Kenaikan Biaya Hidup – Mendorong banyak orang untuk meninjau ulang cara mereka membelanjakan uang. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, sementara penghasilan tidak selalu bertambah secara seimbang. Akibatnya, pengeluaran rutin seperti makanan, transportasi, dan kebutuhan rumah tangga menyerap porsi anggaran yang semakin besar. Dalam situasi ini, setiap keputusan konsumsi memiliki dampak langsung terhadap stabilitas keuangan pribadi.
Namun, di tengah tekanan ekonomi tersebut, gaya hidup konsumtif justru berkembang semakin cepat. Media sosial menghadirkan berbagai referensi gaya hidup, tren, dan produk yang terlihat menarik. Tanpa kesadaran yang kuat, seseorang dapat melakukan pembelian secara impulsif, mengikuti dorongan sesaat, dan mengabaikan kebutuhan yang sebenarnya. Oleh karena itu, konsep mindful consumption hadir sebagai pendekatan penting untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan.
Memahami Konsep Mindful Consumption dalam Kehidupan Sehari-hari
Mindful consumption menggabungkan kesadaran dan konsumsi dalam satu pendekatan gaya hidup. Konsep ini mendorong seseorang untuk menyadari setiap bentuk konsumsi, baik dalam bentuk barang, jasa, maupun konsumsi informasi seperti berita dan media sosial. Pemilik SARE Studio sekaligus kreator konten conscious fashion, Cempaka Asriani, menjelaskan bahwa mindful consumption berarti memahami alasan di balik setiap keputusan konsumsi.
Melalui pendekatan ini, seseorang tetap boleh berbelanja dan menikmati hasil konsumsi. Namun, proses tersebut perlu berjalan berdasarkan pertimbangan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan. Dengan demikian, konsumsi tidak lagi berjalan secara otomatis, melainkan melalui proses refleksi yang sadar. Pola pikir ini membantu individu mengendalikan keuangan tanpa harus merasa terkekang.

Ilustrasi belanja.(Dok. Unsplash/charlesdeluvio)
Pengaruh Media Sosial terhadap Perilaku Konsumtif
Di era digital, media sosial memainkan peran besar dalam membentuk pola konsumsi masyarakat. Platform digital menyajikan iklan, konten kreator, serta gaya hidup yang tampak ideal dan menarik. Paparan ini sering kali mendorong seseorang untuk berbelanja tanpa perencanaan yang matang.
Cempaka menyoroti bahwa banyak orang tidak menyadari kecenderungan belanja impulsif yang muncul akibat pengaruh media sosial. Konten visual yang terus muncul menciptakan dorongan emosional untuk membeli sesuatu, meskipun barang tersebut tidak termasuk kebutuhan utama. Dalam kondisi biaya hidup yang terus meningkat, pola belanja seperti ini dapat menjadi jebakan finansial yang berbahaya.
Oleh sebab itu, mindful consumption berfungsi sebagai pengingat bahwa konsumsi tetap boleh dilakukan, tetapi harus selaras dengan kebutuhan dan kondisi keuangan. Jika seseorang tidak membutuhkan suatu barang, maka keputusan terbaik adalah tidak membelinya.
Mindful Consumption Berlaku untuk Semua Aspek Gaya Hidup
Banyak orang mengaitkan mindful consumption hanya dengan fesyen berkelanjutan. Anggapan ini sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Padahal, konsep mindful consumption mencakup seluruh aspek gaya hidup, bukan hanya pakaian.
Cempaka menegaskan bahwa manusia mengonsumsi berbagai hal setiap hari, mulai dari makanan, barang elektronik, hingga hiburan. Oleh karena itu, prinsip kesadaran perlu diterapkan dalam seluruh keputusan konsumsi. Fesyen memang sering mendapat sorotan karena tren yang cepat berubah dan tingkat belanja impulsif yang tinggi. Namun, setiap pembelian dalam kategori apa pun tetap membutuhkan evaluasi yang sama.
Dengan menerapkan kesadaran, seseorang dapat menentukan prioritas secara lebih jelas. Tekanan ekonomi yang semakin kuat menuntut individu untuk memilih dengan lebih bijak dan menempatkan kebutuhan utama sebagai fokus utama.
Menghadapi Godaan Tren di Tengah Tekanan Ekonomi
Tren konsumsi selalu muncul dan berganti dengan cepat. Fenomena seperti tren boneka koleksi, minuman matcha seremonial, nongkrong di kafe populer, atau busana musiman sering kali menarik perhatian. Rasa penasaran dan dorongan untuk mengikuti apa yang sedang ramai dapat memicu pembelian berulang.
Pada awalnya, seseorang mungkin hanya mencoba satu kali. Namun, rasa puas dari pembelian pertama sering mendorong pembelian selanjutnya. Alasan seperti ingin memahami mengapa tren tersebut disukai banyak orang kerap menjadi pembenaran. Padahal, barang atau pengalaman tersebut sering kali tidak masuk dalam prioritas utama, terutama ketika kondisi keuangan sedang tidak stabil.
Cempaka menekankan bahwa pembelian barang baru sebaiknya menjadi pilihan terakhir. Jika motivasi pembelian hanya bertujuan mengikuti tren dan tidak didasarkan pada kebutuhan atau ketertarikan jangka panjang, maka barang tersebut biasanya hanya memberikan kepuasan sementara.
Mindful Consumption sebagai Kunci Keuangan yang Lebih Sehat
Pada akhirnya, mindful consumption membantu individu membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan konsumsi. Dengan meningkatkan kesadaran, seseorang dapat menghindari pembelian impulsif, mengelola anggaran secara lebih efektif, dan menjaga stabilitas keuangan dalam jangka panjang.
Di tengah biaya hidup yang terus meningkat, pendekatan ini memberikan solusi realistis tanpa menghilangkan hak untuk menikmati hidup. Kesadaran dalam konsumsi bukan tentang larangan, melainkan tentang kontrol dan prioritas. Dengan demikian, mindful consumption dapat menjadi strategi penting untuk bertahan dan berkembang di tengah tantangan ekonomi modern.