Buku Memoar – Berjudul Broken Strings karya Aurelie Moeremans menarik perhatian luas masyarakat Indonesia. Sejak terbit, buku setebal 220 halaman ini memicu diskusi serius mengenai luka psikologis, relasi manipulatif, dan perjuangan bertahan hidup. Melalui narasi reflektif, Aurelie menyampaikan pengalaman hidup yang penuh tekanan emosional sejak usia dini.
Lebih jauh lagi, Aurelie menulis kisahnya dengan kejujuran yang kuat. Ia menggambarkan perjalanan hidup sebagai korban grooming yang terjebak dalam hubungan tidak sehat sejak masa kanak-kanak. Dengan pendekatan personal, buku ini tidak hanya menuturkan pengalaman individu, tetapi juga mengajak pembaca memahami fenomena manipulasi yang sering luput dari kesadaran publik. Oleh karena itu, Broken Strings berperan sebagai pintu masuk penting untuk membahas isu child grooming secara lebih terbuka.
Child Grooming sebagai Bentuk Manipulasi Psikologis
Dalam konteks psikologi klinis, child grooming merupakan tindakan manipulatif yang dilakukan orang dewasa terhadap anak atau remaja. Fabiola Audrey Najoan, Psikolog Klinis Rumah Sakit Indriati Solo Baru, menjelaskan bahwa pelaku membangun kepercayaan dan keterikatan emosional untuk mencapai tujuan tertentu. Pelaku sering menciptakan citra sebagai sosok yang selalu hadir dan peduli.
Selanjutnya, pelaku memanfaatkan kebutuhan emosional korban. Mereka menanamkan keyakinan bahwa hanya merekalah pihak yang memahami dan melindungi korban. Pola ini menciptakan ketergantungan emosional yang kuat. Jika dikaitkan dengan kisah dalam Broken Strings, pola tersebut tampak melalui narasi “aku selalu ada untukmu” atau “aku membantu kamu menghadapi keluarga”. Dari titik inilah, manipulasi berkembang secara sistematis.

Grooming di usia 15 hingga mendapat ancaman, Aurelie Moeremans ungkap pilu masa lalu di buku ‘Broken Strings’. Berani bersuara demi sesama.(Instagram @aurelie)
Eksploitasi dalam Berbagai Bentuk
Eksploitasi dalam child grooming tidak selalu berbentuk kekerasan seksual. Fabiola menjelaskan bahwa eksploitasi juga dapat muncul dalam bentuk kepatuhan terhadap perintah, tekanan emosional, atau kontrol perilaku. Anak atau remaja sering mengikuti keinginan pelaku karena merasa berutang secara emosional. Dengan demikian, pelaku memanfaatkan relasi kuasa yang timpang untuk mempertahankan kendali.
Selain itu, pelaku sering menyamarkan tindakan manipulatif sebagai perhatian atau afeksi romantis. Akibatnya, korban tidak langsung menyadari posisi mereka sebagai korban. Ilusi kasih sayang ini membuat korban tetap bertahan meski menghadapi permintaan yang tidak pantas, seperti mengirim foto pribadi atau melakukan tindakan seksual.
Proses Kesadaran Korban Child Grooming
Manipulasi dalam child grooming tidak terjadi sekali. Pelaku menjalankan pola ini secara berulang sehingga korban menginternalisasi relasi tersebut sebagai sesuatu yang normal. Seiring waktu, korban mulai merasakan konflik batin ketika menyadari ketidakwajaran situasi yang mereka alami. Pada tahap inilah, korban memasuki proses emosional yang kompleks.
Fabiola mengaitkan respons korban dengan lima tahap berduka menurut teori Elisabeth Kübler-Ross. Tahapan ini tidak hanya berlaku pada kehilangan fisik, tetapi juga pada pengalaman traumatis dan relasi tidak sehat.
Tahap Denial dan Anger pada Korban
Pada tahap denial, korban sering menunjukkan penolakan. Mereka merasa kaget dan sulit menerima kenyataan. Korban kerap membela pelaku dengan pernyataan seperti “dia orang baik”. Pada fase ini, korban berusaha menekan rasa tidak nyaman demi menjaga stabilitas emosional.
Setelah itu, fase anger mulai muncul. Korban mulai mempertanyakan apa yang terjadi dan meluapkan kemarahan. Namun, kemarahan ini sering berbalik ke diri sendiri. Banyak korban menyalahkan diri mereka atas situasi tersebut. Transisi dari denial ke anger sering berlangsung tidak mulus dan bisa berulang.
Bargaining dan Depression sebagai Konflik Batin
Memasuki fase bargaining, korban mulai bernegosiasi dengan diri sendiri. Mereka mencari pembenaran dan berjanji untuk berubah agar situasi tidak terulang. Pola pikir seperti “ini terjadi karena aku” sering muncul dalam tahap ini. Korban berusaha menciptakan kontrol semu atas situasi yang sebenarnya tidak seimbang.
Selanjutnya, fase depression hadir sebagai perasaan sedih mendalam. Pada tahap ini, korban merasa tidak berharga dan tidak berdaya. Fabiola menekankan bahwa fase ini bukan gangguan depresi klinis, melainkan respons emosional terhadap tekanan berkepanjangan. Relasi kuasa yang timpang memperkuat rasa kecil dan ketidakmampuan korban untuk melawan.
Acceptance sebagai Proses Panjang
Tahap terakhir adalah acceptance atau penerimaan. Pada fase ini, korban mulai mengakui bahwa child grooming benar-benar terjadi pada diri mereka. Proses ini membutuhkan waktu panjang dan bersifat sangat personal. Tidak ada indikator pasti untuk menilai apakah seseorang telah mencapai tahap penerimaan.
Selain itu, proses ini tidak berjalan secara linear. Korban bisa berpindah dari satu tahap ke tahap lain secara berulang. Kesadaran ini penting agar lingkungan sekitar tidak memaksakan pemulihan secara instan.
Peran Broken Strings dalam Edukasi Publik
Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans menghadirkan narasi yang memperkaya pemahaman publik tentang child grooming. Buku ini mendorong diskusi kritis dan empati terhadap korban. Dengan membuka pengalaman personal, Aurelie membantu masyarakat mengenali pola manipulasi yang sering tersembunyi.
Pada akhirnya, buku ini tidak hanya berfungsi sebagai memoar, tetapi juga sebagai medium edukasi dan refleksi sosial. Kesadaran kolektif yang meningkat dapat menjadi langkah awal dalam mencegah praktik child grooming dan melindungi generasi muda.