuasaan samurai berakhir pada 1868, pemerintah membongkar banyak kastil. Perang Dunia Kedua juga menyebabkan sejumlah bangunan serupa menghilang.

Jepang kemudian membangun kembali banyak kastil pada periode pascaperang. Namun, Kastil Hirosaki mempertahankan struktur bersejarahnya dan menjadi satu-satunya kastil peninggalan zaman Edo yang masih berdiri di kawasan Tohoku.

Nilai sejarah tersebut juga memperoleh pengakuan nasional. Pada 2006, Yayasan Kastil Jepang memasukkan Kastil Hirosaki ke dalam daftar “100 Kastil Terbaik” di Jepang.

Pemindahan Menjadi Bagian dari Upaya Pelestarian

Kembalinya Kastil Hirosaki ke lokasi asal tidak hanya memperlihatkan keunikan teknik konstruksi tradisional Jepang. Proyek ini sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat dapat memadukan metode berusia ratusan tahun dengan konservasi bangunan bersejarah.

Melalui teknik hikiya, pekerja dapat menjaga struktur utama kastil sambil melakukan perbaikan pada bagian yang membutuhkan restorasi. Keterlibatan ribuan masyarakat juga mengubah proses teknis tersebut menjadi kegiatan bersama yang memiliki nilai sejarah dan budaya.

Setelah berpindah untuk memberi ruang bagi perbaikan dinding pada 2015, Kastil Hirosaki kini menjalani perjalanan kembali menuju tempat asalnya. Proses tersebut sekaligus memperpanjang kisah sebuah kastil dari zaman Edo yang berhasil bertahan melewati perubahan pemerintahan, perang, bencana, dan perkembangan Jepang modern.