Minat wisatawan Indonesia – Untuk berkunjung ke Jepang terus menunjukkan tren yang sangat positif. Bahkan hingga memasuki 2026, antusiasme tersebut tidak mengalami penurunan sama sekali. Data terbaru dari Japan Airlines menunjukkan peningkatan signifikan jumlah wisatawan Indonesia yang memilih Jepang sebagai destinasi liburan utama. Sepanjang 2025 hingga November, jumlah kunjungan mencapai 558.900 orang atau naik sebesar 26,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Angka tersebut mencerminkan ketertarikan kuat masyarakat Indonesia terhadap Jepang. Selain faktor budaya dan kuliner, kemudahan akses penerbangan serta promosi pariwisata yang konsisten turut mendorong pertumbuhan ini. Oleh karena itu, Jepang tetap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan Indonesia dari tahun ke tahun.
Libur Lebaran Menjadi Momentum Lonjakan Perjalanan ke Jepang
Selain pertumbuhan tahunan, pola kunjungan wisatawan Indonesia juga menunjukkan puncak tertentu. Salah satu periode tersibuk terjadi saat libur Lebaran. Pada 2026, masa libur Lebaran berlangsung dari pertengahan hingga akhir Maret. Dengan durasi libur yang relatif panjang, banyak masyarakat Indonesia memilih untuk berlibur ke luar negeri daripada pulang kampung.
Pada saat yang sama, ekspatriat Jepang yang bekerja di Indonesia juga memanfaatkan periode tersebut untuk kembali ke Jepang. Kondisi ini menciptakan lonjakan perjalanan dua arah antara Indonesia dan Jepang. Selain itu, pergantian tugas ekspatriat Jepang atau yang dikenal dengan istilah kinin dan finin juga sering terjadi pada periode ini. Faktor tersebut semakin meningkatkan permintaan penerbangan antara kedua negara.

Turis asing dan warga lokal Tokyo, Jepang, berebut momen untuk mendapatkan foto terbaik di musim sakura. (dok. Richard A. Brooks / AFP)
Musim Sakura Tetap Menjadi Daya Tarik Utama
Selain Lebaran, musim mekarnya bunga sakura juga menarik minat besar wisatawan Indonesia. Sakura selalu menempati posisi teratas sebagai alasan utama kunjungan ke Jepang. Keindahan bunga cherry blossom serta durasi mekarnya yang singkat membuat pengalaman ini terasa eksklusif.
Pada 2026, musim sakura diperkirakan berlangsung dari pertengahan Maret hingga Mei, tergantung wilayah. Menariknya, periode ini hampir bersamaan dengan libur Lebaran. Kondisi tersebut menciptakan tantangan tersendiri karena permintaan tiket meningkat tajam dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, harga tiket pesawat melonjak dan ketersediaan kursi menjadi terbatas.
Strategi Menghindari Keramaian dan Harga Tinggi
Melihat kondisi tersebut, wisatawan Indonesia sebaiknya tidak memaksakan perjalanan pada puncak mekarnya sakura di awal April. Sebagai alternatif, wisatawan dapat mengeksplorasi kota-kota lain di luar Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Lokasi-lokasi ini masih menawarkan pemandangan sakura yang indah dengan tingkat keramaian yang lebih rendah.
Wilayah seperti Aomori dan Hokkaido menawarkan pengalaman sakura hingga bulan Mei. Selain itu, Aomori juga terkenal sebagai destinasi petik apel Fuji. Wisatawan dapat menikmati pengalaman unik dengan memetik dan mencicipi apel langsung dari kebunnya. Di sekitar Aomori, kota-kota seperti Akita, Nagoya, Fukuoka, dan Sapporo juga menawarkan pengalaman wisata yang berbeda dan lebih tenang.
Durasi Liburan Wisatawan Indonesia Semakin Panjang
Seiring bertambahnya variasi destinasi dan aktivitas wisata, durasi kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang juga mengalami peningkatan. Jika sebelumnya wisatawan hanya menghabiskan waktu sekitar tujuh hari, kini banyak yang memilih tinggal hingga 10 bahkan 14 hari.
Namun, durasi yang lebih panjang tentu memerlukan perencanaan biaya yang matang. Pengeluaran untuk akomodasi menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan Indonesia. Meski demikian, minat untuk menjelajahi Jepang secara lebih mendalam terus meningkat dari waktu ke waktu.
Pola Belanja Wisatawan Indonesia di Jepang
Dari sisi transaksi keuangan, penggunaan kartu kredit oleh wisatawan Indonesia di Jepang menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Meski sebagian wisatawan masih menggunakan uang tunai, transaksi kartu kredit mengalami pertumbuhan lebih dari 20 persen secara tahunan. Wisatawan Indonesia umumnya menggunakan kartu kredit untuk kebutuhan makan dan belanja, sehingga selaras dengan karakteristik wisata.
Tren ini mendorong kolaborasi antara sektor perbankan dan industri penerbangan untuk menghadirkan berbagai program promosi menarik.
Travel Fair Dorong Wisata Jepang Semakin Variatif
Sebagai respons terhadap tingginya minat wisata, Permata Bank bekerja sama dengan Japan Airlines dan JCB menyelenggarakan travel fair di Jakarta, Bandung, dan Surabaya pada 15–18 Januari 2026. Acara ini berfokus pada promosi destinasi wisata Jepang yang semakin beragam.
Berbagai penawaran menarik hadir dalam pameran tersebut, mulai dari potongan harga tiket pulang-pergi hingga Rp14 juta, cashback hingga Rp2 juta, serta cicilan nol persen selama 12 bulan. Selain itu, pengunjung juga dapat memperoleh diskon tambahan untuk paket perjalanan, hotel, dan taman hiburan.
Dengan periode terbang hingga 10 Januari 2027, promo ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi wisatawan Indonesia untuk merencanakan perjalanan ke Jepang dengan biaya yang lebih terjangkau.