Jawa Barat – Menempati posisi strategis sekaligus menantang dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola makan sehat dan gizi seimbang. Provinsi ini memiliki jumlah penduduk besar, komunitas akar rumput yang aktif, serta dominasi masyarakat urban dan keluarga pekerja. Kombinasi faktor tersebut membuat persoalan gizi di Jawa Barat menjadi kompleks dan memerlukan pendekatan yang terstruktur. “Jawa Barat menghadapi tantangan gizi yang cukup kompleks, terutama pada keluarga pekerja dan masyarakat urban. Tren konsumsi makanan instan yang meningkat membuat edukasi gizi seimbang menjadi sangat penting,” ujar Yohana Sadeli, perwakilan tim Nutrisi Esok Hari (NEH), dalam rilis resmi pada Kamis (29/1/2026).
Protein Masih Dianggap Hanya dari Hewani
Menurut Yohana, tantangan terbesar bukan berada pada ketersediaan pangan, melainkan pada persepsi dan kebiasaan masyarakat. Salah satu miskonsepsi paling umum adalah anggapan bahwa protein hanya berasal dari sumber hewani, seperti daging, telur, dan ikan. “Banyak orang masih beranggapan protein hanya bisa di peroleh dari pangan hewani. Akibatnya, sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dan polong-polongan sering di anggap tidak mencukupi atau hanya sebagai pelengkap,” jelas Yohana.
Selain itu, muncul pula anggapan keliru bahwa konsumsi kacang selalu memicu asam urat. Padahal dalam banyak kasus, jeroan dan daging olahan justru lebih berpotensi memicu kondisi tersebut. Edukasi terkait protein nabati menjadi kunci agar masyarakat lebih memahami sumber protein yang beragam, sehat, dan terjangkau.

Tim Nutrisi Esok Hari (NEH) saat memberikan edukasi mengenai makanan bergizi seimbang di Bandung.
Konsumsi Sayur dan Buah Masih Rendah
Selain protein, konsumsi sayur dan buah di Jawa Barat juga tergolong rendah. Beberapa faktor memengaruhi hal ini, antara lain anggapan harga yang mahal, keterbatasan variasi pengolahan, serta anak-anak yang cenderung pilih-pilih makanan. Pola makan harian masyarakat cenderung fokus pada satu sumber karbohidrat, terutama nasi putih, sehingga porsi lauk, sayur, dan buah menjadi minim.
“Padahal Indonesia, termasuk Jawa Barat, kaya akan sumber pangan nabati lokal yang bergizi, terjangkau, dan sesuai dengan budaya. Pemanfaatan potensi lokal ini penting untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat,” tambah Yohana.
Kesadaran Gizi Masih Perlu Ditingkatkan
Yohana menilai tingkat pemahaman masyarakat terhadap konsep gizi seimbang masih relatif rendah. Banyak warga masih berpegang pada konsep lama 4 Sehat 5 Sempurna dan belum sepenuhnya memahami pedoman Isi Piringku. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperhatikan komposisi makanan sehari-hari, memperbanyak variasi lauk dan sumber protein, serta meningkatkan konsumsi sayur dan buah.
“Konsistensi dalam memperhatikan proporsi makanan pokok, lauk, sayur, dan buah sangat penting. Kesadaran ini dapat di mulai dari perubahan kebiasaan sederhana di rumah, sekolah, maupun kantor,” ujar Yohana.
Peran Strategis Jawa Barat dalam Ketahanan Pangan
Sebagai salah satu pemasok utama sayuran dan protein nabati bagi wilayah Jakarta dan sekitarnya, Jawa Barat memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan gizi masyarakat perkotaan. Pola makan tradisional masyarakat Jawa Barat yang kaya sayuran dan pangan nabati menjadi modal penting bagi ketahanan pangan.
“Wilayah Jawa Barat yang subur dan luas memberikan keunggulan untuk mendukung ketahanan pangan dan sekaligus kemajuan ekonomi. Dengan memanfaatkan potensi lokal, kita dapat membangun sistem pangan yang sehat dan berkelanjutan,” jelas Yohana.
Edukasi Gizi untuk Masyarakat
Program edukasi gizi NEH di gelar di beberapa kota di Jawa Barat, seperti Majalaya, Indramayu, dan Cirebon. Kegiatan ini menargetkan masyarakat umum, institusi pendidikan, serta organisasi sosial. Program berfokus pada peningkatan kesadaran akan pola konsumsi yang sehat, etis, dan mendukung kelestarian lingkungan.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan pemaparan materi, melakukan aktivitas interaktif seperti menggambar konsep Isi Piringku, serta mengikuti demo memasak pangan nabati. “Transformasi menuju sistem pangan yang lebih berkelanjutan di mulai dari piring kita sehari-hari. Pangan nabati tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga menyehatkan,” tutup Yohana.
Dengan strategi ini, NEH berharap masyarakat Jawa Barat dapat mengadopsi pola makan seimbang secara berkelanjutan, memperkuat ketahanan pangan lokal, dan menumbuhkan kebiasaan konsumsi yang lebih sadar gizi.