Jamur Neurospora Intermedia pengolah limbah makanan kini menarik perhatian para peneliti dunia. Jamur berwarna oranye tersebut mampu mengubah sisa pangan seperti ampas kedelai dan ampas kopi menjadi makanan baru yang bernilai gizi tinggi.
Selama ini, banyak orang menganggap limbah makanan sebagai bahan yang tidak berguna. Namun, tradisi fermentasi dari Jawa, Indonesia, menunjukkan hal berbeda. Masyarakat sejak lama memanfaatkan proses alami untuk mengubah sisa produksi pangan menjadi makanan seperti oncom.
Penelitian terbaru dalam jurnal Nature Microbiology mengungkap kemampuan Neurospora Intermedia dalam mengolah limbah makanan. Para ilmuwan menemukan bahwa jamur ini dapat tumbuh pada berbagai sisa produksi pangan.
Jamur tersebut membantu proses fermentasi. Proses itu menghasilkan makanan dengan rasa unik dan kandungan nutrisi yang lebih baik. Temuan ini juga memberikan peluang baru untuk mengurangi jumlah limbah makanan di dunia.
Penelitian Berawal dari Oncom Merah Khas Jawa
Peneliti menemukan Neurospora Intermedia ketika mempelajari oncom merah. Makanan tradisional Jawa ini memanfaatkan ampas kedelai sebagai bahan utama.
Vayu Hill-Maini, mantan koki yang kini menjadi ahli biologi jamur di Stanford University, memimpin penelitian tersebut. Ia ingin mengetahui jenis jamur yang bekerja dalam proses pembuatan oncom.
Hill-Maini bersama timnya mengambil sampel oncom merah untuk penelitian. Mereka menemukan bahwa Neurospora Intermedia menjadi jamur utama dalam proses fermentasi tersebut.
Tim peneliti kemudian mempelajari struktur genetik jamur itu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Neurospora Intermedia memiliki enzim khusus.
Enzim tersebut mampu memecah selulosa dan pektin. Kedua zat itu memiliki kandungan gula yang bermanfaat bagi manusia. Namun, tubuh manusia tidak dapat mencernanya secara langsung.
Peneliti juga menemukan perbedaan antara Neurospora Intermedia dalam oncom dan jenis liar di alam. Meski berbeda secara genetik, keduanya memiliki kemiripan dengan jamur yang hidup di limbah pertanian.
Jamur serupa ditemukan pada serat tebu di Taiwan dan tongkol jagung di Papua Nugini. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia kemungkinan telah mengembangkan hubungan khusus dengan jamur tersebut sejak lama.
Menurut Hill-Maini, manusia memanfaatkan kemampuan jamur untuk mengolah bahan yang sulit dimakan. Jamur memecah bahan tersebut lalu menghasilkan produk pangan yang lebih mudah dikonsumsi.
Fermentasi Tingkatkan Kandungan Protein
Neurospora Intermedia tidak hanya mengurangi limbah makanan. Jamur ini juga meningkatkan kualitas nutrisi dari bahan yang di gunakan.
Penelitian menunjukkan proses fermentasi dapat meningkatkan kandungan protein pada ampas kedelai. Hal ini membuat sisa produksi kedelai memiliki nilai lebih tinggi sebagai bahan pangan.
Produsen makanan dapat memanfaatkan teknologi ini untuk mengolah limbah produksi. Contohnya, ampas kedelai dari pembuatan susu kedelai dapat di olah kembali melalui fermentasi.
Cara tersebut dapat membantu industri pangan mengurangi pembuangan limbah. Selain itu, produsen juga dapat menciptakan makanan alternatif yang bergizi.

Ilustrasi oncom.
Rasa Makanan Fermentasi Disukai Banyak Orang
Peneliti juga menguji penerimaan masyarakat terhadap makanan hasil fermentasi Neurospora Intermedia. Mereka melibatkan 61 peserta dari Denmark dalam uji rasa tersebut.
Hasil pengujian menunjukkan banyak peserta menyukai makanan tersebut. Mereka menilai tekstur, tampilan, dan rasanya cukup menarik.
Beberapa peserta menggambarkan rasa makanan itu seperti jamur dan kacang. Peneliti juga menemukan bahwa media pertumbuhan jamur dapat memengaruhi rasa akhir.
Bahan yang berbeda menghasilkan karakter rasa yang berbeda pula. Hal ini membuat Neurospora Intermedia memiliki potensi besar dalam pengembangan produk pangan baru.
Koki Rasmus Munk dari restoran bintang dua Michelin Alchemist di Kopenhagen turut melakukan eksperimen. Ia menumbuhkan Neurospora Intermedia pada custard yang awalnya berwarna putih dan memiliki rasa hambar.
Setelah beberapa hari, custard tersebut mengalami perubahan. Permukaannya tampak seperti memiliki lapisan keju. Rasanya juga berubah menjadi mirip nanas.
Eksperimen itu menunjukkan kemampuan jamur dalam menciptakan variasi makanan dengan cita rasa unik.
Peluang Industri Pangan Ramah Lingkungan
Hill-Maini melihat Neurospora Intermedia memiliki peluang besar untuk industri pangan masa depan. Jamur ini dapat membantu produsen mengubah limbah menjadi makanan bernilai ekonomi.
Berbagai bahan seperti ampas kedelai, bubuk kopi, dan tongkol jagung dapat menjadi media pertumbuhan jamur. Produsen kemudian dapat mengolah hasil fermentasi menjadi produk pangan baru.
Inovasi ini menggabungkan ilmu modern dengan kearifan lokal Jawa. Tradisi pembuatan oncom membuktikan bahwa masyarakat telah lama memahami manfaat fermentasi.
Pemanfaatan Neurospora Intermedia menunjukkan bahwa limbah makanan masih memiliki potensi besar. Dengan penelitian lebih lanjut, jamur ini dapat membantu menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Teknologi fermentasi berbasis jamur juga dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi sampah makanan. Selain itu, metode ini mampu menghasilkan makanan yang sehat, terjangkau, dan ramah lingkungan.