Dunia kolektor – Kembali menyoroti peninggalan tragedi Titanic ketika sebuah jaket pelampung milik penyintas berhasil terjual dengan nilai sangat tinggi. Rumah lelang Henry Aldridge & Son di Devizes, Inggris, menggelar pelelangan pada Sabtu, 18 April 2026. Kemudian, hasil lelang mencapai 670.000 poundsterling atau sekitar Rp15,5 miliar berdasarkan kurs 19 April 2026.

Lebih lanjut, jaket pelampung tersebut pernah digunakan oleh Laura Mabel Francatelli, seorang penumpang kelas satu RMS Titanic. Pada saat itu, ia mengenakan jaket tersebut ketika kapal menghadapi situasi darurat dan penumpang bergerak menuju sekoci penyelamat. Oleh karena itu, nilai sejarah benda ini meningkat tajam di mata kolektor internasional.

Jaket Pelampung Laura Francatelli Miliki Nilai Historis Tinggi

Selain itu, Laura Francatelli tidak hanya menggunakan jaket pelampung tersebut, tetapi juga menandatanganinya bersama penyintas lain dari sekoci yang sama. Dengan demikian, artefak ini memiliki nilai autentikasi yang semakin kuat sebagai bukti sejarah langsung dari tragedi 1912.

Selanjutnya, para penawar mengikuti proses lelang melalui telepon dari berbagai negara tanpa identitas yang terbuka. Kemudian, persaingan harga berlangsung ketat hingga nilai akhir melampaui perkiraan awal yang hanya berada di kisaran 250.000 hingga 350.000 poundsterling atau sekitar Rp5,7 hingga Rp8,1 miliar. Oleh sebab itu, hasil lelang ini menunjukkan tingginya minat terhadap artefak Titanic.

Barang Titanic Lain Juga Raih Harga Tinggi

Di samping jaket pelampung, rumah lelang juga menawarkan berbagai barang lain dari Titanic. Misalnya, bantalan kursi dari salah satu sekoci Titanic juga menarik perhatian kolektor. Akibatnya, barang tersebut terjual dengan harga 390.000 poundsterling atau sekitar Rp9 miliar.

Kemudian, dua museum Titanic di Pigeon Forge, Tennessee, dan Branson, Missouri membeli barang tersebut. Dengan kata lain, institusi sejarah ikut bersaing dalam pelestarian artefak Titanic. Selain itu, harga tersebut sudah mencakup premi pembeli dari rumah lelang.

Juru lelang Andrew Aldridge kemudian menegaskan bahwa harga tinggi tersebut mencerminkan minat global yang terus tumbuh. Menurutnya, masyarakat dunia masih menghargai kisah Titanic serta para penumpang dan kru yang terlibat dalam peristiwa tersebut.

jaket pelampung

Pelampung jaket survivor insiden Titanic pada 1912 dilelang oleh rumah lelang Henry Aldridge & Son.

Tragedi Titanic yang Masih Mengguncang Dunia

Selain itu, RMS Titanic berlayar pada tahun 1912 dalam rute Inggris menuju New York. Pada awalnya, kapal ini mendapat predikat sebagai kapal paling mewah di dunia. Namun demikian, perjalanan perdananya berubah menjadi tragedi besar.

Kemudian, pada 15 April 1912, Titanic menabrak gunung es di perairan dekat Newfoundland. Akibatnya, kapal tenggelam hanya dalam beberapa jam. Selanjutnya, sekitar 1.500 dari 2.200 penumpang dan awak kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut.

Meskipun demikian, Titanic tetap menjadi pusat perhatian dunia hingga saat ini. Hal ini terjadi karena kapal tersebut membawa penumpang dari berbagai latar belakang sosial, mulai dari masyarakat biasa hingga kalangan bangsawan.

Sekoci dan Kontroversi Penyelamatan Titanic

Selain itu, Laura Francatelli berhasil selamat bersama majikannya Lucy Duff Gordon dan suaminya Cosmo Duff Gordon. Mereka naik ke sekoci nomor 1 yang sebenarnya memiliki kapasitas 40 orang. Namun demikian, sekoci tersebut hanya mengangkut 12 orang penumpang.

Oleh karena itu, banyak pihak mempertanyakan keputusan penyelamatan saat itu. Sebagai akibatnya, sekoci tersebut menjadi simbol kontroversi dalam sejarah Titanic karena banyak kursi kosong yang tidak terisi.

Nilai Koleksi Titanic Terus Meningkat di Pasar Dunia

Di sisi lain, minat terhadap barang Titanic terus meningkat setiap tahun. Sebagai contoh, pada 2024 sebuah jam saku emas terjual dengan harga 1,56 juta poundsterling atau sekitar Rp36,1 miliar. Dengan demikian, rekor harga barang Titanic terus mengalami kenaikan.

Jam tersebut sebelumnya milik kapten RMS Carpathia, kapal yang menyelamatkan sekitar 700 penyintas Titanic. Selain itu, lelang terbaru ini berlangsung tepat 114 tahun setelah kapal Carpathia tiba di New York pada 18 April 1912.

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, lelang jaket pelampung Laura Francatelli menunjukkan bahwa sejarah Titanic tetap memiliki daya tarik kuat di seluruh dunia. Selain itu, kolektor dan museum terus bersaing untuk mendapatkan artefak bersejarah tersebut. Oleh karena itu, setiap barang Titanic tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa cerita sejarah yang terus hidup hingga saat ini.