Ekonomi Venezuela Terpuruk – Awal tahun 2026 menandai eskalasi serius dalam hubungan politik antara Amerika Serikat dan Venezuela. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pelaksanaan operasi berskala besar yang menyasar kepemimpinan Venezuela. Dalam pernyataannya, Trump menyebut Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah keluar dari Venezuela setelah aparat Amerika Serikat melakukan penangkapan melalui koordinasi penegak hukum federal.

Trump menegaskan bahwa operasi tersebut melibatkan kerja sama lintas lembaga di Amerika Serikat. Pernyataan ini langsung memicu perhatian internasional karena menyentuh isu kedaulatan negara, stabilitas kawasan Amerika Latin, serta dampak lanjutan terhadap ekonomi Venezuela yang telah lama berada dalam tekanan berat.

Latar Belakang Krisis Ekonomi Venezuela

Situasi politik ini tidak dapat dipisahkan dari kondisi ekonomi Venezuela yang terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pada April 2025, pemerintahan Maduro menetapkan status darurat ekonomi sebagai respons terhadap tekanan eksternal, terutama kebijakan sanksi dan tarif dari Amerika Serikat. Langkah tersebut muncul setelah Majelis Nasional Venezuela menyetujui dekrit yang diajukan langsung oleh Maduro.

Pemerintah Venezuela memandang sanksi ekonomi Amerika Serikat sebagai faktor utama yang menekan aktivitas ekonomi nasional. Pada Maret 2025, Amerika Serikat mencabut izin operasi sejumlah perusahaan minyak asing yang bekerja sama dengan perusahaan minyak negara Venezuela. Washington juga menerapkan tarif sekunder terhadap ekspor minyak mentah dan gas, yang selama ini menjadi tulang punggung penerimaan negara Venezuela.

Ekonomi

Caracas, ibu kota Venezuela, saat diserang Amerika Serikat (AS).Foto: via REUTERS/VIDEO OBTAINED BY REUTERS

Kebijakan Darurat Ekonomi dan Respons Pemerintah

Melalui dekrit darurat ekonomi, pemerintahan Maduro memperluas kewenangan negara dalam mengelola perekonomian. Pemerintah mengarahkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan inflasi, serta memberikan insentif khusus kepada investor. Selain itu, pemerintah merancang mekanisme substitusi impor guna mengurangi ketergantungan pada barang luar negeri.

Wakil Presiden sekaligus Menteri Perminyakan Venezuela, Delcy Rodríguez, menyampaikan bahwa kebijakan darurat tersebut bertujuan menopang produksi nasional. Ia mengakui dampak kebijakan Amerika Serikat terhadap perekonomian, namun tetap menegaskan keberlanjutan produksi minyak dan gas meskipun harga energi global mengalami penurunan sekitar 30 persen.

Rodríguez juga menyampaikan bahwa Venezuela tetap membuka pintu bagi produsen energi internasional selama mereka mematuhi hukum nasional. Pernyataan ini mencerminkan upaya pemerintah menjaga arus investasi di tengah tekanan geopolitik yang semakin kompleks.

Gambaran Pertumbuhan Ekonomi Venezuela Terkini

Data dari International Monetary Fund menunjukkan bahwa ekonomi Venezuela masih bergerak sangat lambat. IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Venezuela pada 2025 hanya mencapai 0,5 persen. Nilai produk domestik bruto tercatat sekitar US$ 82,77 miliar, angka yang jauh lebih kecil dibandingkan masa sebelum krisis ekonomi berkepanjangan.

Produk domestik bruto per kapita berada di kisaran US$ 3.100, yang mencerminkan rendahnya daya beli masyarakat. Berdasarkan paritas daya beli, angka tersebut meningkat menjadi US$ 8.790, namun selisih ini justru menyoroti ketimpangan antara nilai tukar resmi dan kemampuan konsumsi riil penduduk.

Inflasi Tinggi dan Tekanan Sosial

Venezuela masih menghadapi inflasi pada tingkat ekstrem. IMF mencatat rata-rata inflasi konsumen mencapai 269,9 persen sepanjang 2025. Tekanan harga bahkan berpotensi meningkat hingga 548,6 persen pada akhir periode. Kondisi ini terus menggerus pendapatan rumah tangga dan memperparah ketidakstabilan sosial.

Populasi Venezuela diperkirakan mencapai 26,89 juta jiwa pada 2026. Angka ini mencerminkan dampak migrasi besar-besaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran mencapai 35,6 persen, yang menunjukkan lemahnya penciptaan lapangan kerja formal dan terbatasnya peluang ekonomi.

Neraca Eksternal dan Beban Fiskal Negara

Dari sisi eksternal, Venezuela mencatat surplus neraca transaksi berjalan sebesar US$ 3,52 miliar atau sekitar 4,2 persen dari PDB pada 2025. Surplus ini terutama berasal dari ekspor komoditas energi, bukan dari diversifikasi sektor produktif.

Di bidang fiskal, pemerintah masih menghadapi tekanan serius. Defisit anggaran mencapai sekitar 3,6 persen terhadap PDB pada 2024. Pada saat yang sama, rasio utang pemerintah umum menembus 164,3 persen dari PDB. Beban utang ini menempatkan Venezuela dalam kategori risiko fiskal yang sangat tinggi.

Implikasi Politik dan Ekonomi ke Depan

Eskalasi tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela pada awal 2026 memperbesar ketidakpastian politik dan ekonomi kawasan. Tekanan eksternal berpadu dengan kerentanan internal, sehingga menciptakan tantangan besar bagi stabilitas jangka panjang Venezuela. Ke depan, arah kebijakan ekonomi dan hubungan internasional akan sangat menentukan kemampuan negara ini keluar dari krisis multidimensi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.