Kirab Budaya Dan Ruwat Bumi 2026 akan menghadirkan perayaan tradisi sekaligus pertunjukan seni di Kota Tangerang pada Minggu, 27 September 2026. Masyarakat dapat mengikuti rangkaian acara sejak pagi, sementara pengguna jalan perlu mencermati beberapa ruas yang masuk dalam lintasan pawai.
Agenda tahun ini melibatkan Kelenteng Tjie Thien Ta Sen Bio dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang. Panitia akan mengawali kegiatan pada pukul 10.00 WIB dan meneruskannya hingga seluruh agenda hari itu selesai.
Kecamatan Neglasari menjadi lokasi utama penyelenggaraan. Lebih tepatnya, berbagai kegiatan akan mengambil tempat di sekitar Pintu Air Timur, Kelurahan Karangsari.
Kelenteng Tjie Thien Ta Sen Bio yang berada di kawasan tersebut menjadi pusat rangkaian acara. Tahun ini, pengelola kelenteng sekaligus memperingati dua momentum, yakni Sejit Yang Mulia Suci Kongco Tjie Thien Ta Sen serta hari jadi kelenteng yang ke-43.
Pemerintah Melihat Potensi Edukasi Budaya
Pemerintah Kota Tangerang memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan agenda tersebut. Kepala Disbudpar Kota Tangerang Boyke Urif Hermawan memandang kegiatan budaya memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat.
Menurut Boyke, generasi muda dapat memanfaatkan acara tersebut untuk mengenal kebudayaan yang berkembang di daerah mereka. Selain fungsi edukasi, keberadaan agenda tradisional juga menambah keragaman seni lokal.
Sektor pariwisata turut menjadi perhatian pemerintah. Boyke menilai acara kebudayaan dapat memperkuat daya tarik daerah sekaligus menciptakan ruang bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk berkumpul.
Melalui kegiatan itu, Pemkot Tangerang juga ingin menjaga keberadaan tradisi di tengah karakter masyarakat kota yang beragam. Pemerintah berharap interaksi yang muncul selama acara dapat memperkuat kebersamaan warga.
Boyke menyampaikan penjelasan tersebut dalam informasi yang muncul melalui kanal resmi Pemerintah Kota Tangerang pada Senin, 21 September 2026.
Ruwat Bumi Membawa Pesan Kebersamaan
Ketua penyelenggara Fiter Lie menjelaskan makna lain yang menyertai pelaksanaan acara. Panitia menjadikan rasa syukur sebagai salah satu unsur dalam ritual tradisi tahun ini.
Namun, kegiatan tersebut juga membawa pesan sosial. Fiter mengatakan panitia ingin memanfaatkan momentum Ruwat Bumi untuk memperkuat silaturahmi dan menjaga toleransi antarumat beragama.
Selain itu, penyelenggara mengajak masyarakat mempertahankan kearifan lokal agar tradisi tetap hadir di tengah perkembangan kota. Harapan terhadap keselamatan, kedamaian, serta keberkahan bagi Tangerang dan daerah sekitarnya juga menyertai penyelenggaraan acara.
Dengan konsep tersebut, panitia tidak membatasi kegiatan hanya di satu lokasi. Sebagian rangkaian akan bergerak keluar menuju jalan raya melalui pawai budaya.

Arsip suasana gelaran budaya akbar.
Pawai Berangkat dan Kembali ke Jalan Bouraq
Peserta kirab akan memulai perjalanan dari Jalan Bouraq. Selanjutnya, rombongan bergerak menuju TMP Taruna sebelum meneruskan perjalanan melalui Satria Sudirman.
Dari sana, peserta memasuki Dewi Sartika. Perjalanan kemudian berlanjut ke Otto Iskandardinata dan KS Tubun.
Setelah menuntaskan bagian tersebut, rombongan menuju Daan Mogot. Peserta akhirnya kembali ke Bouraq sebagai titik akhir perjalanan.
Sepanjang perjalanan, pawai juga akan membawa unsur pertunjukan seni budaya. Dengan rute yang melewati beberapa ruas kota, masyarakat dapat memperhatikan jalur tersebut sebelum melakukan perjalanan pada hari pelaksanaan.
Petugas Akan Mengatur Kendaraan di Sekitar Lintasan
Pawai di jalan raya membutuhkan penyesuaian arus kendaraan. Karena itu, unsur perhubungan Pemerintah Kota Tangerang akan bekerja sama dengan kepolisian untuk menangani lalu lintas di sekitar lintasan peserta.
Petugas dapat mengarahkan kendaraan menuju jalur lain sesuai kebutuhan di lapangan. Langkah tersebut akan menyesuaikan pergerakan peserta serta kondisi kendaraan selama acara berlangsung.
Bagi masyarakat yang memiliki agenda perjalanan pada 27 September, pilihan jalur alternatif dapat membantu menghindari area yang bersinggungan dengan pawai. Pengendara terutama perlu mencermati kawasan Bouraq dan ruas-ruas yang menjadi bagian perjalanan rombongan.
Masyarakat juga perlu memperhitungkan waktu pelaksanaan. Panitia memulai kegiatan pada pukul 10.00 WIB, sedangkan waktu berakhir akan mengikuti selesainya seluruh rangkaian acara.
Dengan demikian, pengguna kendaraan dapat menyesuaikan jadwal perjalanan dan mengikuti petunjuk petugas ketika melintasi kawasan kegiatan.