Suasana Sore Di Kota Mataram – Pada pertengahan Maret menghadirkan pemandangan yang khas dan penuh energi. Langit jingga berpadu dengan suara tabuhan, sorak warga, serta langkah ratusan pemuda yang mengarak ogoh-ogoh di sepanjang Jalan Pejanggik. Sebanyak 105 karya ogoh-ogoh bergerak secara perlahan, menampilkan kombinasi antara kreativitas seni, nilai spiritual, dan kerja sama lintas generasi.
Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual menjelang Hari Raya Nyepi, tetapi juga berkembang menjadi ruang ekspresi sosial. Oleh karena itu, pawai ogoh-ogoh kini mencerminkan dinamika masyarakat yang semakin terbuka dan inklusif. Selain itu, keterlibatan banyak kelompok banjar menunjukkan tingginya partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi budaya.
Makna Filosofis Ogoh-Ogoh dalam Tradisi Hindu
Secara filosofis, ogoh-ogoh merepresentasikan konsep bhuta kala dalam ajaran Hindu, yaitu simbol energi negatif yang harus dinetralkan sebelum memasuki Nyepi. Proses arak-arakan hingga pembakaran ogoh-ogoh menggambarkan perjalanan spiritual dari suasana ramai menuju keheningan.
Namun demikian, perkembangan zaman membawa perubahan pada bentuk dan makna ogoh-ogoh. Para pemuda tidak hanya menampilkan figur mitologis, tetapi juga menghadirkan karya yang memuat kritik sosial dan isu kontemporer. Dengan demikian, ogoh-ogoh tidak lagi terbatas pada simbol religius, melainkan juga menjadi media komunikasi sosial.
Transformasi Tradisi Menjadi Atraksi Publik
Seiring waktu, pawai ogoh-ogoh mengalami transformasi signifikan. Kompetisi antar kelompok, eksposur media sosial, serta kehadiran wisatawan mendorong tradisi ini menjadi atraksi publik yang di nantikan. Akibatnya, skala kegiatan semakin besar dan kompleks.
Partisipasi 105 banjar menunjukkan bahwa tradisi ini telah menjadi ruang ekspresi kolektif. Di sisi lain, keterlibatan sekitar 850 personel keamanan mencerminkan kebutuhan pengelolaan yang lebih profesional. Oleh sebab itu, penyelenggaraan pawai tidak hanya berfokus pada aspek budaya, tetapi juga pada manajemen acara yang terstruktur.

Sejumlah umat Hindu mengarak ogoh-ogoh melewati Jalan Pejanggik Kota Mataram di Mataram, NTB, Rabu (18/3/2026). Pawai yang diikuti oleh sebanyak 105 banjar di Kota Mataram tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.
Toleransi Antarumat Beragama sebagai Fondasi Sosial
Momentum pawai ogoh-ogoh tahun ini terasa lebih unik karena berlangsung bersamaan dengan bulan Ramadhan. Dua perayaan keagamaan berjalan beriringan dalam satu ruang sosial tanpa menimbulkan konflik. Kondisi ini menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi di masyarakat Mataram.
Selain itu, panitia dan pemerintah kota mengatur jadwal pawai agar selesai sebelum waktu berbuka puasa. Langkah ini mencerminkan sensitivitas terhadap kebutuhan umat Muslim. Bahkan, potensi benturan dengan malam takbiran diantisipasi melalui rekayasa rute dan komunikasi lintas komunitas.
Dengan demikian, pawai ogoh-ogoh tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga menjadi bukti nyata praktik toleransi yang berjalan efektif.
Tantangan dalam Menjaga Makna Spiritual
Meskipun pawai berlangsung meriah, muncul pertanyaan terkait keberlanjutan makna spiritual ogoh-ogoh. Popularitas yang meningkat berpotensi menggeser fokus dari nilai religius ke orientasi hiburan. Generasi muda mungkin lebih tertarik pada aspek kompetisi dan eksposur di bandingkan pemahaman filosofis.
Fenomena ini menunjukkan di lema antara pelestarian tradisi dan modernisasi. Jika tidak dikelola dengan baik, ogoh-ogoh berisiko kehilangan esensi spiritualnya. Oleh karena itu, di perlukan upaya strategis untuk menjaga keseimbangan antara kreativitas dan nilai budaya.
Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengelolaan Tradisi
Pemerintah kota bersama berbagai pihak menunjukkan peran aktif dalam mengelola kegiatan ini. Mereka mengatur pengalihan arus lalu lintas sepanjang 1,5 kilometer serta menutup beberapa jalur strategis demi kelancaran acara. Selain itu, koordinasi lintas sektor dilakukan untuk menghindari potensi konflik sosial.
Di sisi lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup menyiagakan 325 petugas untuk mengelola sampah yang di perkirakan mencapai 6 hingga 7 ton. Langkah ini menunjukkan bahwa perayaan budaya juga memerlukan perhatian terhadap dampak ekologis.
Selanjutnya, pemberian remisi kepada 77 narapidana beragama Hindu dalam rangka Nyepi menambah dimensi sosial dalam perayaan ini. Kebijakan tersebut memperlihatkan kehadiran negara dalam menjamin hak warga binaan sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan.
Strategi Pelestarian Tradisi di Masa Depan
Untuk menjaga keberlanjutan makna ogoh-ogoh, di perlukan pendekatan edukatif yang terstruktur. Setiap banjar perlu memahami filosofi di balik karya yang mereka buat. Selain itu, pemerintah dapat mendorong program edukasi budaya melalui workshop, diskusi, dan integrasi dalam kurikulum lokal.
Di sisi lain, inovasi penggunaan bahan ramah lingkungan harus menjadi prioritas. Produksi ogoh-ogoh yang berkelanjutan akan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Dengan demikian, tradisi dapat berkembang tanpa merusak ekosistem.
Selanjutnya, komunikasi lintas agama harus terus di perkuat. Koordinasi yang baik akan menjaga harmoni sosial, terutama ketika perayaan keagamaan berlangsung secara bersamaan.
Kesimpulan
Pawai ogoh-ogoh di Mataram mencerminkan perpaduan antara tradisi, kreativitas, dan toleransi. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan sosial dan spiritual yang mendalam. Namun demikian, tantangan modernisasi menuntut upaya serius untuk menjaga makna asli tradisi.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda, ogoh-ogoh dapat tetap menjadi simbol perjalanan spiritual sekaligus cerminan harmoni sosial. Oleh karena itu, keberlanjutan tradisi ini sangat bergantung pada kesadaran kolektif dalam menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.