Keputusan Amerika Serikat – Untuk menarik diri dari puluhan organisasi internasional kembali memicu diskusi serius di tingkat global. Langkah politik ini tidak hanya memengaruhi hubungan multilateral, tetapi juga berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan dunia dalam jangka panjang. Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, menilai kebijakan tersebut akan memberi keuntungan strategis bagi China.

Menurut Djumala, penurunan keterlibatan Amerika Serikat di berbagai forum internasional tidak serta-merta menciptakan pengganti tunggal. Namun demikian, kekosongan peran ini secara perlahan membuka peluang bagi negara lain untuk memperkuat pengaruhnya. Dalam konteks ini, China muncul sebagai pihak yang paling diuntungkan.

Organisasi Internasional yang Ditinggalkan Amerika Serikat

Amerika Serikat memutuskan keluar dari 66 organisasi internasional, yang terdiri dari 31 entitas Perserikatan Bangsa-Bangsa dan 35 organisasi non-PBB. Organisasi-organisasi tersebut menangani isu strategis, seperti perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, ketenagakerjaan, migrasi, kesehatan global, dan tata kelola internasional.

Pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa forum-forum tersebut tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasionalnya. Selain itu, AS menilai banyak organisasi internasional telah di pengaruhi oleh agenda negara tertentu yang bertentangan dengan prioritas politik dan ekonomi Amerika. Oleh karena itu, AS menganggap keberlanjutan keterlibatan di lembaga-lembaga tersebut justru berpotensi mengancam kedaulatan dan kemakmuran nasionalnya.

Dari sudut pandang kelembagaan, Amerika Serikat juga menilai organisasi yang di tinggalkan memiliki cakupan isu terlalu luas, tata kelola yang tidak efisien, serta penggunaan anggaran yang tidak sejalan dengan kepentingan strategis AS.

Amerika Serikat

Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Dr. Darmansjah Djumala. ANTARA/HO-BPIP/am.

Pergeseran Arah Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat

Darmansjah Djumala, yang pernah bertugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Austria dan PBB, memandang kebijakan ini sebagai sinyal perubahan besar dalam orientasi politik luar negeri Amerika Serikat. Menurutnya, keputusan tersebut mencerminkan menguatnya pendekatan unilateralisme dan nasionalisme ekonomi dalam dinamika politik domestik AS.

Selain faktor ideologis, pemerintah Amerika Serikat juga melihat keterlibatan multilateral sebagai beban finansial. AS menganggap banyak organisasi internasional tidak memberikan manfaat langsung bagi kepentingan domestik maupun hubungan bilateralnya. Akibatnya, AS memilih mengurangi peran global dan memfokuskan sumber daya pada agenda nasional.

Seiring dengan itu, forum multilateral yang menangani isu hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan kesehatan global dinilai membatasi ruang manuver kebijakan Amerika Serikat. Kondisi ini mendorong AS untuk mengambil jarak dari tata kelola global berbasis konsensus.

Dampak Terhadap Multilateralisme Global

Djumala menyoroti bahwa multilateralisme global kini menghadapi krisis kepercayaan. Selama ini, sistem multilateral bergantung pada kepemimpinan negara besar, termasuk Amerika Serikat. Ketika AS menarik diri, tidak ada jaminan negara lain akan langsung mengisi kekosongan tersebut.

Akibatnya, banyak organisasi internasional berisiko kehilangan daya dorong politik, dukungan pendanaan, serta kapasitas implementasi program. Kondisi ini dapat memperlambat upaya kolektif dalam menangani isu global yang bersifat lintas batas.

Bagi negara berkembang, dampak kebijakan ini terasa lebih nyata. Selama ini, banyak negara Global South memanfaatkan organisasi internasional sebagai sumber bantuan teknis, pendanaan pembangunan, transfer pengetahuan, serta perlindungan normatif dalam isu krusial seperti kesehatan, pendidikan, pangan, pengungsi, dan perubahan iklim.

Peluang Strategis bagi China di Forum Global

Di sisi lain, berkurangnya kontribusi Amerika Serikat membuka ruang strategis bagi China untuk memperluas pengaruhnya. Menurut Djumala, China memiliki kapasitas ekonomi dan politik untuk mengisi sebagian kekosongan tersebut, terutama dalam forum multilateral yang fokus pada pembangunan.

Bagi banyak negara Global South, China kini tampil sebagai mitra yang dapat di andalkan, khususnya dalam pembiayaan pembangunan dan infrastruktur. Dukungan China di forum internasional sering di persepsikan lebih pragmatis dan tidak di sertai persyaratan politik yang ketat.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperkuat posisi China sebagai aktor sentral dalam pembentukan konsensus global. Melalui pendekatan tersebut, China dapat meningkatkan pengaruhnya dalam pengambilan keputusan di berbagai organisasi internasional.

Kesimpulan

Keputusan Amerika Serikat untuk keluar dari puluhan organisasi internasional menandai perubahan signifikan dalam dinamika politik global. Kebijakan ini melemahkan peran kepemimpinan AS dalam multilateralisme sekaligus membuka peluang strategis bagi China untuk memperluas pengaruhnya. Bagi negara berkembang, perubahan ini membawa tantangan sekaligus peluang baru dalam tatanan global yang terus bergerak menuju keseimbangan kekuatan yang berbeda.