Pemerintah China – Mengambil langkah tegas dengan melarang warganya melakukan perjalanan ke Jepang selama libur Tahun Baru Imlek. Langkah ini muncul akibat meningkatnya ketegangan diplomatik antara Tokyo dan Beijing, terutama terkait isu Taiwan. Larangan perjalanan ini menimbulkan dampak langsung pada industri pariwisata Jepang, mengingat wisatawan China selama ini menyumbang jumlah pengunjung terbesar.
Ketegangan Diplomatik Memicu Larangan
Ketegangan antara kedua negara bermula dari pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November 2025. Ia menegaskan Tokyo akan mempertimbangkan intervensi militer jika Taiwan menghadapi serangan. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Beijing, yang menegaskan Taiwan sebagai wilayahnya. Sebagai bentuk protes, pemerintah China mendorong warganya untuk menahan perjalanan ke Jepang, terutama pada periode libur Imlek.
Selain alasan politik, Beijing menekankan faktor keamanan publik. Departemen Urusan Konsuler Kementerian Luar Negeri China menyoroti meningkatnya insiden kriminal yang menargetkan warga China di Jepang. Selain itu, serangkaian gempa bumi yang terjadi di beberapa wilayah Jepang menambah risiko bagi wisatawan. Peringatan ini memperkuat alasan pemerintah untuk membatasi perjalanan ke negara tersebut.

Destinansi wisata Jepang yang populer.
Dampak Penurunan Wisatawan China
Larangan ini langsung memengaruhi jumlah kunjungan wisatawan China. Pada bulan sebelumnya, jumlah pengunjung China ke Jepang turun sekitar 45 persen dibandingkan tahun sebelumnya, hanya mencapai 330.000 orang. Kementerian Luar Negeri China kembali menegaskan agar warganya menghindari kunjungan ke Jepang selama sembilan hari libur Imlek yang berlangsung pada Februari 2026.
Tren ini menandai perubahan signifikan karena sebelumnya wisatawan China menyumbang sekitar seperempat dari total kunjungan asing ke Jepang. Pada sembilan bulan pertama 2025, hampir 7,5 juta wisatawan China mengunjungi Jepang, menghabiskan setara USD 3,7 miliar pada kuartal ketiga. Penurunan jumlah wisatawan China ini memicu kebutuhan Jepang untuk mengadaptasi strategi pariwisata dan mencari alternatif pasar.
Respons Pemerintah Jepang
Menteri Pariwisata Jepang, Yasushi Kaneko, menyatakan pihaknya terus memantau situasi. Ia mencatat kunjungan wisatawan China pada Desember 2025 merupakan yang terendah sejak Januari 2022. Penurunan ini menunjukkan bahwa boikot China memberikan dampak nyata pada pariwisata Jepang.
Meski jumlah wisatawan China turun, Jepang tetap mencatat rekor kunjungan wisatawan asing secara keseluruhan. Pemerintah memperkirakan total kunjungan pada 2025 mencapai 42,7 juta orang. Angka ini meningkat karena pelemahan nilai yen dan meningkatnya penerbangan internasional. Selain itu, pengeluaran wisatawan asing mencapai rekor 9,5 triliun yen atau sekitar Rp1.020 triliun.
Strategi Promosi Pariwisata Baru
Jepang memperluas promosi pariwisata untuk menarik pengunjung dari wilayah lain seperti Australia, Eropa, dan Amerika Serikat. Strategi ini menyeimbangkan dampak penurunan wisatawan China sekaligus memperkuat pasar internasional yang lebih beragam. Pemerintah bekerja sama dengan agen perjalanan seperti JTB untuk memproyeksikan tren kunjungan dan menyesuaikan strategi promosi.
JTB memproyeksikan jumlah wisatawan asing pada 2025 mencapai 42,6 juta orang. Namun, prediksi untuk 2026 menurun menjadi sekitar 41,4 juta jika boikot China terus berlanjut, turun sekitar 2,8 persen dari tahun sebelumnya. Para analis menekankan bahwa dampak larangan perjalanan China akan tetap terasa sampai pemerintah Beijing mencabut peringatannya.
Pergeseran Tren Wisatawan
Larangan perjalanan ini juga memengaruhi perilaku wisatawan China yang memilih destinasi domestik. Selama Imlek, lonjakan perjalanan domestik di China diperkirakan meningkat tajam, yang memindahkan sebagian besar wisatawan dari perjalanan internasional. Jepang menghadapi tantangan untuk menarik wisatawan dari negara lain dan meningkatkan promosi agar tidak terlalu bergantung pada satu negara asal.
Selain itu, sektor pariwisata Jepang perlu menyesuaikan layanan, paket tur, dan fasilitas untuk menarik pengunjung yang lebih beragam. Menyasar pasar baru memungkinkan Jepang mempertahankan pertumbuhan industri pariwisata meski mengalami tekanan diplomatik.
Kesimpulan Sementara
Larangan perjalanan China menunjukkan dampak langsung politik internasional terhadap sektor pariwisata. Jepang masih menikmati rekor kunjungan wisatawan secara keseluruhan, tetapi tekanan pada kunjungan China menuntut adaptasi strategi. Pemerintah Jepang terus mengeksplorasi pasar alternatif dan meningkatkan promosi internasional, sehingga sektor pariwisata tetap stabil di tengah dinamika geopolitik dan perubahan perilaku wisatawan global.