Serabi Solo selalu menarik perhatian penikmat kuliner. Teksturnya lembut, aroma santan menguar harum, dan rasa manis berpadu gurih dengan sempurna. Lebih dari sekadar camilan, serabi mencerminkan identitas kuliner masyarakat Surakarta. Setiap gigitan menghadirkan pengalaman rasa yang khas, sehingga siapa pun yang mencoba akan langsung merasakan keunikannya.
Ketika berkunjung ke Solo, mencicipi serabi tradisional menjadi kegiatan wajib. Selain rasanya yang khas, proses pembuatannya yang sederhana justru melahirkan cita rasa yang sulit ditiru di kota lain. Dari dapur-dapur kecil hingga sentra oleh-oleh, serabi Solo selalu menjadi primadona. Lebih dari itu, jajanan ini menunjukkan bagaimana tradisi kuliner bisa bertahan dan tetap relevan hingga kini.
Cara Membuat Serabi Solo Manis Gurih di Rumah
Selain mencicipi langsung, siapa pun kini bisa mencoba membuat serabi Solo di rumah. Dengan bahan mudah di peroleh dan teknik yang tepat, cita rasa autentik tetap bisa dihadirkan. Sebagai langkah awal, siapkan bahan-bahan berikut:
Bahan-Bahan
-
500 gram tepung beras
-
250 gram gula pasir
-
Santan kental dari 1 butir kelapa
-
600 ml air
-
Soda kue secukupnya
-
Minyak sayur untuk olesan wajan
-
Cokelat meses secukupnya
-
Irisan pisang atau nangka sebagai topping
Langkah pertama, campur tepung beras dengan air sedikit demi sedikit sambil terus daduk hingga adonan halus. Selanjutnya, masukkan gula pasir dan aduk kembali hingga larut. Tambahkan soda kue untuk membantu adonan mengembang.
Sementara itu, hangatkan santan kental sambil terus daduk agar tetap lembut, lalu sisihkan. Pada tahap berikutnya, panaskan wajan kecil anti lengket atau wajan tanah liat dan olesi tipis dengan minyak. Tuang satu sendok sayur adonan ke wajan, biarkan hingga setengah matang dan muncul pori-pori di permukaan. Setelah itu, siram sedikit santan kental di atas adonan dan tutup wajan.
Setelah itu, tambahkan topping sesuai selera, seperti cokelat meses, pisang, atau nangka. Serabi matang dit andai dengan pinggiran kering dan bagian tengah tetap lembut. Angkat, sajikan hangat, dan nikmati perpaduan manis gurih yang khas. Dengan cara ini, siapa pun bisa menghadirkan rasa autentik Serabi Solo tanpa harus ke Surakarta.

Serabi menjadi salah satu jajanan khas di kota Solo, Jawa Tengah. Berbeda dengan serabi lain, serabi di Solo menggunakan bahan utama tepung beras. (Liputan6.com/Diviya Agatha)
Sejarah Singkat Serabi Solo
Selain rasanya, serabi juga kaya sejarah. Serabi telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram dan tercatat dalam Serat Centhini, naskah sastra Jawa abad ke-19. Naskah ini menyebut serabi sebagai sajian dalam prosesi adat, mulai dari pernikahan hingga ruwahan. Oleh karena itu, serabi tidak hanya menyenangkan lidah tetapi juga memiliki nilai budaya.
Menurut Bondan Winarno (alm.), serabi berkembang dari kue apem yang mendapat pengaruh kuliner India. Apem yang awalnya lebih padat berubah menjadi serabi lembut karena penambahan santan. Di Solo, serabi mencapai puncak popularitas melalui Serabi Notosuman. Pasangan Hoo Gek Hok dan Tan Giok Lan mengembangkan kue apem menjadi serabi pipih pada 1923. Sejak saat itu, serabi Solo menjadi ikon kuliner kota yang tetap eksis hingga sekarang.
Perbedaan Serabi Solo dengan Serabi Daerah Lain
Serabi Solo berbeda dari serabi daerah lain. Pertama, Serabi Solo tidak menggunakan kuah santan manis, sementara serabi Bandung atau Jawa Barat identik dengan siraman kinca. Kedua, teksturnya tipis, bagian tengah tetap lembut, dan pinggiran kering. Selain itu, serabi Solo tradisional di masak menggunakan wajan tanah liat di atas arang, sehingga aroma khas muncul secara alami.
Selain itu, varian rasa serabi Solo lebih sederhana dengan dua pilihan, polos atau taburan cokelat, untuk menjaga rasa asli. Sebaliknya, serabi modern menawarkan berbagai topping, namun cita rasa klasik tetap menjadi favorit. Oleh karena itu, serabi Solo tetap bertahan sebagai warisan kuliner yang memikat.