Awal Tahun – Sering memicu gelombang besar perubahan gaya hidup, terutama terkait pola makan dan aktivitas fisik. Setelah melewati masa liburan panjang yang sarat makanan tinggi kalori dan minim pergerakan, banyak orang mulai kembali memikirkan diet secara serius. Pada fase ini, resolusi Tahun Baru kerap mendorong individu untuk mencari cara tercepat menurunkan berat badan dan memulihkan kebugaran tubuh.
Namun, di sisi lain, momentum tersebut juga membuka peluang munculnya berbagai tren diet instan yang ramai di media sosial. Banyak konten menawarkan solusi cepat, tetapi sering kali mengabaikan aspek keamanan dan keberlanjutan. Kondisi ini membuat sebagian orang terjebak pada pola makan ekstrem yang justru berisiko bagi kesehatan jangka panjang.
Euforia Resolusi dan Peran Media Sosial
Ahli gizi terdaftar asal New York, Maddie Pasquariello, menyoroti fenomena ini sebagai siklus tahunan yang berulang. Menurutnya, banyak orang keluar dari rutinitas sehat selama liburan, lalu merasa panik ketika Januari tiba. Akibatnya, mereka mencari “jalan pintas” demi mengejar target penurunan berat badan dalam waktu singkat.
Padahal, Pasquariello menegaskan bahwa satu hingga dua minggu menikmati liburan tidak akan merusak kesehatan, terutama jika seseorang telah menjaga pola makan dan aktivitas fisik secara konsisten sepanjang tahun. Oleh karena itu, rasa bersalah berlebihan setelah liburan sering kali tidak memiliki dasar yang kuat secara ilmiah.

Ilustrasi diet. Alih-alih mengejar hasil instan, pendekatan diet yang realistis justru lebih aman dan efektif.(Freepik)
Intermittent Fasting dan Risiko Pola Makan Tidak Seimbang
Salah satu tren yang kerap muncul setiap awal tahun adalah intermittent fasting (IF). Pola makan ini mengatur waktu konsumsi makanan, misalnya hanya makan dalam jendela delapan jam atau dengan melewatkan sarapan dan makan siang. Sebagian orang melaporkan manfaat tertentu, seperti berkurangnya gejala refluks asam lambung.
Meski demikian, Pasquariello mengingatkan bahwa IF tidak selalu cocok untuk semua orang. Melewatkan waktu makan sering kali justru membuat rasa lapar menumpuk. Ketika malam tiba, kondisi tersebut dapat memicu makan berlebihan. Selain itu, pola ini juga berisiko mengganggu kestabilan gula darah, terutama bagi individu dengan aktivitas padat.
Sebagai alternatif, Pasquariello menyarankan pendekatan yang lebih moderat. Sarapan ringan dengan kandungan protein dan serat dapat membantu tubuh beradaptasi secara perlahan setelah liburan. Selain itu, aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki atau latihan singkat juga dapat mendukung metabolisme tanpa menimbulkan tekanan berlebih pada tubuh.
Suplemen Penurun Berat Badan dan Klaim Berlebihan
Selain IF, tren lain yang sering mencuat adalah konsumsi suplemen penurun berat badan. Banyak produk mengklaim mampu menekan nafsu makan atau meningkatkan metabolisme secara instan. Namun, Pasquariello menilai klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Menurutnya, tidak ada pil ajaib yang dapat menurunkan berat badan secara instan dan aman. Sebagian besar suplemen justru hanya menguras biaya tanpa memberikan manfaat nyata. Lebih jauh lagi, konsumsi suplemen tanpa pemeriksaan medis dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama jika asupan vitamin atau mineral melebihi kebutuhan tubuh.
Pasquariello menekankan bahwa suplemen baru dapat memberikan manfaat ketika seseorang benar-benar mengalami defisiensi nutrisi tertentu. Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan darah dan rekomendasi tenaga medis menjadi langkah penting sebelum mengonsumsi suplemen apa pun.
Diet Alkali dan Kesalahpahaman Ilmiah
Tren diet alkali juga sering muncul bersamaan dengan resolusi awal tahun. Diet ini mengklaim mampu mengubah pH tubuh melalui pemilihan makanan tertentu. Namun, Pasquariello menyatakan bahwa klaim tersebut tidak sejalan dengan cara kerja tubuh manusia.
Tubuh telah memiliki sistem alami untuk mengatur keseimbangan pH. Oleh karena itu, makanan atau suplemen tidak dapat secara signifikan mengubah pH darah. Meski sebagian orang merasa lebih baik saat menjalani diet alkali, efek positif tersebut sering kali muncul karena berkurangnya konsumsi makanan ultra-proses, bukan karena perubahan pH.
Masalah lain muncul ketika diet alkali diterapkan secara terlalu ketat. Pola makan semacam ini dapat mengurangi asupan nutrisi penting seperti protein dan omega-3. Padahal, kedua zat tersebut berperan besar dalam rasa kenyang, pembentukan otot, dan kesehatan metabolisme.
Pendekatan Diet yang Lebih Realistis dan Berkelanjutan
Bagi individu yang ingin kembali ke jalur sehat setelah liburan, Pasquariello merekomendasikan pendekatan yang lebih realistis dan fleksibel. Diet yang didukung riset ilmiah cenderung lebih aman dan mudah dipertahankan dalam jangka panjang.
Diet Mediterania menjadi salah satu contoh pola makan yang seimbang. Pendekatan ini menekankan konsumsi protein tanpa lemak, sayuran, buah, biji-bijian utuh, serta lemak sehat. Selain mendukung kesehatan jantung dan metabolisme, diet ini juga tidak menciptakan rasa tersiksa yang sering muncul pada diet ekstrem.
Kesimpulan
Tren diet awal tahun sering kali dipicu oleh euforia resolusi dan tekanan media sosial. Intermittent fasting, suplemen penurun berat badan, dan diet alkali kerap menawarkan solusi cepat, tetapi menyimpan risiko jika diterapkan tanpa pemahaman yang tepat. Sebaliknya, pola makan yang realistis, seimbang, dan berbasis riset memberikan manfaat yang lebih berkelanjutan. Dengan pendekatan tersebut, individu dapat kembali ke gaya hidup sehat tanpa terjebak pada siklus diet ekstrem yang merugikan tubuh.