Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Memberikan perhatian serius terhadap kesiapan kesehatan calon jemaah haji tahun 2026. Salah satu fokus utama yang terus di sampaikan berkaitan dengan pelaksanaan tradisi walimatus safar atau syukuran sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. Melalui berbagai kesempatan, Kemenkes mengingatkan agar jemaah tidak menjalankan tradisi tersebut secara berlebihan, terutama menjelang hari keberangkatan.

Seiring semakin dekatnya waktu keberangkatan, aktivitas sosial jemaah biasanya meningkat. Banyak calon jemaah menerima tamu dalam jumlah besar selama beberapa hari berturut-turut. Kondisi ini sering kali menguras energi dan menurunkan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, Kemenkes menilai perlunya pengendalian kegiatan sosial agar kesehatan jemaah tetap terjaga sejak di Tanah Air.

Dampak Negatif Walimatus Safar yang Berlangsung Berlebihan

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Liliek Marhaendro Susilo, menegaskan bahwa walimatus safar yang berlangsung secara intens dapat memicu kelelahan berat. Menurutnya, tubuh jemaah membutuhkan kondisi prima sebelum menjalani perjalanan panjang dan rangkaian ibadah haji yang menuntut stamina tinggi.

Sebagai contoh nyata, Kemenkes mengungkap peristiwa pada musim haji sebelumnya. Dalam kejadian tersebut, seorang jemaah meninggal dunia saat berada di dalam pesawat menuju Arab Saudi. Tim kesehatan kemudian menelusuri penyebab kejadian dan menemukan fakta bahwa jemaah tersebut menggelar open house walimatus safar selama tujuh hari tujuh malam tanpa waktu istirahat yang memadai.

Akibat aktivitas tersebut, jemaah mengalami kelelahan ekstrem. Saat berada di pesawat, kondisi fisik jemaah menurun drastis hingga berujung pada kejadian yang tidak di harapkan. Melalui peristiwa ini, Kemenkes mengajak seluruh calon jemaah untuk mengambil pelajaran penting demi keselamatan bersama.

Haji

Calon jemaah haji asal Pati tahun 2025 berangkat ke embarkasi beberapa bulan lalu(KOMPAS.com/ Kafi)

Anjuran Kemenkes Mengatur Agenda Pelepasan Secara Proporsional

Belajar dari pengalaman tersebut, Kemenkes meminta jemaah haji dan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) mengatur agenda pelepasan secara lebih bijak. Liliek menekankan bahwa walimatus safar merupakan tradisi budaya, bukan bagian dari rukun maupun sunnah haji. Oleh sebab itu, jemaah tidak perlu memaksakan diri menggelar acara besar dalam waktu yang lama.

Kemenkes menganjurkan agar seluruh rangkaian kegiatan seremonial, termasuk walimatus safar, selesai paling lambat satu minggu sebelum keberangkatan ke embarkasi. Dengan pengaturan tersebut, jemaah memiliki waktu yang cukup untuk fokus beristirahat dan mempersiapkan diri secara menyeluruh.

Selain itu, penyelenggaraan walimatus safar secara sederhana tetap mampu menjaga silaturahmi tanpa mengorbankan kondisi fisik. Pendekatan ini dinilai lebih aman dan lebih bermanfaat bagi kesehatan jemaah.

Pentingnya Masa Istirahat H-7 Sebelum Berangkat Haji

Kemenkes menilai masa satu pekan sebelum keberangkatan sebagai fase yang sangat penting. Pada periode ini, jemaah perlu memprioritaskan pemulihan stamina dan kesiapan mental. Aktivitas berat, kunjungan sosial yang padat, serta perjalanan tambahan sebaiknya tidak dilakukan.

Sebaliknya, jemaah dianjurkan menjalani aktivitas ringan, mengatur waktu tidur secara teratur, serta menjaga asupan gizi seimbang. Pola hidup sehat selama masa ini akan membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan cuaca dan aktivitas intens di Tanah Suci.

Ibadah haji menuntut kondisi fisik yang kuat karena jemaah harus menghadapi suhu panas, jarak tempuh yang panjang, serta jadwal ibadah yang padat. Apabila jemaah sudah mengalami kelelahan sejak di Indonesia, risiko gangguan kesehatan akan meningkat secara signifikan.

Menjaga Kesehatan Demi Ibadah Haji yang Aman dan Khusyuk

Menutup imbauannya, Kemenkes kembali menegaskan bahwa kesehatan merupakan modal utama dalam menjalankan ibadah haji. Jemaah yang berangkat dalam kondisi prima memiliki peluang lebih besar menjalani seluruh rangkaian ibadah dengan aman, lancar, dan khusyuk.

Dengan membatasi walimatus safar dan mengatur waktu istirahat secara disiplin, calon jemaah dapat melindungi diri dari risiko kelelahan yang tidak perlu. Pada akhirnya, kesiapan fisik dan mental yang optimal akan membantu jemaah mencapai tujuan utama ibadah haji sebagai perjalanan spiritual yang penuh makna.