Pemerintah – Terus mendorong pemanfaatan situs sejarah sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah. Salah satu langkah strategis muncul melalui dorongan Menteri Kebudayaan Fadli Zon agar kawasan Makam Gunung Puyuh di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, berkembang sebagai motor penggerak ekonomi berbasis sejarah dan budaya. Melalui pendekatan ini, nilai sejarah tidak hanya terjaga, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.

Seiring meningkatnya minat publik terhadap wisata sejarah dan budaya, kawasan Makam Gunung Puyuh memiliki peluang besar untuk berkembang. Oleh karena itu, pengelolaan yang terarah dan berkelanjutan menjadi kunci utama agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.

Makam Cut Nyak Dien dan Nilai Sejarah Nasional

Kawasan Makam Gunung Puyuh menyimpan nilai historis yang sangat kuat karena menjadi tempat peristirahatan terakhir Cut Nyak Dien, pahlawan nasional asal Aceh. Keberadaan makam ini menempatkan Sumedang dalam peta penting sejarah perjuangan nasional Indonesia.

Fadli Zon menegaskan bahwa Cut Nyak Dien tidak hanya dikenal sebagai tokoh perjuangan melawan kolonialisme Belanda, tetapi juga sebagai simbol keteguhan, keberanian, dan nasionalisme. Oleh sebab itu, narasi sejarah tentang perjuangan Cut Nyak Dien dapat menjadi fondasi utama dalam pengembangan kawasan berbasis budaya.

Lebih jauh, nilai sejarah tersebut dapat dikemas dalam berbagai bentuk karya kreatif. Melalui pendekatan ini, sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, tetapi terus hidup dan relevan bagi generasi masa kini.

Makam

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat berziarah ke kompleks Makam Gunung Puyuh di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada Jumat (16/1/2026). (ANTARA/HO-Kemenbud)

Narasi Sejarah sebagai Basis Ekonomi Kreatif

Selain memiliki nilai simbolik, kisah perjuangan Cut Nyak Dien juga telah melahirkan karya budaya berskala nasional. Film kepahlawanan tentang Cut Nyak Dien menjadi salah satu contoh nyata bagaimana sejarah dapat diolah menjadi produk kreatif yang berdampak luas.

Melalui film tersebut, masyarakat dapat memahami perjuangan tokoh perempuan dalam melawan penjajahan. Dari sini, Fadli melihat peluang besar untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis sejarah di kawasan Makam Gunung Puyuh. Aktivitas seperti pameran, pertunjukan seni, diskusi sejarah, hingga produksi konten kreatif dapat tumbuh seiring dengan penguatan narasi perjuangan nasional.

Dengan demikian, kawasan makam tidak hanya berfungsi sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan kreativitas.

Sumedang dalam Riwayat Pengasingan Cut Nyak Dien

Dalam kunjungannya ke Makam Gunung Puyuh, Fadli Zon menekankan posisi strategis Sumedang dalam perjalanan hidup Cut Nyak Dien. Pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Cut Nyak Dien ke Sumedang hingga akhir hayatnya. Selama masa pengasingan tersebut, Cut Nyak Dien menjalani kehidupan dengan pendampingan ulama setempat, Ki Haji Sanusi.

Peran Ki Haji Sanusi menjadi bagian penting dalam narasi sejarah kawasan ini. Hubungan antara tokoh ulama lokal dan pahlawan nasional memperkaya nilai historis Makam Gunung Puyuh. Oleh karena itu, cerita-cerita lokal ini dapat memperkuat identitas kawasan sebagai pusat wisata sejarah dan religi.

Makam Gunung Puyuh sebagai Destinasi Wisata Religi

Selain terkait dengan Cut Nyak Dien, Makam Gunung Puyuh juga berfungsi sebagai kompleks pemakaman bangsawan Sumedang. Lokasi ini menjadi tempat peristirahatan para bupati Sumedang, Pangeran Sugih, serta keturunannya.

Letaknya di dataran tinggi memberikan suasana yang tenang dan sakral. Kondisi ini mendukung pengembangan wisata religi dan sejarah di Jawa Barat. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini dapat menarik peziarah, pelajar, peneliti, serta wisatawan budaya dari berbagai daerah.

Seiring meningkatnya kunjungan, masyarakat sekitar dapat mengembangkan usaha pendukung seperti pemandu wisata, produk kerajinan, kuliner lokal, dan layanan ekonomi kreatif lainnya.

Pewarisan Nilai Patriotisme kepada Generasi Muda

Fadli Zon berharap pengembangan Makam Gunung Puyuh tidak hanya berorientasi pada ekonomi. Lebih dari itu, kawasan ini di harapkan mampu menjadi sarana pewarisan nilai patriotisme dan keteladanan pahlawan nasional kepada generasi muda.

Melalui edukasi sejarah yang kontekstual dan menarik, generasi muda dapat memahami makna perjuangan bangsa secara lebih mendalam. Oleh karena itu, integrasi antara sejarah, budaya, dan ekonomi kreatif menjadi pendekatan yang relevan untuk memperkuat identitas nasional.

Sinergi Pemerintah dan Pemangku Kepentingan

Kunjungan ke Makam Gunung Puyuh melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyatakan dukungan terhadap pengembangan kawasan berbasis sejarah dan budaya. Selain itu, jajaran Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat, serta perwakilan komunitas museum turut mendampingi kunjungan tersebut.

Kolaborasi lintas sektor ini memperkuat upaya menjadikan Makam Gunung Puyuh sebagai pusat wisata sejarah yang berdaya saing. Dengan sinergi yang konsisten, kawasan ini berpotensi menjadi contoh sukses pengembangan ekonomi daerah berbasis warisan budaya.