Transportasi Otomatis AL Maktoum International Airport menjadi bagian penting dari rencana besar Dubai, Uni Emirat Arab, dalam membangun salah satu pusat penerbangan terbesar di dunia. Mitsubishi Heavy Industries (MHI) bersama mitra proyeknya akan menghadirkan jaringan automated people mover (APM) sepanjang sekitar 50 kilometer di kawasan bandara tersebut.

Sistem transportasi tanpa pengemudi itu akan melayani sembilan stasiun yang tersebar di dalam kompleks Al Maktoum International Airport atau DWC. Untuk menunjang mobilitas penumpang, operator akan mengandalkan sebanyak 165 kendaraan otomatis.

MHI menargetkan penyelesaian pembangunan sistem tersebut pada Desember 2031. Jadwal itu berlangsung sebelum Al Maktoum International Airport memasuki target operasional barunya pada 2032.

Kehadiran APM memiliki peran strategis karena Dubai merancang DWC sebagai kompleks bandara dengan skala sangat besar. Ketika seluruh tahap pengembangan rampung, Al Maktoum International Airport menargetkan kapasitas hingga 260 juta penumpang setiap tahun.

APM 50 Kilometer Menghubungkan Sembilan Stasiun

Jaringan APM akan menghubungkan terminal dengan berbagai fasilitas penting di kawasan bandara. Sistem tersebut akan membantu penumpang menjangkau berbagai bagian kompleks DWC secara lebih praktis tanpa harus menempuh perjalanan darat yang panjang.

Dubai membutuhkan sistem mobilitas internal berskala besar karena pengembangan Al Maktoum International Airport mencakup kawasan yang sangat luas. Karena itu, transportasi otomatis akan menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga kelancaran pergerakan penumpang.

MHI menyebut jaringan sepanjang sekitar 50 kilometer tersebut akan memiliki skala jauh lebih besar dibandingkan sistem sejenis yang saat ini beroperasi di berbagai bandara dunia.

Sebagai perbandingan, Skylink yang beroperasi di Dallas Fort Worth International Airport, Amerika Serikat, memiliki jaringan sekitar delapan kilometer. Dengan panjang sekitar 50 kilometer, APM di DWC akan mencapai lebih dari enam kali panjang jaringan tersebut.

Skala itu membuat pengembang mengklaim sistem transportasi otomatis Al Maktoum International Airport akan menjadi APM bandara terbesar di dunia.

Konsorsium Internasional Menangani Pembangunan APM

Sejumlah perusahaan akan berbagi tanggung jawab dalam pembangunan jaringan transportasi otomatis tersebut. Konsorsium proyek melibatkan Mitsubishi Heavy Industries, MHI Mobility Engineering Services (MHI-MESC), serta perusahaan teknik dan konstruksi asal India Larsen & Toubro (L&T).

MHI bersama MHI-MESC akan menangani berbagai komponen utama teknologi APM. Kedua perusahaan tersebut mengerjakan desain dan pengadaan sekaligus melakukan pengujian kendaraan otomatis serta sistem persinyalan.

Selain itu, MHI dan MHI-MESC akan mengintegrasikan seluruh komponen agar jaringan transportasi dapat beroperasi sebagai satu sistem terpadu.

Sementara itu, Larsen & Toubro memegang tanggung jawab terhadap sejumlah infrastruktur pendukung di lokasi pembangunan. Perusahaan tersebut menangani desain, pengadaan, pengujian, hingga konstruksi sistem pendukung yang diperlukan APM.

Pembagian pekerjaan tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan teknologi dan infrastruktur dalam membangun jaringan transportasi otomatis sepanjang puluhan kilometer di dalam sebuah kompleks bandara.

Transportasi Otomatis Al

Ilustrasi bandara Dubai.

Al Maktoum International Menuju Kapasitas 260 Juta Penumpang

Dubai tidak hanya membangun APM sebagai proyek transportasi tersendiri. Pemerintah setempat memasukkan sistem tersebut ke dalam pengembangan jangka panjang Al Maktoum International Airport sebagai pusat penerbangan global berkapasitas sangat besar.

Pengembang akan memperluas bandara secara bertahap hingga kapasitas akhirnya mencapai sekitar 260 juta penumpang per tahun. Dengan jumlah penumpang sebesar itu, pengelola membutuhkan sistem yang mampu mempercepat mobilitas sekaligus menghubungkan berbagai bagian bandara secara efisien.

Teknologi juga memegang peran penting dalam konsep pengembangan DWC. Dubai Airports berencana terus mengikuti kemajuan teknologi sepanjang proses pembangunan.

CEO Dubai Airports Paul Griffiths sebelumnya menjelaskan bahwa pihaknya akan terus mempertimbangkan perkembangan teknologi ketika proyek berjalan. Strategi tersebut membuka peluang bagi pengelola untuk memasukkan teknologi yang lebih mutakhir hingga menjelang tahap akhir pembangunan.

Pendekatan itu memungkinkan DWC menyesuaikan fasilitasnya dengan perkembangan industri penerbangan dan kebutuhan penumpang pada masa mendatang.

Dubai Juga Siapkan Jalur Kereta Menuju DWC

Dubai tidak hanya merancang transportasi otomatis untuk perjalanan di dalam kompleks Al Maktoum International Airport. Sejumlah proyek lain juga akan menghubungkan DWC dengan jaringan transportasi di berbagai kawasan Dubai.

Salah satu rencana tersebut berupa Airport Express Line sepanjang sekitar 55 kilometer. Jalur ini akan menghubungkan Dubai International Airport (DXB) dengan Al Maktoum International Airport.

Kombinasi APM dan jaringan kereta antarkawasan akan membentuk sistem transportasi yang saling melengkapi. Penumpang dapat menggunakan jaringan eksternal untuk mencapai DWC, kemudian memanfaatkan APM ketika perlu berpindah antara terminal dan fasilitas lain di dalam bandara.

Konsep tersebut menjadi semakin penting mengingat ukuran kompleks Al Maktoum International Airport yang sangat besar. Infrastruktur transportasi yang terintegrasi dapat membantu pengelola mengurangi waktu perpindahan sekaligus meningkatkan kenyamanan perjalanan.

Jika pembangunan berjalan sesuai jadwal, transportasi otomatis Al Maktoum International Airport akan selesai pada Desember 2031. Kehadirannya akan mendukung persiapan DWC menuju target operasional pada 2032 sekaligus memperkuat ambisi Dubai dalam mengembangkan salah satu pusat penerbangan terbesar dan paling terintegrasi di dunia.