Gunung Semeru – yang membentang di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada Selasa malam. Letusan Gunung Semeru menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 800 meter di atas puncak dan di sertai lontaran lava pijar yang mengalir dari kawah.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, melaporkan bahwa erupsi terjadi pada pukul 20.29 WIB. Kolom abu yang teramati tampak berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, bergerak ke arah utara. Aktivitas tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 22 mm dan durasi sementara tercatat sekitar 2 menit 8 detik. Liswanto menegaskan bahwa erupsi masih berlangsung saat laporan di buat.
Selain itu, data pengamatan menunjukkan bahwa Gunung Semeru mengalami total 12 kali erupsi sepanjang hari. Erupsi pertama terjadi pada pukul 08.07 WIB, sementara erupsi terakhir tercatat pada pukul 20.29 WIB. Ketinggian kolom letusan bervariasi antara 400 hingga 800 meter, menandakan aktivitas vulkanik yang fluktuatif namun tetap berpotensi berbahaya bagi masyarakat di sekitarnya.
Status Siaga dan Rekomendasi Keselamatan
Gunung Semeru saat ini berada pada Status Level III (Siaga). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) secara tegas memberikan rekomendasi keselamatan bagi masyarakat. Pertama, aktivitas apapun di larang di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga sejauh 13 km dari puncak. Larangan ini berlaku untuk mencegah dampak langsung dari awan panas dan lontaran material vulkanik.
Selanjutnya, masyarakat juga diminta untuk menjauhi sempadan sungai sepanjang Besuk Kobokan sejauh 500 meter dari tepi sungai. Hal ini penting karena potensi awan panas, lahar, dan material vulkanik bisa meluas hingga 17 km dari puncak. Selain itu, radius 5 km dari kawah puncak Gunung Semeru juga harus dijaga bebas dari aktivitas warga karena rentan terkena lontaran batu pijar.
Liswanto menambahkan bahwa masyarakat harus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak. Sungai-sungai tersebut meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Bahkan, anak sungai dari Besuk Kobokan juga berpotensi di lalui lahar, sehingga masyarakat di wilayah tersebut perlu ekstra waspada.

Gunung Semeru erupsi disertai letusan setinggi 800 meter dan lontaran lava pijar pada Selasa (6/1/2026) malam. ANTARA/HO-PVMBG
Pemantauan Intensif oleh Petugas
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, menegaskan bahwa petugas secara intensif memantau Gunung Semeru. Pemantauan di lakukan melalui laporan langsung dari petugas PPGA Semeru serta pantauan CCTV yang dipasang di sekitar gunung.
Ia menjelaskan bahwa pada malam erupsi tersebut, lontaran lava pijar terlihat dari kawah Jonggring Saloko hingga mencapai tiga perempat ketinggian Gunung Semeru, yaitu sekitar 3.676 mdpl. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih cukup tinggi dan memerlukan kewaspadaan penuh.
BPBD Lumajang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun di siplin mengikuti semua arahan petugas. Mengingat status Gunung Semeru yang masih siaga, kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi kunci utama dalam mencegah korban dan kerusakan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, erupsi Gunung Semeru menandai peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Dengan tinggi kolom abu mencapai 800 meter, lontaran lava pijar, dan potensi bahaya awan panas serta lahar, masyarakat harus mengikuti rekomendasi resmi PVMBG. Pemantauan intensif oleh BPBD dan PPGA menjadi langkah preventif penting untuk menjaga keselamatan warga di wilayah sekitar gunung. Seiring berjalannya waktu, evaluasi berkelanjutan terhadap aktivitas Gunung Semeru tetap krusial agar seluruh masyarakat selalu siap menghadapi kemungkinan erupsi berikutnya.