Sumatra Utara Genangan air akibat banjir bandang masih menyelimuti permukiman warga Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, hingga Selasa (6/1/2026). Air menutupi kawasan desa selama empat hari berturut-turut setelah hujan deras memicu banjir kembali pada Jumat (2/1/2026). Warga dan aparat desa menghadapi kondisi yang cukup sulit karena aktivitas harian mereka terganggu.

Genangan Terparah di Kawasan Kampung Malako

Kepala Desa Bandar Tarutung, H. Sulhan Sihombing, menjelaskan bahwa genangan terparah terjadi di kawasan Kampung Malako, terutama sekitar SD Negeri Inpres Bandar Tarutung. Kondisi ini terjadi akibat tanggul Sungai Batang Toru yang jebol. “Kedalaman air pagi tadi mencapai selutut orang dewasa. Dampaknya terasa sejak tanggul jebol pada banjir besar 25 November 2025,” ungkap Sulhan.

Selain Batang Toru, luapan Sungai Malombu dan Sungai Sangkunur juga memperburuk situasi. Air yang terus meluap membuat sejumlah wilayah desa sulit diakses, sementara warga harus menempuh jalan berlumpur untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Banjir

Air sisa banjir bandang yang sungkan pergi alias masih bertahan merendam Kampung Malako/SD Inpres Desa Bandar Tarutung, Kecamatan Angkola Sangkunur, Kabupaten Tapanuli Selatan, Selasa (6/1/2025) (ANTARA-Kodir Pohan)

Dampak Banjir terhadap Aktivitas Ekonomi Warga

Kondisi banjir membawa dampak signifikan terhadap sektor ekonomi. Banyak aktivitas ekonomi warga desa mengalami gangguan. Perkebunan sawit yang biasanya siap di panen kini terendam lumpur, sehingga hasil panen menurun. Bahkan sebagian besar kebun tidak dapat diolah selama beberapa hari karena akses jalan menuju perkebunan tertutup air. Kondisi ini juga memengaruhi distribusi hasil panen ke pasar dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi keluarga petani.

Selain itu, akses warga ke sekolah, fasilitas kesehatan, dan pusat perbelanjaan terhambat. Anak-anak dan orang tua harus menyeberangi genangan air untuk beraktivitas sehari-hari. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap kesehatan, karena air banjir bercampur dengan lumpur dan sampah yang terbawa dari hulu sungai.

Upaya Normalisasi Sungai dan Pencegahan Banjir

Bupati Tapanuli Selatan, Gus Irawan Pasaribu, menekankan pentingnya normalisasi Sungai Batang Toru pascabanjir. Ia menyatakan pendangkalan sungai akibat sedimentasi pasir, lumpur, dan tumpukan kayu membuat sejumlah desa di wilayah Angkola Sangkunur rawan kembali tergenang saat hujan turun.

Menurut Bupati, normalisasi sungai dapat menurunkan risiko banjir berulang. Selain itu, penguatan tanggul dan pembuatan saluran tambahan juga diperlukan untuk mengalirkan air ke wilayah aman. Pemerintah daerah bersama warga setempat di harapkan segera melakukan koordinasi untuk mempercepat penanganan dampak banjir dan memulihkan kondisi permukiman.

Perlu Penanganan Terpadu

Kejadian banjir bandang ini menunjukkan bahwa mitigasi risiko bencana di wilayah Tapanuli Selatan masih perlu diperkuat. Bukan hanya pembangunan fisik seperti tanggul dan normalisasi sungai, tetapi juga sistem peringatan dini, kesiapsiagaan warga, dan pemetaan daerah rawan banjir. Warga perlu diberikan informasi dan pelatihan agar mampu menghadapi luapan sungai di musim hujan.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperhatikan aspek lingkungan. Penebangan pohon di hulu sungai, sedimentasi, dan sampah yang menumpuk dapat memperparah aliran air ketika hujan lebat turun. Dengan langkah terpadu, risiko banjir bandang dapat di minimalkan, dan warga desa seperti di Bandar Tarutung dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih aman.

Kesimpulan

Genangan air di Desa Bandar Tarutung hingga kini belum surut sepenuhnya. Banjir berdampak luas pada aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan warga. Normalisasi Sungai Batang Toru menjadi prioritas utama untuk mengurangi risiko banjir berulang. Penanganan terpadu melibatkan pemerintah, warga, dan pihak terkait menjadi langkah penting agar desa lebih siap menghadapi musim hujan dan bencana alam serupa di masa mendatang.