Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) – Mengeluarkan peringatan dini terkait cuaca ekstrem yang berpotensi melanda sejumlah wilayah di Indonesia pada 7–8 Februari 2026. Warga diminta tetap waspada karena kondisi ini bisa menimbulkan hujan lebat, angin kencang, dan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Peringatan ini muncul setelah BMKG mencatat curah hujan tinggi di berbagai daerah pada awal Februari, menandakan pola cuaca ekstrem mulai terbentuk.

Selama 2–5 Februari 2026, intensitas hujan tercatat cukup tinggi di beberapa wilayah. Kalimantan Barat mencatat 110,4 mm per hari, Kalimantan Selatan 99,0 mm, Lampung 87,0 mm, Kalimantan Timur 82,6 mm, Jawa Tengah 81,6 mm, dan Sulawesi Selatan 76,2 mm. Curah hujan yang signifikan ini menunjukkan perlunya kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah agar potensi risiko bencana dapat diminimalkan.

Monsun Asia dan Faktor Utama Peningkatan Curah Hujan

Peningkatan curah hujan di Indonesia terjadi karena Monsun Asia menguat. Aliran angin timur laut dari daratan Asia membawa massa udara basah menuju wilayah maritim tropis Indonesia. Aliran ini menambah kelembapan udara secara signifikan dan mempercepat pembentukan awan hujan. Dengan begitu, beberapa daerah mengalami hujan lebih intens dan berlangsung lebih lama.

Selain Monsun Asia, fenomena atmosfer lainnya turut memperkuat kondisi cuaca ekstrem. BMKG mencatat nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif di beberapa wilayah, menandakan luasnya tutupan awan tebal dan meningkatnya aktivitas konveksi. Akibatnya, awan hujan terbentuk lebih cepat, intens, dan bertahan lebih lama, sehingga peluang terjadinya hujan lebat meningkat secara signifikan.

BMKG

BMKG merilis daftar wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat hingga angin kencang pada periode 7?8 Februari 2026.

Fenomena Atmosfer Tambahan yang Memengaruhi Cuaca

Selain faktor lokal, beberapa fenomena global ikut memengaruhi cuaca Indonesia. Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin tercatat aktif dari Samudra Pasifik utara hingga timur laut Papua. Aktivitas fenomena ini mendorong pembentukan awan hujan secara lebih massif dan memperkuat pola hujan di berbagai wilayah.

Dinamika atmosfer juga mengalami pengaruh dari sistem siklon tropis. Siklon Tropis Penha muncul di Laut Filipina, utara Maluku, sementara Bibit Siklon Tropis 98P terpantau di daratan utara Australia. Kedua sistem ini memperlambat dan membelokkan aliran angin, menciptakan konvergensi yang memperkuat pembentukan awan hujan. Selain itu, konvergensi ini meningkatkan kelembapan lokal, sehingga curah hujan intens lebih mudah terjadi.

Dampak Langsung Terhadap Wilayah Indonesia

Siklon Tropis Penha memengaruhi Maluku Utara, Sulawesi Utara, dan Gorontalo dengan potensi hujan sedang hingga lebat. Sementara Bibit Siklon Tropis 98P memperkuat peluang hujan sedang di  sertai angin kencang di Nusa Tenggara Timur. Kondisi ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga terbentuk akibat interaksi beberapa fenomena global dan regional.

Masyarakat di wilayah rawan banjir, longsor, dan angin kencang harus menyiapkan langkah antisipasi. Langkah ini mencakup memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG, menyiapkan jalur evakuasi, memeriksa struktur bangunan, dan mengamankan fasilitas penting. Dengan begitu, risiko korban dan kerugian materi bisa ditekan seminimal mungkin.

Kesiapsiagaan dan Rekomendasi BMKG

BMKG menekankan koordinasi lintas lembaga, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), menjadi kunci dalam menghadapi cuaca ekstrem. Pemantauan wilayah rawan dan penanganan cepat ketika bencana muncul akan membantu melindungi masyarakat dan infrastruktur. Selain itu, BMKG menyarankan masyarakat selalu waspada, menyesuaikan aktivitas harian dengan kondisi cuaca, dan segera bertindak saat tanda bahaya muncul.

Kesimpulannya, kombinasi Monsun Asia, OLR negatif, MJO, Gelombang Rossby, Gelombang Kelvin, serta siklon tropis berperan besar dalam meningkatkan intensitas hujan dan angin. Dengan memahami fenomena ini dan mengikuti peringatan BMKG, masyarakat dapat menghadapi cuaca ekstrem dengan lebih aman dan terencana.