Perkembangan Teknologi Otomotif – Terus menghadirkan inovasi baru dalam meningkatkan keselamatan berkendara. Salah satu teknologi yang kini mendapat perhatian serius ialah Anti-lock Braking System atau ABS. Selama ini, produsen kendaraan umumnya memasang teknologi tersebut pada mobil dan sepeda motor dengan kapasitas mesin di atas 150 cc. Namun demikian, pemerintah mulai membuka wacana penerapan ABS pada seluruh jenis sepeda motor yang beroperasi di jalan raya Indonesia.
Melalui pendekatan kebijakan yang progresif, pemerintah berupaya menekan angka kecelakaan lalu lintas yang masih tinggi. Oleh karena itu, integrasi teknologi keselamatan berbasis sistem pengereman modern menjadi langkah strategis yang semakin relevan.
Dukungan Pemerintah terhadap Inovasi Teknologi Pengereman
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat menyampaikan dukungan terhadap perluasan penggunaan teknologi ABS. Direktur Sarana dan Keselamatan Transportasi Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Yusuf Nugroho, menilai perkembangan teknologi keselamatan kendaraan berlangsung sangat cepat dan membuka peluang implementasi fitur canggih di Indonesia.
Menurut Yusuf, teknologi seperti ABS dan sistem stability control mampu meningkatkan keselamatan pengendara secara signifikan. Teknologi tersebut membantu kendaraan mempertahankan stabilitas dan kendali saat pengendara melakukan pengereman mendadak atau bermanuver di kondisi jalan yang sulit. Dengan demikian, risiko kecelakaan dapat ditekan secara nyata.
Selain itu, Yusuf menekankan bahwa integrasi sistem keselamatan otomatis memperkuat kontrol pengereman serta meningkatkan perlindungan bagi seluruh pengguna jalan. Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan perilaku pengendara, tetapi juga memperkuat aspek teknis kendaraan.

Ilustrasi. Mekanik memperbaiki roda dan sistem pengereman motor. (iStockphoto/Lizalica)
Peran ABS dalam Mengurangi Risiko Kecelakaan
Anti-lock Braking System bekerja dengan mencegah roda terkunci saat pengereman keras. Ketika roda tetap berputar, pengendara dapat mempertahankan arah kendaraan dan menghindari kehilangan kendali. Dalam berbagai kondisi jalan, seperti permukaan basah atau licin, sistem ini membantu mengurangi jarak pengereman sekaligus menjaga stabilitas.
Seiring meningkatnya volume kendaraan roda dua di Indonesia, peran teknologi pengereman menjadi semakin penting. Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan penjualan sepeda motor pada November 2025 mencapai 523.591 unit atau tumbuh 2,1 persen. Angka ini mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat yang sangat bergantung pada sepeda motor.
Namun, pertumbuhan jumlah kendaraan tersebut belum diimbangi dengan penguatan standar keselamatan yang memadai. Oleh karena itu, strategi edukasi pengendara saja tidak cukup untuk menurunkan tingkat fatalitas kecelakaan lalu lintas.
Data Kecelakaan dan Tantangan Keselamatan Jalan
Berdasarkan data Korlantas Polri, sekitar 44 persen kecelakaan sepeda motor sepanjang 2024 terjadi akibat kegagalan fungsi pengereman. Angka ini menunjukkan bahwa aspek teknis kendaraan memegang peran penting dalam keselamatan berkendara.
Sejalan dengan temuan tersebut, kajian peneliti Fakultas Teknik Universitas Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan ABS mampu menurunkan risiko kecelakaan sepeda motor hingga 24 persen. Hasil ini memperkuat argumen bahwa teknologi pengereman modern dapat memberikan dampak nyata terhadap keselamatan jalan.
Dengan target nasional untuk menurunkan fatalitas kecelakaan hingga 50 persen pada 2030, penerapan ABS pada sepeda motor berpotensi menjadi solusi teknologi yang krusial.
Perspektif Internasional tentang Keselamatan Roda Dua
Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Keselamatan Jalan Raya, Jean Todt, mencatat bahwa sekitar 80 persen kecelakaan fatal di Indonesia melibatkan kendaraan roda dua. Lebih lanjut, dua pertiga korban meninggal dunia tidak memiliki lisensi mengemudi.
Menurut Jean, kombinasi antara edukasi pengendara dan penerapan standar keselamatan berbasis teknologi menjadi kunci utama dalam menekan risiko kecelakaan fatal. Dengan pendekatan ini, negara dapat melindungi pengguna jalan secara lebih menyeluruh.
Pentingnya Kolaborasi Lintas Sektor
Ketua Dewan Pengawas Road Safety Association Indonesia, Rio Octaviano, menyoroti perlunya pendekatan lintas sektor dalam isu keselamatan jalan. Menurutnya, kebijakan keselamatan sering berjalan parsial tanpa kerangka integrasi yang seimbang antara perilaku pengendara dan standar kendaraan.
Rio mencontohkan praktik di India, di mana organisasi nonpemerintah secara konsisten menyuarakan isu keselamatan jalan dan mendorong pemerintah untuk menindaklanjuti aspirasi tersebut secara serius. Kolaborasi yang kuat akhirnya melahirkan kebijakan konkret yang berdampak luas.
Pembelajaran dari Penerapan ABS di India
Pemerhati keselamatan jalan dari Road Safety India, Rajni Gandhi, menegaskan pentingnya perencanaan matang dalam penerapan ABS pada seluruh sepeda motor. Menurut Rajni, sistem ini membantu pengendara mengendalikan kendaraan dengan lebih baik serta meningkatkan stabilitas dan efektivitas pengereman di berbagai kondisi.
Rajni juga menjelaskan bahwa pemerintah India akan mewajibkan penggunaan rem ABS pada seluruh sepeda motor dan skuter baru mulai Januari 2026, tanpa membedakan kapasitas mesin. Kebijakan ini mencerminkan komitmen kuat negara tersebut dalam menurunkan angka kecelakaan lalu lintas.
Urgensi Penerapan ABS di Indonesia
Di Indonesia, sebagian besar pengendara menggunakan sepeda motor dengan kapasitas mesin di bawah 150 cc. Namun, teknologi pengereman canggih masih terbatas pada motor berkapasitas besar. Ketimpangan ini menciptakan celah keselamatan yang signifikan di jalan raya.
Oleh karena itu, penerapan ABS secara menyeluruh dapat menjadi langkah strategis dalam membangun sistem keselamatan jalan yang lebih inklusif. Dengan dukungan regulasi, kolaborasi lintas sektor, serta edukasi berkelanjutan, Indonesia dapat mempercepat penurunan angka kecelakaan dan meningkatkan kualitas keselamatan berkendara secara nasional.